Tuesday, November 19, 2019

You Call It Passion ~Film Korea~

Kini aku ingin membahas film Korea yang dirilis tahun 2015 dengan judul You Call It Passion (열정 같은 소리 하고 있네 - Yeoljung Gateun Sori Hago Itne). Film ini bergenre komedi dan diadaptasi dari novel dengan judul yang sama karya Lee Hye Rin. Kurasa film ini masih ada hubungannya dengan film The Star Next Door, film yang sudah kubahas sebelumnya. Kedua film ini berfokus pada hubungan antara artis dengan media.

Film You Call it Passion ini mengisahkan tentang perjuangan seorang gadis bernama Ra Hee di dunia kerja. Ra Hee sudah berusaha keras untuk melamar kerja di berbagai perusahaan yang disukainya tapi akhirnya malah 'terdampar' di perusahaan portal berita Dongmyung. Ra Hee ditempatkan di bagian hiburan sebagai reporter. Di sini Ra Hee menemukan kenyataan bila ternyata bidang yang digelutinya tak seindah harapannya. 

Para pemain :

Park Bo Young sebagai Do Ra Hee
Jung Jae Young sebagai Ha Jae Kwan
Bae Sung Woo sebagai Han Sun Woo
Ryu Hyun Kyung sebagai Chae Eun
Jin Kyung sebagai CEO Jang
Ryu Deok Hwan sebagai Seo Jin
Yoon Kyun Sang sebagai Woo Ji Han
Oh Dal Su sebagai Direktur Oh
Lee Kyu Hyung sebagai Young Hwa
Son Sung Chan sebagai wakil ketua Choi

Sinopsis lengkap :


Ra Hee adalah seorang gadis muda yang baru masuk kerja di portal berita Dongmyung, dia ditempatkan sebagai pegawai magang di bagian entertainment. Saat acara pengenalan perusahaan, semua terkejut ketika mendengar dan melihat tingkah direktur divisi entertainment yang bernama Jae Kwan. Ra Hee hanya bisa mengacungkan tangannya saat Direktur Oh bertanya tentang seseorang yang akan magang di bagian entertainment. Direktur Oh menatap Ra Hee dengan sorot kasihan dan hal itu membuat nyali Ra Hee kian ciut.


Ra Hee akhirnya masuk ke bagian entertainment tapi tak ada siapaun yang menyapanya. Semuanya cuek dan seolah sibuk. Ra Hee hanya bisa berdiri mematung sambil mengamati semua orang yang ada di ruangan itu terutama bos barunya. Jae kwan menasihati anak buahnya yang baru datang dengan tangan diperban, dia ingin anak buahnya yang bernama Sun Woo menuntut seorang artis yang bernama Woo Ji Han. Tapi Sun Woo tak setuju melapor karena bisa ketahuan bila dirinya merekam artis itu secara ilegal. 


Jae Kwan kesal dan memilih duduk. Dia tak sengaja melihat Ra Hee yang berdiri mematung dan Jae Kwan menegurnya. Ra Hee kaget dan memperkenalkan diri sebagai pemagang sambil menyerahkan surat rekomendasi yang dibawanya. Jae Kwan menerima surat itu sambil mengamati penampilan Ra Hee dan mengeluh bila bagian HR memberikan orang tak berguna padanya karena Ra Hee berpenampilan rapi seperti orang kantoran. Ra Hee hanya diam membisu.


Jae Kwan membaca sekilas surat itu dan menjelaskan tentang gaji yang akan diterima Ra Hee sebagai pemula dan tak ada jatah libur. Semula Ra Hee mengiyakan tapi kemudian dia bertanya untuk memastikan bila dia benar-benar tak mendapat libur. Pertanyaan Ra Hee membuat ruangan mendadak senyap dan Jae Kwan mulai tersulut emosinya. Dia membentak Ra Hee bila tak mau maka Ra Hee bisa pergi karena masih banyak yang mengantri. Jae Kwan mengomel sambil menunjukkan beberapa surat lamaran yang menunggu di mejanya.


Ra Hee mengaku bila dia ingin bekerja. Jae Kwan kembali mengomel melihat Ra Hee yang lemah tanpa semangat. Jae Kwan meminta kesediaan salah satu anak buahnya untuk mengajari Ra Hee tapi mendadak semuanya pura-pura sibuk dan tak mendengar bosnya. Jae Kwan kesal dan meminta Sun Woo untuk mengajari Ra Hee. Jae Kwan mengusirnya untuk pergi ke meja di sebelah Sun Woo. Tapi sebelum pergi, Ra Hee harus berteriak 'semangat' sebanyak 3x. Ra Hee melakukannya dengan lemah dan para seniornya diam-diam menertawakannya.


Ra Hee berjalan pulang dan seorang pria bernama Seo Jin mengejar lalu memeluknya sekilas. Seo Jin adalah pegawai magang yang datang terlambat ketika hari pertama kerja. Rupanya Ra Hee dan Seo Jin sudah saling mengenal. Dan setelah sekian lama tak bertemu kini mereka malah bekerja di tempat yang sama. Mereka saling bercerita sambil menuju ke suatu tempat.


Ra Hee dan teman sesama pegawai magang ternyata sudah janjian untuk berkumpul sambil makan bersama. Mereka mengeluh bila ternyata hanya digaji sedikit tapi harus kerja keras. Yang lain berusaha menghibur bila mereka seharusnya beruntung masih digaji karena ada yang bekerja tanpa digaji. Akhirnya mereka makan sambil saling curhat. Ketika salah seorang dari mereka menawari Ra Hee minum, Seo Jin langsung melarangnya karena Ra Hee tak kuat minum.


Paginya, Jae Kwan tiba duluan di kantor. Dia mendapat kabar bila ada berita terbaru tentang kecelakaan boyband U-Kiss. Sayangnya ketika melihat jadwal, semua anak buahnya sudah punya kegiatan masing-masing dan hanya Ra Hee yang kosong. Ra Hee yang masih tidur terpaksa bangun dan bergegas pergi karena Jae Kwan memintanya pergi ke rumah sakit untuk mendapat kabar tentang kecelakaan U-Kiss.


Ra Hee tiba di rumah sakit dengan nafas terengah-engah. Dia bingung harus melakukan apa. Tiba-tiba ada yang berteriak untuk pergi ke lantai 3. Ra Hee melihat semuanya bergegas pergi dan dia terpaksa ikut dengan naik tangga. Ra Hee kerepotan karena dia memakai sepatu high heels hingga akhirnya terjatuh dan kakinya lecet. Ra Hee tiba di lantai 3 dan semuanya kembali bergerak ketika melihat seorang dokter yang diyakini sebagai dokter yang merawat anggota U-Kiss. Ra Hee masih bingung dan dia kembali terjatuh ketika beberapa wartawan menabraknya.


Ra Hee berusaha mendekati kerumunan itu dan tanpa ragu bergerak maju agar bisa mendapat tempat di depan. Dia mencoba meniru wartawan lainnya yaitu menulis beberapa poin penting ketika mendengar dokter itu menjawab pertanyaan wartawan. Dokter itu mendadak pergi begitu saja karena bingung menghadapi banyaknya pertanyaan dari wartawan yang sangat penasaran itu. Ra Hee mencoba mengirim pesan pada bosnya tapi Jae Kwan malah meneleponnya untuk bertanya apa yang terjadi.


Ra Hee berusaha menjelaskan apa yang didengarnya bahwa salah satu anggota U-Kiss yang bernam Kevin tulang rusuknya patah tapi Jae Kwan tidak puas karena Ra Hee tak tahu tulang rusuk mana yang patah. Jae Kwan mengomel, bila Ra Hee ingin menulis sesuatu maka harus tahu berita itu secara lengkap. Ra Hee mengeluh tak tahu harus bertanya pada siapa karena dokternya sudah pergi. Jae Kwan menyuruh Ra Hee untuk mencari manajer U-Kiss agar bisa bertanya apa yang sebenarnya terjadi. Ra Hee kesal karena bosnya sangat galak dan langsung menutup telepon begitu saja.


Ra Hee ingin berbalik dan dia tak sengaja menabrak seseorang sehingga dia kembali terjatuh. Ra Hee hanya bisa mengeluh dan dia kaget ketika melihat orang yang ditabraknya adalah Chae Eun. Chae Eun membantunya berdiri dan dia tak bisa berhenti tertawa ketika melihat tanda pengenal Ra Hee. Rupanya dulu Chae Eun pernah bekerja di Dongmyung sebagai anak buah Jae Kwan dan kini dia penasaran tentang mantan bosnya itu. Ra Hee mengiyakan bila Jae Kwan masih tetap galak seperti anjing yang terus menyalak. 


Chae Eun bertanya tentang keperluan Ra Hee di rumah sakit dan Ra Hee ingin menjelaskan tapi Chae Eun langsung paham. Chae Eun yakin bila Ra Hee bertugas mencari kabar tentang kecelakaan yang menimpa U-Kiss dan Ra Hee mengiyakan. Chae Eun membantu Ra Hee dengan menunjukkan seorang pria sebagai manajernya Kevin. Ra Hee berterima kasih dan mereka akhirnya berpisah. Chae Eun mengingatkan bila Ra Hee berhutang minum padanya dan Ra Hee mengiyakan.


Ra Hee mendekati manajer Kevin yang sedang menelepon. Ra Hee bertanya tentang tulang rusuk Kevin yang patah dan si manajer juga belum tahu tapi pihak rumah sakit akan melakukan x-ray pada Kevin. Ra Hee puas dengan jawaban itu dan si manajer buru-buru pergi. Ra Hee mengirim sms pada Jae Kwan dan Jae Kwan yang sedang memotong kuku kakinya kian kesal karena Ra Hee hanya mendapat kabar setengah-setengah. Dia membentak Ra Hee agar mencari si manajer Kevin dan bertanya dengan lebih detail. Ra Hee terpaksa menurut.


Ra Hee mencari dan menemukan si manajer sedang dirawat seorang suster karena tangannya terluka. Ra Hee mendesak tentang berapa kali Kevin harus menjalani x-ray. Si manajer mengatakan apa yang diketahuinya dan menambahkan bila besok Kevin akan menjalani CT-Scan. Ra Hee langsung pergi dan mengabari bosnya tapi Jae Kwan kembali sewot karena Ra Hee tak sekalian bertanya bagian tubuh mana yang akan di CT-Scan. Jae Kwan hanya bisa mengomeli dirinya sendiri karena telah mengirim Ra Hee. Ra Hee memilih pergi ke cafe untuk membeli makanan dan mengobati kakinya yang lecet. 


Jae Kwan kesal melihat seorang anak buahnya yang bernama Young Hwa tertawa sambil nonton tv. Dia mendekat dan bertanya apa yang terjadi, Young Hwa tertawa sambil menunjuk Ra Hee yang makan dengan lahap tanpa menyadari bila dirinya tertangkap kamera. Jae Kwan langsung menelepon Ra Hee dan menyindirnya. Ra Hee jelas kaget dan dia baru menyadari bila dirinya terekam kamera. Jae Kwan memerintahkan agar dirinya segera pergi. Ra Hee berjalan mengendap-endap dan hampir saja dijadikan narasumber oleh reporter yang sedang tampil live itu.


Jae Kwan masih saja mengomel dan Ra Hee balik mengeluh bila dia belum makan seharian dan dia juga sudah melakukan apa yang disuruh. Ra Hee ingin setidaknya Jae Kwan memuji usahanya tapi Jae Kwan masih mengomel dan mengancam bila besok Ra Hee tak perlu kerja lagi. Ra Hee mengira Jae Kwan sudah menutup teleponnya sehingga dia tak sungkan untuk balik mengomeli bosnya. Jae Kwan kembali kesal melihat keberanian Ra Hee sedang para anak buah malah diam-diam tertawa karena ada yang berani melawan bos mereka.


Ra Hee akhirnya pulang dengan langkah gontai dan dia kian lemas ketika ibunya menelepon. Ibu merasa bangga bisa melihat putrinya muncul di tv walaupun itu sebuah insiden. Ra Hee mengeluh bila dia tak cocok dengan pekerjaan seperti ini. Ibu tak mau tahu dan ingin memastikan bila mulai bulan ini Ra Hee harus membayar uang sewa sendiri. Ra Hee ingin protes tapi ibunya beralasan ayah ingin disiapkan makan makanya ibu menutup teleponnya. 


Paginya, Ra Hee tiba di kantor dan dia mengintip untuk memeriksa situasi ruangan. Dia memutuskan untuk berlari menuju mejanya dan langsung duduk, Ra Hee merasa aman karena tak ada yang menyadari kehadirannya. Tapi Ra Hee mendadak kaget dan langsung berdiri sambil memegangi dadanya ketika Sun Woo muncul dari bawah meja dengan alasan mencari lem. Ra Hee masih berdiri ketika Jae Kwan muncul. Dia agak menyindiri dan tersenyum samar melihat penampilan Ra Hee yang kini berbaju santai dan bersepatu kets. Ra Hee hanya bisa tersenyum malu.

Jae Kwan meminta Sun Woo untuk pergi ke briefing film Woo Ji Han tapi Sun Woo enggan dengan berbagai alasan diantaranya sudah banyak yang mengenalinya sehingga dirinya tak bisa menyamar lagi. Jae Kwan menyerahkan tugas itu pada Ra Hee. Jae Kwan berpesan agar Ra Hee mencari sesuatu untuk menjelekkan artis itu. Ra Hee tak paham dan Jae Kwan beralasan bila Ra Hee orang baru sehingga tak akan ada yang mengenalinya.

Ra Hee kembali bertanya tentang apa yang bisa dijadikan bahan untuk menjelekkannya. Jae Kwan memberi contoh tentang sikap atau kesombongan artis itu, dia juga menambahkan tentang aktingnya yang jelek. Ra Hee membantah bila mereka tak syuting ketika melakukan briefing. Jae Kwan bertanya pada yang lain tentang trailer filmnya dan seorang rekan wanita bernama Mun Kyung In mengatakan bila mereka akan memutar trailernya saat briefing. Ra Hee kembali membantah tentang keinginan menjelekkan akting Woo Ji Han bila hanya berdasarkan trailer film saja.

Jae Kwan agak kesal karena Ra Hee terus membantahnya, dia minta bantuan Sun Woo untuk menjelaskan pada Ra Hee. Sun Woo terpaksa menjelaskan bila peluncuran trailer film itu diharapkan agar perhatian masyarakat bisa kembali tercurah pada akting Woo Ji Han. Ra Hee masih tak paham dan kembali membantah. Kali ini Jae Kwan menegur Sun Woo karena tak bisa mengajari Ra Hee. Sun Woo menutupi wajahnya melihat Ra Hee yang keras kepala. Dia segera berdiri dan menarik ujung baju Ra Hee agar segera pergi sebelum Jae Kwan kian marah.

Sun Woo mengajak Ra Hee ke atap gedung. Sun Woo mencoba menasihati Ra Hee agar tak terlalu idealis. Ra Hee tak tahu apapun jadi bila dia membuka mulut maka itu akan menjadi masalah. Sun Woo melarang Ra Hee untuk memikirkan, merasakan atau mengeluh tentang apapun. Sun Woo mengatakan bila semua itu akan datang pada waktunya bila Ra Hee memang pantas mendapatkannya. Dia mengancam agar Ra Hee tak lagi membantah atasan, Ra Hee tak boleh memperlihatkan perasaannya. Ra Hee hanya bisa diam menunduk.

Ra Hee sedang mencari artikel tentang kemungkinan pekerja magang bisa berhenti bekerja ketika Jae Kwan muncul dan bertanya pada anak buahnya tentang siapa yang bisa mewawancarai aktor Kim Woo Bin besok. Tapi seseorang yang diharapkan ternyata tak bisa karena besok cuti dan Jae Kwan bertanya tentang Sun Woo. Seseorang menjawab bila Sun Woo pergi ke acara Woo Ji Han dan Jae Kwan senang mendengarnya. Ra Hee tersenyum sendiri dan dia memberanikan diri mengacungkan tangan tapi Jae Kwan malah menyindir dan bertanya apakah Ra Hee ingin menguji kesabarannya. Akhirnya Jae Kwan mengutus Ha Ji Eun untuk pergi.  

Jae Kwan sedang berjalan di koridor kantor bersama Ha Ji Eun. Jae meminta wanita itu untuk mewawancarai boyband baru bernama Romio sambil menyodorkan CD boyband itu. Jae Kwan menegaskan bila harus dikerjakan dengan baik karena ini perintah atasan dan wanita itu mengiyakan. Jae Kwan berjalan menjauh dan Ha Ji Eun memanggil Ra Hee. Ra Hee berlari mendekati wanita itu dan hal itu tak luput dari pandangan Jae Kwan tapi dia diam saja. Ha Ji Eun meminta Ra Hee mewawancarai Romio karena dia enggan mewawancarai boyband baru.

Akhirnya Ra Hee yang mewawancarai Romio. Dia sangat tertarik dan antusias ketika seorang anggota Romio mengeluh dan curhat tentang hal-hal yang sensitif terutama tentang bos mereka dan kebijakan perusahaan yang menaungi mereka. Pemuda itu menegaskan bila mereka hanya ingin curhat dan Ra Hee tak boleh menulisnya. Ra Hee tersenyum mengiyakan tapi tangannya dengan lincah menulis apapun yang didengarnya. 

Ra Hee berkumpul dengan teman-temannya para pegawai magang. Mereka bergantian curhat tentang hal-hal yang tidak mereka duga sebelumnya setelah bekerja di perusahaan ini. Ra Hee agak kesal setelah mendengar curahat mereka tapi mereka tak bisa berbuat banyak bila masih ingin tetap bekerja.

Ra Hee sedang ada di meja Jae Kwan ketika mendengar telepon berbunyi dan dia mengangkatnya. Seseorang di seberang tampak kesal dan marah, pria itu ingin berbicara dengan Jae Kwan. Ra Hee mengatakan bila bosnya tak ada tapi pria itu tetap kesal. Muncul niat iseng Ra Hee untuk menggodanya tapi dia langsung bersembunyi di bawah meja ketika mendengar Direktur Oh mengomel sambil bertanya siapa yang tadi mengangkat teleponnya.

Jae Kwan sedang berdiskusi dengan Direktur Oh. Jae Kwan senang dengan hasil wawancara Ra Hee dengan Romio tapi Direktur Oh bersikap sebaliknya karena Ra Hee terlalu berani. Direktur Oh mengingatkan bila bos Romio adalah keponakan bos Jodong. Jae Kwan cuek mendengarnya. Direktur Oh menambahkan bila mereka sudah memberi banyak iklan untuk perusahaan ini. Direktur Oh ingin artikel itu diperbaiki dan Ra Hee harus dipecat.

Jae Kwan tak suka dengan keputusan itu tapi Direktur Oh beralasan bila bos mereka sudah mendengar hal ini dan seseorang harus dikorbankan yaitu Ra Hee. Jae Kwan tetap tak setuju bila Ra Hee dipecat gara-gara satu artikel. Direktur Oh bersikeras dan Jae Kwan balik mengancam bila dirinya saja yang dipecat. Direktur Oh melunak dan mencoba membujuknya dengan mengatakan bila dirinya hanya bercanda. Jae Kwan masih sedikit kesal dan memilih pergi. Direktur Oh menghentikan langkahnya dan bertanya siapa yang berani mengangkat teleponnya tadi. Jae Kwan tak menjawab tapi dia tahu siapa orangnya.

Jae Kwan kini sudah bersama Sun Woo dan Ha Ji Eun. Jae Kwan sedang menegur wanita itu ketika Ra Hee datang. Ra Hee minta maaf dan kini Jae kwan melirik ke arahnya. Jae Kwan bertanya apakah Ra Hee yang mengangkat telepon dari Direktur Oh dan Ra Hee mengiyakan. Jae Kwan kembali bertanya apakah Ra Hee pernah menyapa seniornya dan Ra Hee mengiyakan. Jae Kwan masih tak puas dan bertanya apakah Ra Hee pernah menyapa senior dari bagian lain?

Ra Hee menjawab bila dia sering bertemu dengan banyak orang dan apakah dirinya harus menyapa mereka semua? Ketiga orang itu kaget mendengar apa yang dikatakan Ra Hee. Sun Woo tak bisa berkata-kata dan hanya menunjuknya, Jae Kwan menoleh ke arah Sun Woo dan menegurnya. Kini Jae Kwan mengajak Ra Hee masuk ruangan dan harus menyapa semua yang ada di ruangan itu. Ra Hee terpaksa melakukannya, menyapa semua seniornya. Sun Woo hanya diam sambil melihat tapi Mun Kyung In membalas sapaannya dengan ramah.

Malamnya, semua pegawai berkumpul untuk makan dan minum bersama. Direktur Oh datang terlambat dan langsung duduk di samping Jae Kwan. Teman Ra Hee ingin mengatakan sesuatu tapi Direktur Oh memotongnya dengan minta maaf karena tadi pagi dirinya sedikit keterlaluan. Jae kwan penasaran dan Direktur Oh mengaku bila wanita itu menulis berita yang agak aneh sehingga dirinya berusaha menyemangati dengan menepuknya. Wanita itu agak kesal dan kembali duduk.


Suasana menjadi agak tegang dan Seo Jin diam-diam memberi kode pada Ra Hee agar diam saja. Sun Woo melirik dan bertanya pada Ra Hee. Ra Hee terpaksa berbohong dan Sun Woo lega mendengarnya, dia tak ragu untuk menuangkan minum untuknya. Ra Hee tak bisa menolak dan Seo Jin tak bisa mencegahnya. Akhirnya Ra Hee mabuk dan Seo Jin terpaksa mengantarnya pulang.


Paginya Ra Hee terbangun dan dia kaget melihat Seo Jin tidur di kasurnya. Ra Hee membangunkannya dan Seo Jin beralasan bila Ra Hee yang memintanya tinggal. Wajah Ra Hee sedikit pucat dan dia bertanya apakah semalam mereka melakukan sesuatu. Seo Jin tersenyum dan mengaku tak menyentuh gadis yang mabuk. Ra Hee menegaskan bila apapun yang terjadi semalam maka tak terjadi. Seo Jin agak kecewa karena semalam Ra Hee meminta agar mereka pacaran. Ra Hee sedikit tersenyum dan mengatakan bila hal itu tak perlu dilupakan sambil kembali berbaring bersama Seo Jin.


Hari itu Ra Hee berusaha membuat artikel tapi selalu saja ditolak oleh Jae Kwan. Dia berkali-kali mengedit tulisannya tapi Jae Kwan tetap menolak sambil merobek-robek artikelnya, pria itu terus berteriak memaki hingga tenggorokannya sakit. Jae Kwan ingin Ra Hee menulis lagi dan tak perlu kembali padanya.


Hari itu terasa sangat berat. Malamnya Ra Hee harus berdesakan dalam bus. Dia tersenyum senang ketika mendapat sms tentang masuknya gaji dari perusahaan tapi senyumnya langsung sirna karena gajinya tak cukup menutupi biaya bulanannya justru malah kurang. Ra Hee hanya bisa berdiri lemas di dalam bus.


Suatu hari, mereka mendapat kabar bila Woo Ji Han diserang di dekat rumahnya dan sekarang dirawat di rumah sakit. Jae Kwan berdiskusi dengan Sun Woo dan Sun Woo berpendapat bila itu hanya sensasi karena Woo Ji Han ingin rehat. Sun Woo merasa ada yang aneh karena Woo Ji Han tak mungkin bisa diserang bila dijaga dengan seketat biasanya. Ha Ji Eun bisa melacak lokasi rumah sakit tempat Woo Ji Han menginap. Jae Kwan meminta Sun Woo segera pergi tapi sayangnya Sun Woo sudah ada janji. 


Begitu pula dengan rekan yang lain semuanya buru-buru pergi dengan berbagai alasan dan tak perduli dengan teriakan bosnya. Jae Kwan menatap Ra Hee yang masih tinggal dengan sorot ragu tapi tak punya pilihan lain. Dia bertanya apakah Ra Hee mau melakukan sesuatu dan Ra Hee beralasan bila dirinya masih harus mengedit. Tapi akhirnya Ra Hee menurut dan pergi ke rumah sakit.


Ra Hee berusaha mendekati kerumunan orang yang berdiri di depan pintu masuk rumah sakit dan dia bertemu dengan Chae Eun. Chae Eun mengajaknya menjauh dari kerumunan. Mereka memilih duduk sambil ngopi. Chae Eun tak keberatan menjelaskan tentang Woo Ji Han karena dia sudah mengikuti artis itu sejak setahun yang lalu. Tiba-tiba Chae Eun punya ide dan dia meminta rekannya untuk melindas kakinya dengan mobil agar punya alasan dirawat di rumah sakit dan memantau Woo Ji Han. 


Ra Hee pesimis melihat cara Chae Eun yang menurutnya agak berlebihan tapi Chae Eun beralasan bila berita eksklusif akan membuat mereka dipromosikan. Chae Eun memberi aba-aba agar rekannya segera melindas kakinya dan pria itu terpaksa menurut. Chae Eun menjerit kesakitan dan akhirnya berhasil dirawat ke rumah sakit yang sama dengan Woo Ji Han.


Ra Hee berdiri disisi Chae Eun yang kini berjalan sambil menggunakan alat bantu. Chae Eun meminta Ra Hee untuk menyembunyikan tanda pengenalnya dan mereka kembali mencari keberadaan Woo Ji Han. Chae Eun mengeluh setelah menemukan kamar artis itu karena ada 2 orang penjaga di depan pintu dan sialnya Chae Eun mengenali mereka. Ra Hee sedikit panik dan mengira rencana mereka gagal tapi Chae Eun masih punya rencana lain.


Chae Eun sengaja berulah agar kedua penjaga itu memperhatikannya dan di saat mereka lengah maka Ra Hee harus menyelinap masuk ke kamar Woo Ji Han. Ra Hee takut setengah mati ketika Chae Eun memberi kode padanya agar segera masuk. Ra Hee memberanikan diri dan berlari sekencangnya menuju kamar Woo Ji Han.

Ra Hee membuka pintu dan masuk. Dia melirik kasur yang kosong dan mendapati Woo Ji Han sedang berdiri menatap jendela. Ra Hee sengaja mengetuk dan pria itu sedikit menoleh. Ra Hee berjalan mendekat sambil mengatakan bila pria itu lebih kurus daripada dugaannya. Woo Ji Han berbalik dan bertanya tentang siapa dirinya. Ra Hee mendekati Woo Ji Han dan menjelaskan bila dirinya adalah wartawan sambil mencari kartu namanya di dalam tas.


Pria itu penasaran mengapa Ra Hee bisa masuk ke kamarnya dan Ra Hee tersenyum sambil mengaku bila keamanannya sangat ketat sehingga dirinya hampir mati. Ra Hee menyodorkan kartu namanya dan memotret pria itu beberapa kali. Woo Ji Han agak marah dan meremas kartu namanya. 


Ra Hee ingin tahu yang sebenarnya tapi pria itu hanya diam, Ra Hee bertanya apakah dia bisa menggunakan foto yang baru diambilnya? Woo Ji Han ingin merebut ponselnya tapi Ra Hee bisa berkelit. Woo Ji Han menghela nafas kesal. Ra Hee tersenyum dan langsung duduk untuk bersiap melakukan wawancara.


Tiba-tiba terdengar suara seorang wanita yang sedang mengomel. Ra Hee kaget dan Woo Ji Han seolah tak suka mendengar suara wanita itu. Dia menarik tangan Ra Hee agar bersembunyi di balik korden. Seorang wanita setengah baya berpenampilan modis masuk dan mengomeli Woo Ji Han. Wanita itu bernama Jang Yu Jin, dia adalah bosnya Woo Ji Han. Wanita itu kesal karena Wo Ji Han selalu berulah dan membuatnya repot. Wanita itu menyarankan agar Woo Ji Han pergi ke Amerika dan mereka akan bicara lagi. 


Setelah bosnya pergi, Woo Ji Han memanggil Ra Hee agar keluar dari persembunyiannya. Akhirnya Woo Ji Han keluar dari rumah sakit dan dia hanya diam saja sementara bosnya yang memberikan pernyataan dihadapan para wartawan yang sudah menunggu mereka. Di dalam taksi, Ra Hee sedikit galau dan dia membuka kembali ponselnya. Kini dia mendapat sesuatu yang diinginkan semua wartawan yaitu berita eksklusif tapi dia masih bimbang.


Ra Hee kembali ke kantor dan Jae Kwan langsung ingin tahu hasil kerjanya. Ra Hee mengaku bila dia tak mendapat banyak dan Jae Kwan sedikit kecewa. Dia bertanya pada yang lain dan seorang pria menjawab bila para wartawan lebih fokus pada rencana kepergian Woo Ji Han ke Amerika. Jae Kwan kesal karena menduga bila itu hanya pengalihan isu, dia yakin bila Jang Yu Jin (bosnya Woo Ji Han) menyembunyikan sesuatu. 


Kini Jae Kwan ganti mengomeli Sun Woo karena tak mau pergi sehingga dia terpaksa mengirim Ra Hee yang tak berpengalaman. Gara-gara Sun Woo maka dia gagal mendapatkan berita eksklusif. Sun Woo hanya bisa minta maaf sedangkan Ra Hee hanya diam. Jae Kwan berpesan pada Sun Woo agar Ra Hee tak perlu menulis apapun mulai sekarang. Sun Woo hanya diam ketika Jae Kwan menyesali keberadaan Ra Hee dalam timnya. 


Diam-diam Ra Hee merasa sakit hati dan dia protes pada Sun Woo karena Jae kwan dengan mudahnya mengomeli dirinya di depan semua orang. Ra Hee merasa bila bosnya itu sedikit aneh tapi Sun Woo meralatnya dengan mengatakan bila bos mereka memang aneh dan kian aneh setiap harinya. Ra Hee senang karena Sun Woo sependapat dengannya. Tapi Sun Woo mengingatkan bila divisi mereka masih tetap ada juga berkat Jae Kwan. Ra Hee tak mengerti. 


Sun Woo menjelaskan bila tabloid bebas dan internet selalu diisi dengan gosip selebriti sehingga beberapa kali divisi ini hampir dihapus tapi Jae Kwan berhasil menyelamatkannya walaupun dengan menggunakan cara kotor. Sun Woo menambahkan walaupun Jae Kwan sering dikutuk seperti setan atau dianggap sebagai orang aneh tapi bosnya memiliki pendirian. Ra Hee tak paham. Sun Woo menegaskan bila bosnya berusaha sekuat tenaga untuk tetap memberikan pekerjaan bagi anak buahnya agar tidak dipecat dan menjadi pengangguran. Ra Hee masih sedikit kesal ketika Sun Woo pergi sambil mengingatkan bila apa yang dilakukan Jae Kwan itu tidak mudah.


Jae Kwan dan Direktur Oh pergi makan di kedai pinggir jalan. Direktur Oh curhat bila sudah lama bos mereka tak pernah mengomel tapi sekarang mengomel karena bulan ini kehilangan 2 iklan. Jae Kwan menanggapi hal itu dengan santai tapi Direktur Oh merajuk dan ingin agar Jae Kwan memberinya berita eksklusif. Jae Kwan berdalih bila berita eksklusif tak jatuh dari langit. Direktur Oh tak menyerah dan mengatakan bila di divisi lain harus menulis berita berdasarkan fakta maka divisi Jae Kwan berbeda.


Jae Kwan tak setuju karena divisinya juga menulis berdasarkan fakta bukan cerita fiksi. Direktur Oh terus mendesak sambil mengatakan bila dia ingin Jae Kwan memberinya fakta yang mengejutkan agar bos mereka senang. Jae Kwan tak senang karena bos selalu meremehkan divisinya. Tiba-tiba Jae Kwan batuk dan Direktur Oh menepuk bahunya sambil mengingatkan agar Jae Kwan berhenti minum.


Ra Hee sedang galau di depan laptopnya. Dia memandangi foto Woo Ji Han bersama seorang artis wanita berinisial AHN. Tak sengaja dia menghela nafas. Seo Jin yang sedang membersihkan kameranya menjadi heran dan bertanya apa yang terjadi. Ra Hee mengeluh bila dia tetap menyimpan foto ini maka dia akan kehilangan berita eksklusif tapi bila dia mempublikasikannya maka dia takut AHN akan tersakiti.


Ra Hee minta pendapat Seo Jin yang berjalan mendekatinya. Seo Jin memandang foto itu dan menepuk bahu Ra Hee, dia tak tahu apa yang akan terjadi tapi dia yakin bila komentar mengerikan akan muncul setelah Ra Hee mempublikasikan foto itu. Ra Hee kian galau dan malamnya dia mendapat mimpi buruk. Dia merasa Jae Kwan masih terus mengomelinya walaupun dalam mimpi dan hal itu membuat Ra Hee terbangun karena kaget. Ra Hee memutuskan untuk melakukan sesuatu dan duduk di depan laptopnya.


Besoknya, Ra Hee memberanikan diri menunjukkan foto Woo Ji Han bersama artis berinisial AHN kepada Sun Woo. Sun Woo yang sedang bekerja langsung menoleh dan melihat ketiga lembar foto syur itu. Pria itu sedikit kaget dan bertanya bagaimana Ra Hee bisa mendapatkan foto itu. Ra Hee tak menjawabnya, dia justru bertanya tentang apa yang harus dilakukannya dengan ketiga foto itu. Sun Woo menjawab singkat bila semua terserah pada Ra Hee lalu kembali bekerja.


Kini Ra Hee menunjukkan foto itu pada rekan yang lain dan mereka sangat antusias kecuali Ha Ji Eun yang menunjukkan muka masam dan bibirnya cemberut. Ra Hee bertanya pendapat mereka tentang kemungkinan reaksi AHN bila mereka mempublikasikannya. Ha Ji Eun meledek Ra Hee karena menghawatirkan hal itu. Ha Ji Eun sedikit kesal melihat keberuntungan Ra Hee, dia menjelaskan bila kini AHN tak terlalu dibicarakan setelah 2 film terakhirnya gagal di pasaran. Ha Ji Eun langsung pergi setelah mengatakan hal itu.


Bila reaksi Ha Ji Eun sedikit ketus maka reaksi Mun Kyung In berbeda dan membuat Ra Hee lega. Mun Kyung In mengatakan bila mereka mempublikasikan foto ini dan AHN mendapat peringkat teratas di mesin pencarian maka mereka pasti akan merayakannya. Dalam hal ini tak akan ada yang dirugikan karena menguntungkan bagi semua pihak. Komentar menyenangkan dari seniornya itu membuat Ra Hee mantap untuk mempublikasikan foto itu.


Jae Kwan yang baru datang heran melihat anak buahnya yang tampak serius membicarakan sesuatu. Dia penasaran dan seseorang mengatakan bila Ra Hee membawa sedikit ikan. Jae Kwan bertanya seberapa besar ikannya dan dijawab Jae Kwan harus melihatnya sendiri. Pria itu menyerahkan foto pada Jae Kwan dan Jae Kwan melihat foto itu sambil menatap tajam ke arah Ra Hee. Ra Hee menjadi salah tingkah dan menunduk.


Jae Kwan tetap menunjukkan wajah dinginnya sambil mengembalikan foto itu. Dia seolah tak percaya bila kedua artis itu berhubungan dan minta pendapat dari yang lain tentang foto itu. Ada yang mengatakan bila dirinya tak percaya bila Woo Ji Han menjalin hubungan dengan AHN. Jae Kwan langsung memukul pria itu sambil menyindir bila tak ada yang minta pendapatnya. Jae Kwan berjalan menuju meja kerjanya sambil bertanya apakah belum ada yang mempublikasikan hal itu dan Sun Woo menjawab belum.


Jae Kwan kembali bertanya apakah Sun Woo tak tahu tentang hal ini dan Sun Woo mengakui bila dia tak mengetahuinya. Jae Kwan kini malah mengomeli Sun Woo yang tak bisa mengetahuinya. Sun Woo hanya bisa tersenyum masam saat diomelin bosnya sedangkan Ra Hee merasa tak suka dengan sikap Jae Kwan yang suka mengomel seenaknya di depan semua orang. 


Jae Kwan masih mengomel dan pura-pura menjatuhkan spidolnya tapi itu hanya trik saja. Saat di bawah meja, pria itu mengepalkan kedua tangannya sambil memekik senang tanda kemenangan. Semuanya penasaran melihat tingkah bosnya tapi Jae Kwan berusaha menutupi rasa senangnya dengan membentak mereka agar kembali bekerja karena mereka tak punya banyak waktu. Mereka akhirnya kembali bekerja untuk mempublikasikan berita itu.


Seo Jin yang sedang melakukan pemotretan langsung berhenti karena mendengar ponselnya berbunyi. Dia minta waktu pada model wanita yang sedang dipotretnya dan wanita itu setuju memberinya satu menit. Ternyata Ra Hee yang meneleponnya, dia ingin Seo Jin membuka situs naver dan pria itu menurut. Rupanya Ra Hee ingin menunjukkan bila dia akhirnya mempublikasikan foto itu. Seo Jin kurang suka tapi Ra Hee beralasan bila ini adalah berita eksklusifnya yang pertama.


Ra Hee merayakan berita eksklusifnya bersama rekan setimnya. Mereka senang dengan hasil kerja Ra Hee tapi Sun Woo tampak tak suka karena sudah lama dia mengejar Woo Ji Han tapi justru Ra Hee yang mendapatkan berita eksklusif padahal masih berstatus pegawai magang. Ra Hee tak mengerti mengapa Jae Kwan sangat membenci Woo Ji Han dan mereka tak keberatan menjelaskan apapun yang tak dipahami oleh Ra Hee.


Kini Ra Hee bisa sedikit paham mengapa Jae Kwan sangat membenci Woo Ji Han tapi dia masih tak mengerti mengapa Woo Ji Han tak akur dengan Jang Yu Jin. Wakil bos kini yang tak mengerti dengan apa yang dikatakan Ra Hee karena menurut sepengetahuannya, Woo Ji Han adalah anak emasnya Jang Yu Jin. Ra Hee membantahnya tapi dia langsung berhenti mengatakan sesuatu yang membuat mereka curiga padanya. Semuanya tak membahasnya lago tapi Sun Woo menatap Ra Hee seolah dia tahu bila wanita itu menyembunyikan sesuatu.


Jae Kwan sedang menerima telepon dari Jang Yu Jin. Yu Jin ingin mengajak bertemu tapi Jae Kwan sok jual mahal tapi akhirnya setuju. Sun Woo penasaran dan Jae Kwan mengatakan bila hanya tinggal menunggu waktu bila Yu Jin untuk bertekuk lutut. Jae Kwan bertanya pada Ra Hee apakah pekerjaannya sudah selesai dan gadis itu menjawab bila masih harus memeriksa beberapa artikel. Jae Kwan bertanya pada Sun Woo tentang hal yang sama dan Sun Woo antusias menjawab bila dirinya sudah selesai sambil mematikan laptopnya. 


Dengan nada tanpa perasaan, Jae kwan menugaskan Sun Woo agar meneruskan pekerjaan Ra Hee. Sun Woo yang sudah berdiri sambil menenteng tasnya menjadi kaget, begitu pula dengan rekan yang lain. Mereka memandangi kepergian Jae Kwan dengan sorot penasaran sedangkan Sun Woo terpaksa duduk kembali dengan wajah sedikit malu dan menahan kesal. Sun Woo duduk sejenak dan akhirnya memilih pergi. Ra Hee menjadi tidak enak dengan hal ini.


Kini Ra Hee duduk semobil dengan Jae Kwan menuju tempat janjian dengan Yu Jin. Jae Kwan menyetir sambil menelepon. Ra Hee pensaran dan bertanya. Jae Kwan tak keberatan untuk menjelaskan bila anak istrinya tinggal sementara di Australia untuk belajar Bahasa Inggris tapi kini mereka malah ingin menetap di sana. Ra Hee hanya diam dan Jae Kwan menasihatinya agar mempertahankan kerjanya. Ra Hee tersenyum mendengar nasihat itu.

Mereka tiba di restoran dan Yu Jin tak segan menuang minuman untuk mereka sebagai tanda permintaan maaf. Yu Jin memuji artikelnya tapi Ra Hee malah minta maaf dan hal itu membuat Jae Kwan kesal. Dia terang-terangan mengomeli Ra Hee dengan mengatakan bila tak perlu minta maaf karena status mereka adalah wartawan dan Ra Hee tak salah. Jae Kwan menatap Yu Jin dan bertanya apakah semuanya baik-baik saja dan Yu Jin mengiyakan.

Jae Kwan bertanya tentang Woo Ji Han dan Yu Jin mengatakan bila Woo Ji Han mungkin baru kembali 2 bulan lagi karena masih harus syuting. Jae Kwan ingin mewawancarai artis itu bila sudah kembali dan Yu Jin menyetujuinya. Ra Hee hanya diam saja dan Yu Jin memberi kode pada pria yang duduk disampingnya. Pria itu menyerahkan sebuah kotak besar pada Jae Kwan. Jae Kwan kaget dan Yu Jin berharap agar Jae Kwan menyukainya. Ra Hee sedikit penasaran tapi langsung membuang muka ketika Jae Kwan meliriknya. 

Ternyata kotak itu berisi ginseng liar yang sangat berkhasiat. Yu Jin menjamin bila istri Jae Kwan pasti menyukainya. Jae Kwan tak percaya, dia mencoba mematahkan ginseng itu dan mencicipinya. Dengan nada bercanda Jae Kwan mengatakan bila ginseng ini ampuh karena dia merasa hidup lagi. Jae Kwan ingin Ra Hee mencobanya tapi gadis itu menolak.

Saat pulang, Jae Kwan agak mabuk dan Yu Jin tak segan memapahnya. Jae Kwan berjanji akan mengurus semuanya dan mereka akhirnya saling berjanji. Jae Kwan memerintahkan agar Ra Hee menulis artikel yang bagus tentang Woo Ji Han dan Ra Hee menyanggupinya. Jae Kwan mengancam agar Ra Hee mengerjakannya dalam waktu singkat agar Yu Jin senang. Jae Kwan tersandung dan tak sengaja menjatuhkan kotak ginsengnya hingga isinya berhamburan. 

Ternyata kotak itu tak hanya berisi ginseng tapi juga beberapa emas berbentuk kodok. Ra Hee agak bingung ketika Yu Jin melirik tajam kearahnya. Ra Hee segera berlari memungut sebuah kodok emas yang jatuh agak jauh dan mengembalikan pada Jae Kwan tapi pria itu ingin Ra Hee menyimpannya. Yu Jin segera mengajak Jae Kwan pergi dan Ra Hee masih bingung dengan apa yang terjadi. Bukannya Yu Jin membenci bosnya tapi mengapa kini Yu Jin sangat royal pada bosnya hingga memberi hadiah yang sangat mahal? Apakah Yu Jin sedang berusaha menyuap Jae Kwan?

Dua orang teman magang Ra Hee sedang berdebat. Pria yang magang di divisi olahraga merasa kesal dan tak kuat karena harus menulis artikel setiap pemain mencetak angka, iya kalau sepak bola tapi ini adalah basket. Pria itu tak sanggup menulis 7 artikel dalam 5 menit. Si wanita tetap tak setuju bila pria itu berhenti tapi pria itu sudah mantap ingin keluar. Ra Hee, Seo Jin dan seorang rekan yang baru masuk menjadi agak kecewa mendengar keputusan itu.

Bos besar tiba-tiba datang ditemani oleh Direktur Oh dan asistennya. Jae Kwan menyapanya dengan nada hormat. Bos besar menyindir penampilannya yang kusut sehingga berniat membelikannya pisau cukur. Jae Kwan tertawa malu dan mengatakan bila bos besar tak perlu memikirkan dirinya. Bos besar tertawa dan pergi untuk kembali berkeliling. 


Ketika naik tangga mereka berpapasan dengan Ra Hee yang turun dengan tergesa sambil minta maaf. Bos besar agak kesal dan bertanya tentang Ra Hee pada Direktur Oh. Direktur Oh menjelaskan bila Ra Hee adalah pegawai magang dan merupakan anak buah Jae Kwan. Bos besar ingin agar Ra Hee dipecat tapi Direktur Oh melarang karena Ra Hee adalah orang yang menulis berita eksklusif tentang Woo Ji Han dan AHN.


Kini Ra Hee sudah berada di kantor bersama bos besar dan Direktur Oh. Bos besar memuji hasil kerja Raa Hee tapi gadis itu merendah dengan mengatakan bila dirinya hanya beruntung saja. Bos besar senang dan kagum dengan sikap rendah hati Ra Hee. Beliau memutuskan untuk melakukan sebuah perubahan. Ra Hee tak paham tapi Direktur Oh seolah tahu apa yang akan terjadi dan wajahnya sedikit pucat.


Malamnya Direktur Oh kembali minum bersama Jae Kwan. Jae Kwan tak mengerti jalan pikiran bos besar, mengapa lebih memilih pekerja magang dan memecat pegawai yang loyal? Direktur Oh mencoba menjelaskan bila pegawai muda bekerja seperti setan tapi bersedia digaji sedikit sedangkan orang seperti mereka berdua tak melakukan banyak hal tapi digaji besar. Direktur Oh mengingatkan bila bos besar tahu hal itu tapi tetap saja Jae Kwan tak setuju. 


Direktur Oh menambahkan bila Jae Kwan harus bangga pada Ra Hee karena gadis itu membelanya di depan bos besar. Jae Kwan tak mempercayainya tapi dia juga pensaran mengapa bos besar ingin melakukan perubahan. Direktur Oh mengeluh bila terlalu banyak menyembunyikan berita eksklusif maka kemungkinan besar berita olahraga dan rekreasi akan disatukan ke harian sedangkan berita hiburan akan dipindahkan ke internet. Keduanya hanya bisa mengeluh dalam hati.


Kini Ra Hee dipercaya untuk menulis beberapa berita eksklusif. Beberapa rekan ada yang senang karena Ra Hee mengambil alih tugasnya tapi ada juga yang protes karena seharusnya Ra Hee bisa berbagi dengan mereka. Ha Ji Eun menegur mereka dan Ra Hee hanya tersenyum kecut ketika Ha Ji Eun mengingatkan tentang banyaknya gugatan yang muncul setelah berita eksklusif itu dipublikasikan. Bila Ha Ji Eun terang-terangan menunjukkan rasa tak sukanya pada Ra Hee maka Sun Woo memilih diam dan cuek.


Ra Hee pulang dan melihat Seo Jin sudah pulang duluan. Dia penasaran melihat beberapa foto yang tersebar di atas kasur. Seo Jin menjelaskan bila seniornya di Manhattan membuka studio foto dan dia diajak bergabung. Ra Hee bertanya tentang tempat bekerjanya sekarang dan Seo Jin berencana akan berhenti toh sejak awal dia memang tak ingin menetap. Ra Hee langsung berdiri dan menjauh, dia agak kecewa dengan keputusan Seo Jin. Seo Jin bertanya apakah dia harus pergi? Ra Hee menjawab singkat bila semua terserah pada Seo Jin.


Jae Kwan dan Sun Woo kembali beradu argumen tentang seorang artis bernama Hong Kyung Jin. Keduanya saling mempertahankan pendapat sendiri. Ra Hee kembali ke mejanya dalam diam dan hanya menunduk sementara rekan yang lain sibuk memperhatikan keduanya. Ra Hee kian menunduk saat Jae Kwan menggunakan dirinya untuk menyindir Sun Woo. Sun Woo tak bisa menahan diri lagi, dia memutuskan untuk berhenti dan mengambil tas juga jaketnya lalu keluar. Sun Woo tak perduli dengan teriakan Jae Kwan. Direktur Oh yang melihat hal itu hanya bisa menghela nafas.


Ra Hee bertemu Chae Eun untuk wawancara. Chae Eun penasaran karena tak melihat Sun Woo dan Ra Hee menjelaskan bila sudah beberapa hari pria itu tak kerja setelah bertengkar dengan Jae Kwan. Chae Eun kaget mendengarnya dan dia heran karena Sun Woo bisa bertahan selama itu. Ra Hee bertanya tentang berita eksklusif yang pernah ditulis Sun Woo. Chae Eun tak keberatan menceritakan semuanya tapi dia mendadak malu ketika Ra Hee menebak bila dulu dirinya sempat berpacaran dengan Sun Woo.


Ra Hee kembali ke kantor dan dia melihat Jae Kwan mendapat kunjungan dari Jang Yu Jin. Yu Jin juga menyapanya sebelum pergi tapi Ra Hee hanya diam. Dia penasaran melihat Yu Jin mengunjungi bosnya. Dalam perjalanan pulang, Yu Jin dibuat kesal oleh pengawalnya dan dia tak segan memukul pria itu. Pria itu mengiyakan ketika Yu Jin memerintahnya untuk mencari tahu siapa yang diinginkan Woo Ji Han.


Jae Kwan menceritakan apa yang dikatakan Yu Jin pada semuanya yaitu Woo Ji Han pergi ke AWOL. Yu Jin sebenarnya ingin menutupinya tapi ada seseorang yang membocorkan hal itu di sosmed makanya Yu Jin ingin minta bantuan Jae Kwan. Mereka akhirnya berdiskusi dan membahas apa yang sebenarnya terjadi. Jae Kwan menduga bila Woo Ji Han ingin menghancurkan Yu Jin makanya selalu berbuat onar. 


Ra Hee tak mengerti mengapa Woo Ji Han sangat berpengaruh bagi JS (agensi yang dipimpin Yu Jin). Jae Kwan menjelaskan bila sebenarnya Woo Ji Han adalah pendiri JS. Tanpa Woo Ji Han maka JS tak ada harganya. Jae Kwan kini sangat penasaran dengan pertengkaran Woo Ji Han dan Jang Yu Jin. Jae Kwan memerintahkan mereka untuk mencari berbagai kemungkinan untuk bisa mendapatkan berita eksklusif tentang hal itu.


Jae Kwan bertanya pada Mun Kyung In tentang kabar Sun Woo tapi wanita itu mengatakan bila Sun Woo tak pernah datang lagi. Jae Kwan menghela nafas, dia ingin Sun Woo datang membantunya. Dia meminta seseorang untuk mengajak Sun Woo kembali tapi wakil ketua pesimis bila Sun Woo mau kembali apalagi setelah bertengkar seperti itu. Ra Hee hanya diam karena dia merasa bersalah telah membuat kedua orang itu bertengkar.


Ra Hee berlari menuju Jae Kwan yang sedang duduk sambil membaca koran. Pria itu memberikan tanda pengenal baru padanya sebagai tanda bila kini Ra Hee telah menjadi wartawan resmi. Ra Hee menerimanya dan dia tersenyum mengiyakan ketika Jae Kwan mengatakan bila kini gajinya naik sehingga harus mentraktir mereka semua.


Wakil ketua berteriak memanggil Jae Kwan dan mengatakan bila Woo Ji Han akan mengadakan konferensi pers. Jae Kwan langsung berdiri dan bertanya waktunya. Wakil ketua mengatakan besok jam 6 tapi sumbernya bukan dari JS. Jae Kwan bingung dan melirik meja Sun Woo yang kini telah kosong. Dia berbalik dan memutuskan bila mulai sekarang Ra Hee yang akan menangani masalah Woo Ji Han. Ra Hee ingin membantah tapi Jae Kwan sudah pergi.


Yu Jin memandangi berita tentang rencana konferensi pers Woo Ji Han. Wanita itu bertanya pada asistennya tentang sumber berita ini dan si asisten menjawab bila pengumuman itu mungkin berasal dari agensi lain yaitu Daeho. Yu Jin tampak kesal dan dia membuka laci mejanya. Yu Jin mengambil koran lama yang berisi tentang kasus pelecehan seksual Woo Ji Han yang ditulis oleh Jae Kwan. Yu Jin meminta asistennya untuk menghubungi Jae Kwan.


Jae Kwan datang ke kantor wanita itu dan Yu Jin menyerahkan beberapa bukti tentang kasus pelecehan seksual yang pernah dilakukan Woo Ji Han. Jae Kwan tak mengerti mengapa Yu Jin kini ingin membuka cerita lama padahal dulu mati-matian ditutupi. Yu Jin ingin Jae Kwan menghentikan konferensi pers yang akan dilakukan Woo Ji Han. Jae Kwan sedikit kesal ketika Yu Jin meledeknya karena enggan menerima berita eksklusif. Jae Kwan akhirnya mengambil bukti itu.


Dalam perjalanan pulang, Jae Kwan berhenti sejenak dan memandangi amplop yang berisi berita eksklusif yang pernah ditulisnya dulu. Tiba-tiba pria itu terbatuk hingga menyandarkan kepalanya di setir mobil. Dia bingung dan tak tahu harus berbuat apa. Akhirnya Jae Kwan menyerahkan amplop coklat itu kepada Ra Hee yang sudah menunggunya di parkiran.


Sun Woo sedang mengemasi barang yang ada di mejanya ketika Ra Hee muncul. Tak ada sorot dendam dalam tatapan Sun Woo. Pria itu kini justru tampak tenang dan memberinya selamat karena kini telah menjadi pegawai tetap. Ra Hee tetap merasa bersalah dan dia mencoba membujuk agar pria itu tetap tinggal. Tapi Sun Woo hanya tersenyum dan tetap pergi. Ha Ji Eun kembali menyindir sikap Ra Hee yang sok perduli pada Sun Woo padahal gara-gara dia Sun Woo akhirnya berhenti.


Jae Kwan pergi ke dokter untuk memeriksakan kondisinya dan dokter wanita itu mengeluh bila kakaknya hampir menjadi janda gara-gara Jae Kwan. Rupanya si dokter adalah adik iparnya Jae Kwan (adik istrinya). Jae Kwan menanggapi keluhan adik iparnya dengan santai. Dia bahkan tak perduli ketika dilarang minum lagi.


Malam itu Ra Hee kembali ke kantor dan dia kaget melihat Direktur Oh yang berdiri sambil membawa sepanci mie instan panas. Pria itu mengajak Ra Hee makan mie bersamanya. Mereka akhirnya duduk sambil ngobrol tapi sebenarnya Direktur Oh yang bicara sedangkan Ra Hee hanya diam mendengarkan. Direktur Oh berpesan agar Ra Hee menjaga Jae Kwan karena bosnya itu tak boleh terlalu stress atau tertekan. Direktur Oh menambahkan bila kini Jae Kwan secara tak langsung bergantung pada Ra Hee. Ra Hee mengangguk.


Setelah ngobrol dengan Direktur Oh, Ra Hee menjadi semangat untuk mengerjakan apa yang telah diberikan Jae Kwan padanya yaitu menulis berita tentang pelecehan seksual yang pernah dilakukan Woo Ji Han. Ra Hee melihat dan membaca semua bukti yang ada dan setelah berpikir beberapa saat akhirnya Ra Hee mulai menulis. Kini artikel itu telah selesai dan siap dipublikasikan tapi Ra Hee sedikit curiga tentang sesuatu. Dia menemukan bila dokter yang memberi laporan medis memiliki nama marga yang sama seperti Yu Ji yaitu Jang.


Ra Hee menelepon sebuah nomor dan ternyata itu sebuah klinik operasi plastik. Ra Hee ingin bertanya tentang Dr. Jang Yu Seok tapi dijawab bila dokter sedang tak ada lagipula mereka tak bisa membocorkan identitas artis yang telah melakukan operasi plastik. Ra Hee pura-pura mengaku bila sudah mendapat persetujuan dari Jang Yu Jin. Orang yang diseberang itu langsung bersikap lebih ramah dan menegur Ra Hee karena tak sejak awal mengatakan hal itu. Rupanya Dr. Jang Yu Seok adalah adik Jang Yu Jin. Ra Hee kaget dan langsung menutup teleponnya. Kini Ra Hee mulai mengerti mengapa kasus pelecehan ini bisa menguap begitu saja.


Paginya, Ra Hee mengembalikan amplop coklat itu pada Jae Kwan. Ra Hee mengaku tak bisa menulisnya karena buktinya mungkin direkayasa. Jae Kwan ingin tahu dan Ra Hee menjelaskan bila adik Jang yang menulis laporan medisnya sehingga Ra Hee menduga bila sisa bukti lainnya direkayasa juga. Jae Kwan ingin Ra Hee menulis hal itu tapi Ra Hee tak berani karena tak punya bukti sehingga sulit dilakukan. Jae Kwan menghela nafas panjang sedangkan Ra Hee hanya bisa menunduk pasrah. Jae Kwan mengizinkan Ra Hee pergi dan setelah gadis itu menjauh, Jae Kwan mengamati bukti laporan medis itu sambil mengumpat. 


Ra Hee, Seo Jin dan seorang senior pergi ke acara konferensi pers Woo Ji Han. Senior itu bertanya pada Ra Hee tentang kabar Sun Woo yang memutuskan berhenti dan Ra Hee mengiyakan. Senior itu mengeluh bila anak muda sekarang kurang gigih dan berpikir bila berhenti bekerja itu mudah. Ra Hee dan Seo Jin hanya diam dan saling melirik dari kaca spion.


Sementara itu, Jae Kwan kini duduk gelisah di depan mejanya. Dia kembali mengamati bukti foto dan membuka laci mejanya untuk mengambil foto lainnya. Jae Kwan berpikir sejenak dan akhirnya dia memutuskan untuk menulis sendiri artikel tentang Woo Ji Han berdasarkan bukti yang ada ditangannya.


Kini Ra Hee dan rombongannya tiba di ruang konferensi pers. Ra Hee melihat semua orang seolah sibuk membahas sesuatu dan ketika duduk disamping Chae Eun, dia kian penasaran dan bertanya apa yang terjadi. Chae Eun menyodorkan laptopnya agar Ra Hee bisa melihat sendiri. Ra Hee kaget karena Jae Kwan memutuskan menulis sendiri artikel yang sebelumnya dia tolak. Chae Eun mengomel karena kini Jae Kwan benar-benar telah menghancurkan karir Woo Ji Han. Ra Hee hanya bisa menghela nafas dengan kesal.


Woo Ji Han muncul dan berjalan menuju tempat yang telah disiapkan. Tapi pria itu tak menyangka bila para wartawan malah bertanya tentang kasus pelecehan seksualnya dulu. Woo Ji Han agak bingung dengan pertanyaan itu dan pengawalnya langsung mengecek berita melalui ponselnya. Pengawal itu berlari menghampiri dan membisiki sesuatu di telinga Woo Ji Han.


Seorang wartawan kesal dan bertanya apakah ada perwakilan dari Dongmyung yang hadir di tempat ini. Ra Hee dan Seo Jin hanya bisa diam menunduk ketika sebagian besar wartawan yang hadir meneriaki mereka untuk minta pertanggungjawaban. Woo Ji Han mencoba meredakan mereka dengan mengatakan bila itu semua hanya kesalahpahaman. Tapi seorang wartawan wanita menyanggahnya karena terlalu banyak bukti sehingga tak bisa disebut sebagai kesalahpahaman.


Woo Ji Han mencoba menyangkalnya tapi para wartawan itu kian beringas dan mendesak maju untuk bertanya lebih lanjut. Woo Ji Han bingung dan tak tahu harus berbuat apa, pengawalnya mendekat dan mengajaknya pergi. Jang Yu Jin yang melihat acara konferensi pers itu dari tv menjadi tersenyum senang melihat acara itu gagal.


Di luar gedung, para wartawan berjalan pulang dengan langkah gontai termasuk Ra Hee dan Chae Eun. Mereka kembali bersemangat ketika melihat mobil Woo Ji Han, mereka menghadang laju mobil itu karena masih ingin bertanya. Sopir berusaha menghalau mereka dengan membunyikan klakson berkali-kali. Semula para wartawan itu masih bertahan tapi akhirnya mereka memberi jalan agar mobil yang ditumpangi Woo Ji Han bisa pergi.


Para wartawan itu masih fokus melihat mobil itu melaju kencang menuju jalan raya dan semuanya mendadak terpekik kaget ketika mobil itu ditabrak truk besar. Semuanya shock termasuk Ra Hee. Beberapa wartawan pria termasuk Seo Jin berinisiatif menolong Woo Ji Han dan si sopir. Ra Hee melihat Woo Ji Han terluka parah dan darah membasahi bajunya. Ra Hee hanya bisa menangis seolah merasa bersalah. Sedangkan di kantor, Jae Kwan dan yang lain nonton acara sekilas info tentang kecelakaan Woo Ji Han. Jae Kwan kaget dan memilih pergi.


Malamnya, Ra Hee kembali ke kantor dan dia langsung berjalan menuju meja Jae Kwan yang saat itu sedang menerima telepon dari bos besar. Rekan yang lain heran dengan sikap Ra Hee yang dianggap terlalu berani. Ra Hee tanpa takut bertanya pada Jae Kwan tentang apa yang sebenarnya terjadi. Dengan nada santai Jae Kwan mengatakan bila dia menulis apa yang tak mampu Ra Hee tulis. Ra Hee melampiaskan kemarahannya dengan mengatakan bila gara-gara artikel itu maka Woo Ji Han hampir terbunuh.


Jae Kwan menanggapinya dengan santai tapi dia menoleh ke arah anak buahnya yang hanya diam menunduk sambil berpesan agar mulai sekarang mereka tidak usah menulis artikel lagi. Mereka tak menjawab dan hanya diam menunduk. Jae Kwan kembali mengingatkan agar tak ada yang menulis artikel lagi dan bila membantah maka akan mati. Jae Kwan meledek Ra Hee karena kini semua sesuai keinginannya. Ra Hee tak bermaksud seperti itu dan kini Jae Kwan mulai kesal. 


Pria itu menyindir Ra Hee dengan mengatakan bila tak ingin hal ini terjadi maka Ra Hee harus menulisnya sendiri. Ra Hee menegaskan bila buktinya direkayasa tapi Jae Kwan mengatakan bila itu pengadilan yang memutuskan. Jae Kwan sedikit melunak dan mengatakan bila mereka hanya menulis artikel. Ra Hee tak yakin bila mereka layak disebut wartawan. Jae Kwan menyindirnya dan Ra Hee balas menuduhnya menulis demi uang. 


Jae Kwan tak marah dan mengakui bila dirinya menulis demi uang. Jae Kwan balik mengatakan bila Ra Hee tak bisa melakukan apapun, dia sudah memberi kesempatan tapi tak dimanfaatkan Ra Hee. Jae Kwan mengingatkan mengapa Ra Hee tak bisa menulis artikel itu karena Ra Hee takut menyakiti seseorang dengan artikel itu. Ra Hee tak mau bertanggungjawab dan tak mau mengotori tangannya sendiri makanya memilih untuk melihat saja. Ra Hee terdiam menyadari kebenaran ucapan bosnya. Jae kwan menambahkan bila Ra Hee membiarkan perasaan pribadi untuk mendapatkan sebuah cerita. 


Jae Kwan bertanya pada anak buahnya tentang sebutan yang pas untuk wartawan seperti itu. Semuanya diam dan Ha Ji Eun terpaksa menjawab ketika Jae Kwan bertanya padanya. Ha Ji Eun mengatakan bila wartawan seperti itu disebut wartawan sampah. Ra Hee kian membisu dan Jae Kwan pergi setelah melampiaskan kekesalannya dengan meremas kertas lalu membuangnya. Malam itu Ra Hee pulang dengan pikiran kusut dan galau. 


Paginya, Jae Kwan hanya bisa menghela nafas saat melihat meja Ra Hee yang masih kosong. Semuanya tampak sibuk tapi wakil ketua melihat apa yang dilakukan Jae Kwan. Wakil ketua mengabarkan bila Ra Hee pergi untuk melaporkan kondisi Woo Ji Han. Jae Kwan sedikit malu karena ketahuan mencari Ra Hee dan untuk menutupi rasa malunya, dia sengaja membentak wakil ketua karena tak mengatakan sejak awal. Bukannya marah, wakil ketua malah tertawa dan semuanya merasa tenang melihat sikap Jae Kwan yang lebih ramah.


Ra Hee dan Chae Eun bertemu di rumah sakit untuk mendengar penjelasan dari dokter. Saat keluar dari rumah sakit, para wartawan itu langsung menyerbu Jang Yu Jin untuk dimintai keterangan tapi Ra Hee tak ikut bergabung, dia hanya melihat dari kejauhan. Yu Jin menyudahi wawancara singkatnya dan pergi. Dia sengaja berjalan mendekati Ra Hee dan menyapanya dengan nada ramah tapi sangat dipaksakan. 


Ra Hee menghentikan langkah Yu Jin dengan mengatakan bila dia tahu Yu Jin merekayasa semuanya. Yu Jin yang sudah berjalan beberapa langkah mendadak berhenti dan berbalik mendekati Ra Hee. Yu Jin malah menantang Ra Hee bila ingin menulis sesuatu tapi Yu Jin meyakinkan bila hal itu tak akan mengubah segalanya. Yu Jin langsung pergi setelah mengatakan hal itu.


Chae Eun yang semula hanya melihat dari kejauhan kini berjalan mendekati Ra Hee dan bertanya apa yang terjadi. Bukannya menjawab tapi Ra Hee malah balik bertanya apakah Chae Eun kenal seorang pengacara. Chae Eun bingung mengapa tiba-tiba Ra Hee ingin pengacara. Ra Hee menjelaskan bila dia ingin pengacara untuk kasus ancaman, eksploitasi dan kontrak ilegal. Chae Eun berpikir sejenak dan mengatakan bila Ra Hee tak perlu pengacara karena ada seseorang yang ahli tentang hal itu.


Ternyata Chae Eun membawa Ra Hee ke cafe tempat Sun Woo kini bekerja. Ra Hee curhat dan minta saran Sun Woo tentang kasus pelecehan seksual yang diduga dilakukan Woo Ji Han terhadap seorang wanita bernama Kim Jang Mi. Ra Hee menduga bila Yu Jin menyuap Kim dan membuat kejadian itu seolah seperti penyerangan agar Woo Ji Han menandatangani kontrak. Dan Yu Jin kembali melakukan hal itu untuk menahan Woo Ji Han. Sun Woo bertanya apakah Ra Hee punya buktinya dan Ra Hee mengaku tak punya. Sun Woo menyarankan agar Ra Hee melupakannya tapi Ra Hee tak mau. Sun Woo mengingatkan bila Yu Jin punya banyak koneksi.


Ra Hee ingin tahu apa yang harus dilakukannya dan Sun Woo memberinya 2 pilihan. Yang pertama adalah menemukan Kim tapi Sun Woo meyakinkan bila Ra Hee bisa menemukan wanita itu maka belum tentu Kim mau bersaksi untuknya. Ra Hee bertanya tentang pilihan kedua dan Sun Woo menjawab bila pilihan lainnya adalah membuat artikel dugaan. Pria itu menjelaskan bila wartawan memiliki kekuasaan untuk menyuarakan hal masuk akal dengan artikel dugaan. Hal itu seperti pisau bermata dua, bisa sangat berpengaruh di persidangan. Bila terjadi kesalahan maka Ra Hee tak hanya akan kehilangan pekerjaan tapi semua portal berita juga bisa dalam bahaya.


Sun Woo bertanya apakah Ra Hee masih mau melakukannya dan pria itu terkejut dengan jawaban Ra Hee. Ra Hee mantap ingin melakukannya. Sun Woo menegurnya dan terang-terangan melarang Ra Hee melakukannya. Ra Hee mengalihkan pembicaraan dan bertanya apakah Sun Woo betah bekerja di tempat ini. Sun Woo tersenyum ketika melihat Chae Eun dan mengatakan bila tempat ini sangat damai tanpa omelan Jae Kwan. Chae Eun yang bersembunyi sambil minum hanya berani menatap Sun Woo dari kejauhan. Ra Hee melihat tingkah seniornya dengan tatapan heran, mereka masih saling menyukai tapi tak berani mendekati.


Ra Hee pulang dan dia sempat melihat berita sekilas info tentang penundaan penggabungan JS akibat kecelakaan yang menimpa Woo Ji Han. Ra Hee memutuskan kembali ke kantor dan fokus membuat artikel dugaan untuk membantu Woo Ji Han. Semalaman Ra Hee mengerjakan artikel itu dan dia langsung tertidur setelah menyelesaikannya.


Paginya, Jae Kwan heran melihat Ra Hee tertidur di kursi sambil mendengkur keras. Pria itu mencoba membangunkannya tapi Ra Hee tetap tertidur. Jae Kwan melihat artikel dugaan yang baru selesai dan dia membaca sekilas lalu membawanya. Jae Kwan sengaja menutup pintu agar tak ada yang menganggu Ra Hee.


Kini Jae Kwan dan Ra Hee makan bersama sambil membahas tentang artikel dugaan yang dibuat oleh Ra Hee. Jae Kwan mengatakan bila artikel ini terlalu panjang tapi Ra Hee bersikeras bila semuanya sudah pas. Jae Kwan bertanya tentang apa yang akan dilakukannya dan Ra Hee meyakinkan bila dirinya akan bertanggungjawab. Jae Kwan bertanya mengapa Ra Hee mendadak bersikap nekat dan Ra Hee balik bertanya bukankah pekerjaan wartawan adalah mengungkapkan apa yang salah. Ra Hee juga mengingatkan bila tak ada yang tak bisa dilakukan tanpa semangat.


Jae Kwan ingin membantah tapi Ra Hee malah memelototinya. Pria itu mendadak salah tingkah dan mengalihkan perhatian Ra Hee dengan menunjukkan bila ada noda di ujung bibirnya. Jae Kwan berpikir sejenak dan akhirnya setuju untuk mempublikasikan artikel itu. Ra Hee tak percaya mendengarnya. Jae Kwan beralasan bila ini berita eksklusif dan Ra Hee juga sanggup bertanggungjawab. Jae Kwan bertanya kapan Ra Hee ingin artikel ini diterbitkan dan Ra Hee menjawab sebelum konferensi pers Jang Yu Jin.


Jae Kwan menyanggupinya lalu pergi tapi setelah beberapa langkah, dia berbalik dan ingin mengatakan sesuatu tapi tak jadi. Ra Hee penasaran dan ingin Jae Kwan mengatakannya. Pria itu ingin protes karena dia tak mengambil kodok emas pemberian Yu Jin. Ra Hee berdalih bila dia melihatnya tapi Jae Kwan membantahnya. Pria itu akhirnya mengalah dan tak keberatan bila Ra Hee menulis sebaliknya. Jae Kwan pergi sambil masih mengomel.


Di tengah jalan, Jae Kwan menelepon istrinya dan mengatakan bila dirinya belum bisa menjemput mereka dalam waktu dekat. Jae Kwan berusaha menjelaskan pada istrinya bila dia masih sibuk dan bukannya dipecat. Dia mengakhiri pembicaraan agar tak terus diomeli oleh istrinya. Jae Kwan berjalan pulang sambil mendesah bila hari ini terasa sangat cerah.


Yu Jin sibuk berbicara dengan seseorang dan memastikan bila penggabungan JS akan berjalan sesuai rencana tapi Yu Jin ingin agar portal berita Dongmyung tak berbicara. Dia tak ingin Dongmyung menganggu rencananya. Yu Jin langsung menghela nafas panjang setelah menutup teleponnya. Sementara itu Woo Ji Han masih terbaring lemah di rumah sakit dan persiapan konferensi pers sudah mulai dilakukan. Ra Hee dan Chae Eun juga sudah datang. Seo Jin sempat melirik ke arah Ra Hee dengan tatapan khawatir.


Di kantor, Direktur Oh sedang mendapat telepon dari bos besar. Bos besar berpesan agar Jae Kwan tak menerbitkan artikel dugaan agar tak mengacaukan rencana Yu Jin. Direktur Oh galau, dia tak tahu harus menuruti siapa. Di ruang konferensi pers, Ra Hee mengecek laptopnya dan dia mulai cemas karena artikelnya belum terbit juga. Direktur Oh terpaksa mengatakan hal itu pada Jae Kwan tapi pria itu bersikeras ingin menerbitkannya.


Direktur Oh mengingatkan bila ada 82 karyawan di perusahaan mereka. Jae Kwan tetap tak perduli tapi Direktur Oh menegurnya agar tak bersikap egois. Semua karyawan sangat bergantung pada pekerjaan ini dan mereka mempunyai masalah yang berbeda. Masalah kian besar bila mereka semua harus menjadi pengangguran. Direktur Oh bertanya apakah Jae Kwan mau bertanggungjawab dengan hal itu? Jae Kwan mengumpat kesal dan membuang muka.


Semua orang hanya diam menunduk melihat pertengkaran keduanya. Suasana yang hening itu mendadak ternoda oleh suara dering telepon. Direktur Oh meminta seseorang untuk mengangkat telepon itu tapi tak ada yang bergerak, semua diam seperti patung. Mereka tahu bila Ra Hee yang menelepon. Direktur Oh kesal dan mengambil teleponnya dan menyodorkan kepada Jae Kwan tapi Jae Kwan hanya diam. Direktur Oh kian kesal dan akhirnya mengangkat telepon itu lalu mendekatkan ke telinga Jae Kwan. Jae Kwan terpaksa mengatakan bila mereka batal menerbitkan artikelnya dan meminta Ra Hee untuk menyerah.


Ra Hee kesal dan tak mengerti dengan perubahan sikap Jae Kwan. Yu Jin muncul dan acara konferensi pers akan segera dimulai. Direktur Oh menepuk bahu Jae Kwan sambil minta maaf lalu pergi. Proses tanya jawab Yu Jin dan para wartawan mulai berjalan tapi Ra Hee sudah kehilangan harapan dan dia hanya bisa menghela nafas. Dia menatap Yu Jin dengan tatapan marah serta kesal.


Di kantor, para senior Ra Hee menjadi tak semangat. Seorang pria tiba-tiba mengungkapkan pendapatnya. Pria itu mengatakan bila untuk menerbitkan berita apakah harus dari portal berita mereka sendiri? Wakil ketua tak paham dengan maksud pria itu. Pria itu menjelaskan idenya, bila mereka menerbitkan berita ini di beberapa situs sekaligus maka berita ini akan menjadi viral dengan cepat. 

Young Hwa tersenyum dan setuju dengan ide itu. Mun Kyung In bertanya sendiri apakah alamat mereka bisa dilacak? Dia menyarankan agar mereka tak melakukan di kantor. Young Hwa mengatakan dengan nada yakin bila mereka punya internet dimana-mana alias warnet sehingga tak harus mempublikasikan artikel Ra Hee dari kantor.


Ketika Ra Hee hanya diam karena merasa kesal maka keenam seniornya pergi ke sebuah warnet dan bekerjasama untuk mempublikasikan artikel itu di berbagai situs. Jae Kwan yang bertugas menunggu di kantor. Pria itu langsung membalikkan kursinya ketika melihat Direktur Oh masuk sambil menenteng 2 tas plastik besar berisi makanan. Direktur Oh bertanya mengapa sepi dan Jae Kwan menjawab sekenanya bila mereka pergi untuk minum. Direktur Oh kecewa dan pergi. Jae Kwan langsung memantau kembali laptopnya ketika Direktur Oh sudah menjauh.


Di rumah sakit, Woo Ji Han sudah siuman dan dia berniat kabur dari rumah sakit. Sedangkan di ruang konferensi pers, Ra Hee menatap Yu Jin dengan sorot kesal sekaligus muak. Chae Eun meledek Yu Jin yang pandai bersandiwara. Yu Jin memberi kesempatan terakhir dan Chae Eun yang dipilih. Chae Eun meminta pengeras suara dan seseorang memberikannya melalui Ra Hee tapi Ra Hee malah memegangnya dan tak diberikan pada Chae Eun. Chae Eun kaget tapi hanya diam. Ra Hee berdiri sambil menatap tajam ke arah Yu Jin.


Ra Hee bertanya apakah Yu Jin memfitnah Woo Ji Han. Sementara itu para senior Ra Hee masih bekerja untuk membantunya, mereka senang ketika apa yang mereka tulis mulai membuahkan hasil. Yu Jin menyindir Ra Hee yang bertanya tanpa menyebutkan identitasnya dulu. Ra Hee terpaksa menyebutkan bila dirinya berasal dari Dongmyung. Para wartawan dan Yu Jin tertawa meledeknya karena Dongmyung yang duluan mengangkat skandal pelecehan seksual Woo Ji Han. Ra Hee hanya diam dan dia kembali mengulang pertanyaannya saat Yu Ji bertanya.


Yu Jin menjawab singkat dengan mengatakan tidak lalu beralih pada wartawan lain. Seorang wartawan pria berdiri dan mulai bertanya tapi Ra Hee tak menyerah. Dia kembali mengatakan bila Yu Jin telah menyuap Kim Jang Mi, korban dan merekayasa bukti. Yu Jin menggunakan hal itu untuk mengancam Woo Ji Han agar mau memperbaharui kontraknya. Chae Eun yang duduk disebelahnya menoleh kaget, dia tak menyangka Ra Hee senekat itu. Para wartawan sontak berteriak huu....Yu Jin mengancam akan menuntutnya dengan alasan pencemaran nama baik karena menuduhnya tanpa bukti.


Ra Hee tak perduli dan dia kembali mengatakan pendapatnya bila dia yakin Woo Ji Han tak melakukan pelecehan seksual itu. Yang sebenarnya terjadi adalah Yu Jin merekayasa semuanya untuk mengancam Woo Ji Han. Yu Jin berjanji akan menutupinya asal Woo Ji Han mau memperbaharui kontraknya. Yu Jin ingin menyudahi omong kosong itu tapi Ra Hee masih ingin mengatakan satu hal lagi yaitu Yu Jin berusaha menyuap Jae Kwan agar mau membantunya. Yu Jin kehilangan kesabaran dan tanpa sadar berteriak keras tapi lalu menahan emosinya dengan tersenyum.


Yu Jin menyindir Ra Hee dengan mengatakan bila seorang wartawan harus menulis artikel bukan cerita fiksi. Para wartawan mulai kehilangan kesabaran, mereka ingin agar Ra Hee duduk dan menyudahinya tapi Ra Hee belum mau menyerah. Seo Jin menatap Ra Hee dengan sorot takut dan khawatir. Ra Hee menegaskan tuduhannya bila Yu Jin mengarang semuanya. Seorang wartawan mulai kesal dan bertanya apakah Yu Jin memang melakukannya atau tidak. Yu Jin menyerah dan melepas kacamatanya. Dia menantang Ra Hee, apakah Ra Hee punya bukti untuk menuduhnya?


Di warnet, Mun Kyung In tersenyum senang karena kini berita tentang Yu Jin telah menjadi viral dan nomor satu. Mereka sangat senang akhirnya bisa mengalahkan Yu Jin. Di kantor, Jae Kwan berteriak senang ketika melihat Yu Jin menjadi viral. Direktur Oh sampai kaget mendengar teriakannya. Direktur Oh mengira Jae Kwan masih marah padanya makanya dia buru-buru pergi.


Ra Hee hanya diam membisu, dia sudah kehilangan akal saat Yu Jin menantangnya. Di saat yang genting itu, tiba-tiba terdengar suara yang bersahutan dan para wartawan itu sibuk membuka ponsel masing-masing. Pengawal Yu Jin membuka ponselnya dan segera mendekati Yu Jin. Yu Jin kaget mendengarnya, dia berusaha menenangkan mereka dengan mengatakan bila artikel itu tidak benar.


Chae Eun menyodorkan laptopnya, dia menunjukkan artikel yang ditulis Ra Hee kini telah menjadi viral. Ra Hee kaget dan agak bingung melihatnya padahal sebelumnya Jae Kwan memastikan bila mereka tak bisa menerbitkan artikelnya. Para wartawan kini mulai bertanya tentang apa yang ditulis Ra Hee, mereka ingin tahu kebenarannya. Yu Jin tak bisa menjawab dan para wartawan mulai bergerak maju mendekati Yu Jin. Yu Jin akhirnya memilih kabur.


Ra Hee masih tak percaya dengan apa yang terjadi. Sementara itu di rumah sakit, Woo Ji Han yang sudah berpakaian rapi langsung bersiap meninggalkan rumah sakit. Tapi dia tertarik mendengar berita di tv, dia berbalik untuk melihat acara konferensi pers Yu Jin yang berantakan gara-gara artikel dugaan yang ditulis oleh Ra Hee. Ra Hee tak kuasa menahan harunya ketika Seo Jin mengacungkan jempol padanya sambil tersenyum lega.


Para senior Ra Hee kembali ke kantor dengan langkah ringan, mereka senang bisa membantu Ra Hee untuk menghancurkan Yu Jin. Wakil ketua memuji kerja keras semuanya. Salah seorang rekan penasaran dan bertanya apakah Jae Kwan benar-benar mengambil kodok emas itu? Mun Kyung In tak percaya bila Jae Kwan mengambilnya. Ha Ji Eun penasaran tentang keadaan Ra Hee dan Young Hwa meledeknya sambil bertanya sejak kapan Ha Ji Eun mulai perhatian dengan Ra Hee. Ha Ji Eun mengaku bila sejak kemarin dia mulai perhatian dengan juniornya itu.


Ra Hee dan Chae Eun berkemas dan bersiap pulang. Chae Eun memuji keberhasilannya tapi dia juga mengingatkan bila Yu Jin pasti akan mengejarnya. Ra Hee mengaku bila dia akan berhenti karena berharap terlalu banyak. Dengan nada bercanda Chae Eun meledeknya sebagai wartawan gila sambil mencubit pipinya. Ra Hee hanya tersenyum malu. Mereka berpisah setelah menuruni tangga berjalan menuju lantai dasar.


Ra Hee keluar gedung dan berjalan santai. Ketika matahari mulai menyapa wajahnya, Ra Hee menatap langit dan melindungi wajahnya dengan tangan agar tak disengat matahari yang sudah tinggi. Ra Hee memejamkan mata seolah merasa tenang. Tiba-tiba ada yang menyapanya. Ra Hee membuka mata dan menoleh. Dia melihat Woo Ji Han berdiri di tempat yang agak tersembunyi. Pria itu menunduk dalam untuk memberi hormat padanya. Ra Hee balas menunduk singkat. Pria itu sangat berterima kasih atas bantuannya dan Ra Hee hanya bisa tersenyum senang sambil mengangguk.


Ra Hee sedang mengemasi barangnya, dia terpaksa pergi karena tak bisa menemukan Kim Jang Mi. Mereka keberatan bila Ra Hee harus pergi begitu pula dengan Jae Kwan yang kini mulai terbiasa dengan dirinya yang keras kepala. Ra Hee tak keberatan dengan segala konsekuensinya. Jae Kwan ingin mengatakan sesuatu tapi tak jadi dan memilih pergi agar tak melihat Ra Hee berkemas. Jae Kwan berpapasan dengan seorang wanita dan dia tersenyum senang lalu melangkah keluar dengan ringan. 


Wanita itu berjalan mendekati bagian entertainment. Dia bertanya pada Ha Ji Eun apakah Ra Hee ada. Ha Ji Eun menunjuk ke arah wanita yang didepannya dan Ra Hee mengacungkan tangannya. Ra Hee menatap wanita itu karena tak merasa mengenalnya. Wanita itu mengatakan bila Ra Hee butuh kesaksiannya. Wakil ketua bertanya apakah wanita ini bernama Kim Jang Mi dan wanita itu mengiyakan. 


Wakil ketua tersenyum senang dan menyambutnya dengan ramah seraya mengajaknya menuju ke ruangan lain. Ra Hee hanya diam tapi tangannya langsung mengeluarkan barang yang sudah dimasukkannya dalam kardus. Para senior tersenyum senang karena Ra Hee tak jadi keluar. Mereka memuji keberuntungannya dan Ra Hee balas tersenyum malu sambil menata kembali barangnya.


Sementara itu, Yu Jin kini tak bisa berkelit lagi. Kantornya digeledah polisi dan wanita itu hanya bisa terduduk lemas di kursi. Dia kesal dan membuang kotak besar berisi 3 kodok emas yang digunakan untuk menyuap Jae Kwan. Berita tentang Yu Jin menjadi topik utama di semua halaman depan surat kabar. Kim Jang Mi akhirnya bersedia bersaksi untuk memberatkan Yu Jin.


Seo Jin menunggu Ra Hee di bandara. Pria itu duduk dan menutupi wajahnya dengan topi. Ra Hee datang dan langsung duduk disampingnya. Seo Jin membuka topinya, dia berniat pamit tapi Ra Hee malah mengatakan selamat tinggal. Seo Jin bertanya apakah Ra Hee mau menunggunya tapi Ra Hee menjawab asal-asalan. Seo Jin berdiri dan menyerahkan kotak perhiasan tanpa berani menatap wajah Ra Hee yang jutek.


Ra Hee menerima kotak itu tapi dia langsung cemberut karena menyadari bila kotak itu kosong. Dia mengomel sendiri tapi Seo Jin sudah berjalan menjauh. Seo Jin tersenyum sendiri, dia masih bisa mendengar Ra Hee mengomel karena diberi kotak kosong. Seo Jin sengaja membawa cincin bersamanya dengan harapan bila Ra Hee bersedia menunggunya kembali. Ra Hee yang semula cemberut kini malah tersenyum sendiri, mungkin dalam hati dia mengungkapkan janji akan setia menunggu Seo Jin kembali.


Ra Hee meninggalkan bandara dengan langkah mantap karena dia yakin suatu saat Seo Jin pasti kembali padanya. Ponsel Ra Hee berbunyi dan dia mendapat kabar baru tentang artis idolanya yang bernama Kim Woo Bin. Ra Hee tersenyum senang dan dia berlari meninggalkan bandara untuk mengejar berita eksklusifnya yang baru.


Film selesai dan mulai muncul daftar nama pemain di layar tapi terdengar teriakan Jae Kwan yang belum rela filmnya telah berakhir. Akhirnya daftar nama pemain diundur dan kini muncul gambar Jae Kwan yang sedang dirawat di rumah sakit. Tapi kasurnya malah penuh dengan laptop dan juga berbagai kertas, Jae Kwan masih ngotot ingin bekerja walaupun di rumah sakit.


Jae Kwan menelepon Ra Hee, pria itu ingin Ra Hee meluruskan tulisannya bila dia tak menerima kodok emas pemberian Yu Jin. Jae Kwan protes karena Ra Hee tetap menulis bila dia menerima suap di dalam bukunya. Ra Hee tak perduli dengan omelan bosnya dan menutup teleponnya. Jae Kwan kembali mengomel sambil memegangi dadanya yang sakit. Akhirnya Jae Kwan menyerah dan bersedia menyudahi filmnya. 


Adegan favorit sekaligus terlucu :

Jae Kwan dan Direktur Oh memiliki sifat yang berbeda. Bila Jae Kwan suka membentak, berbicara terus terang dan tak perduli dengan perasaan orang lain maka Direktur Oh orangnya lebih kalem dan suka mengalah karena tak ingin ribut. Keduanya sering beradu argumen dan Direktur Oh biasanya lebih suka mengalah. Menurutku, keduanya sangat serasi karena yang satu suka mengamuk dan yang lain lebih suka mengalah.

Hubungan keduanya diuji ketika Direktur Oh terpaksa harus menghentikan niat Jae Kwan untuk mempublikasikan artikel dugaan yang sudah dibuat oleh Ra Hee atas perintah bos besar. Semula Jae Kwan menolak tapi akhirnya menyerah. Direktur Oh yang merasa bersalah menepuk bahu Jae Kwan sebagai tanda permintaan maaf.

Direktur Oh pergi membeli beberapa camilan agar Jae Kwan dan anak buahnya tak sedih lagi tapi ternyata setelah Direktur Oh pergi, Jae Kwan dan anak buahnya menemukan cara untuk membantu Ra Hee. Wakil ketua dan yang lain pergi ke warnet untuk mempublikasikan artikel dugaan milik Ra Hee sementara Jae Kwan tetap di kantor untuk memantau keadaan.

Jae Kwan masih kesal ketika melihat Direktur Oh datang sambil membawa beberapa kantong plastik besar berisi camilan. Jae Kwan sengaja tak ingin melihatnya dan mengaku bila anak buahnya pergi minum agar tak sedih. Direktur Oh mengerti dan memilih pergi agar tak menganggu Jae Kwan. Setelah Direktur Oh pergi, Jae Kwan kembali memantau hasil kerja anak buahnya dari laptopnya.

Keberuntungan berpihak pada Jae Kwan dan anak buahnya sehingga apa yang mereka inginkan tercapai. Jae Kwan sangat senang dan berteriak lantang sambil mengepalkan kedua tangannya tanda kemenangan. Direktur Oh yang ternyata masih menunggu menjadi kaget melihat Jae Kwan membanting telepon sambil mengomel sendiri. Jae Kwan melirik Direktur Oh sambil menggerutu dan seolah ingin menantangnya. 

Direktur Oh mengira Jae Kwan masih marah padanya dan dia kian menjadi salah tingkah ketika Jae Kwan seolah sengaja mengoloknya. Direktur Oh mengalah dan memilih pergi tapi pria itu masih sempat menoleh ke arah Jae Kwan. Jae Kwan kembali memprovokasinya dan Direktur Oh memberi tangan tanda menyerah sambil mempercepat langkahnya. Jae Kwan seolah kian senang melihat Direktur Oh menjadi salah tingkah dan dia kembali berteriak sambil menghembuskan nafas.

Aku benar-benar terhibur melihat adegan itu sekaligus kasihan pada Direktur Oh. Direktur Oh memang terlihat lemah dan lebih menurut pada bos besar tapi alasan Direktur Oh masuk akal juga bahwa Jae Kwan tak boleh egois. Jae Kwan yang semula terpaksa mengalah seolah mendapat kesempatan untuk membalas dendam pada Direktur Oh ketika anak buahnya berhasil mempublikasikan artikel Ra Hee dengan cara sengaja meledek dan memprovokasinya.

Oh ya, adegan terlucu lainnya adalah saat Ra Hee sengaja menggoda Direktur Oh ketika pria itu menelepon Jae Kwan. Jae Kwan sedang pergi dan kebetulan Ra Hee ada di meja Jae Kwan sehingga Ra Hee yang menerima telepon Direktur Oh. Direktur Oh kesal karena baru saja dimarahi bos besar dan kini ada seseorang yang sengaja menggodanya. 

Direktur Oh langsung keluar ruangan dan memandang ke bagian anak buah Jae Kwan sambil melotot marah. Pria itu menunjuk sambil bertanya siapa yang tadi menerima teleponnya. Sedangkan Ra Hee malah ketakutan dan bersembunyi di bawah meja Jae Kwan. Aku tak menyangka bila Direktur Oh yang terlihat kalem ternyata bisa marah juga tapi marahnya kelihatan lucu banget. Wkwkwkwk...

Adegan yang menegangkan sekaligus menakutkan :

Menurutku, hal yang paling menakutkan adalah ketika menjadi saksi dari sebuah kecelakaan terutama bila kita mengenal atau setidaknya tahu siapa si korban. Apalagi bila secara tidak langsung kita ikut andil dalam kecelakaan itu.

Dalam film ini, Ra Hee merasa sangat bersalah ketika melihat kecelakaan yang dialami Woo Ji Han setelah melakukan konferensi pers. Mungkin kecelakaan itu tak terjadi jika Jae Kwan tak menulis artikel tentang pelecehan seksual yang mungkin terjadi 3 tahun yang lalu. Akibat artikel itu Woo Ji Han menjadi panik dan mencoba melarikan diri tapi mobilnya tak bisa bergerak karena wartawan masih penasaran dan ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi. 

Para wartawan itu menyerah dan bersedia memberi jalan ketika si sopir terus mengklason. Sopir yang strees dan sedikit panik, segera menjalankan mobilnya dengan kencang agar tak ada wartawan yang mengikuti mereka tapi sayangnya sopir tak melihat truk yang melaju sehingga truk itu menabrak mobil yang ditumpangi Woo Ji Han. Bila dilihat, kecelakaan itu cukup fatal karena mobil Woo Ji Han ringsek dan si sopir terluka parah begitu pula dengan Woo Ji Han.

Terlihat jelas bila para wartawan yang masih berdiri di luar gedung terutama Ra Hee sangat shock melihat kecelakaan itu karena dia merasa bila beberapa menit sebelumnya Woo Ji Han masih dalam keadaan sehat tapi kini dia melihat mobil yang ditumpangi pria itu tampak hancur. Ra Hee tak tahu apakah Woo Ji Han masih hidup atau sudah meninggal. Ra Hee merasa bila dia juga memiliki andil yang mengakibatkan kecelakaan itu terjadi. 

Mengapa? Sebelumnya Jae Kwan sudah memintanya untuk mengerjakan artikel itu tapi dia menolak dengan alasan dia merasa bila bukti medisnya direkayasa. Ra Hee mengira bila Jae Kwan bisa mengerti alasannya tapi ternyata Jae Kwan malah menulis sendiri artikel itu dan dampaknya sungguh mengerikan bagi Ra Hee karena dia melihat dengan mata kepalanya sendiri bila Woo Ji Han mendapat kecelakaan gara-gara artikel itu.

Adegan yang mengharukan sekaligus membuat bulu kudukku berdiri

Aku paling suka saat para senior Ra Hee berdiskusi tentang cara membantu Ra Hee agar artikel dugaannya bisa dipublikasikan tanpa melibatkan perusahaan. Mereka akhirnya sepakat untuk bersama-sama pergi ke warnet dan Jae Kwan mungkin agak terkejut melihat anak buahnya bisa kompak membantu Ra Hee. Ha Ji Eun yang semula bersikap ketus dan sinis juga tak keberatan membantu, justru dia yang kelihatan sangat bersemangat 'memainkan jemarinya' agar artikel Ra Hee bisa segera viral dan menjadi trending.

Saat Ra Hee berusaha 'melawan' Yu Jin secara langsung, dia tak pernah berpikir bila para seniornya akan membantu karena dia tahu bila mereka terutama Ha Ji Eun tak pernah mendukungnya justru meremehkannya. Makanya Ra Hee merasa sudah kepalang basah dan dia harus berjuang sendiri hingga akhir.

Aku tak bisa membayangkan bila para seniornya tak membantu maka bagaimana nasib Ra Hee saat Yu Jin menantang agar Ra Hee membuktikan semua tuduhannya? Pastinya Ra Hee akan dicaci dan diolok oleh semua wartawan termasuk Yu Jin karena menuduh tanpa bukti. Jujur aku ikut tegang saat Ra Hee hanya bisa diam mematung ketika Yu Jin menantangnya. Jelas saja Ra Hee diam mematung karena dia tak punya senjata pamungkas yaitu artikel dugaan yang gagal dipublikasikan.

Aku mendesah lega ketika terdengar bunyi pesan yang bersahut-sahutan dalam ruangan konferensi pers. Para wartawan mulai sibuk membaca artikel dugaan milik Ra Hee yang akhirnya bisa dipublikasikan dan bahkan menjadi trending utama. Aku ikut terharu saat Chae Eun menunjukkan laptopnya pada Ra Hee dan Ra Hee tak percaya dengan apa yang dibacanya. Ra Hee masih tak menduga bila artikelnya bisa dipublikasikan padahal sebelumnya Jae Kwan memintanya menyerah. Akhirnya airmataku menetes juga saat Seo Jin tersenyum sambil memberi jempol pada Ra Hee dan Ra Hee balas tersenyum sambil meneteskan airmata.

Hikmah yang bisa diambil dari film ini :

Kadang apa yang dibayangkan ternyata tak seindah kenyataan yang ada di depan mata. Dalam film ini diwakili oleh si tokoh utama yang bernama Ra Hee dan artis pria yang bernama Woo Ji Han. Bila orang awam melihat Woo Ji Han maka mereka pasti akan iri karena pria itu tampan, artis terkenal dan bergelimang harta. Tapi nyatanya Woo Ji Han malah tak menikmati hal itu dan justu merasa 'terpenjara' dengan apa yang dimilikinya. Woo Ji Han malah sengaja 'menciptakan' kehebohan agar bosnya yang bernama Yu Jin kerepotan.

Ternyata motivasi Woo Ji Han sebenarnya adalah dia ingin protes pada Yu Jin karena tak ingin lagi dijadikan sebagai boneka pencetak uang semata. Woo Ji Han ingin dihargai sebagai manusia bukan sebagai tawanan yang harus diancam bila tidak menurut. Pria itu berharap ada seseorang yang bisa membantunya tapi tak ada yang 'mendengar' jeritan hatinya.

Woo Ji Han berharap bila dia berbuat onar maka media akan memberitakannya dan berpihak padanya. Tapi sebagian besar media malah menganggapnya sebagai 'anak nakal' sehingga membuat Yu Jin kerepotan. Mungkin juga Yu Jin memang pandai bersandiwara sehingga media lebih bersimpati padanya atau Yu Jin sengaja 'mengancam' para bos media agar tak 'membantu' Woo Ji Han.

Aku tak tahu pasti apakah dunia hiburan di Korea memang seperti itu atau malah lebih buruk, seperti cerita salah satu anggota boyband Romio yang sempat diwawancarai Ra Hee. Bahwa mereka tak bisa berpendapat dan hanya melakukan apa yang diperintahkan oleh bos sehingga mereka merasa seperti mesin pencetak uang saja.

Sedangkan Ra Hee yang bekerja sebagai reporter di sebuah portal berita malah stress sebelum mulai kerja. Alasannya dia mendapat bos yang bernama Jae Kwan. Pria itu sangat galak, kejam dan tak segan mengkritik di tempat umum. Jae Kwan bahkan langsung mencela penampilan Ra Hee yang mengenakan baju resmi dan memakai sepatu high heels ketika Ra Hee pertama masuk kerja. Jae Kwan tak segan menganggap Ra Hee tak becus bekerja karena gagal dalam misi pertamanya ketika mencari berita tentang kecelakaan U-Kiss.

Siapapun pasti merasa canggung ketika baru pertama kali masuk kerja, ada rasa deg-degan dan juga masih tak tahu apa yang harus dilakukan. Dalam kasus Ra Hee, mood-nya langsung drop ketika melihat calon bosnya yang tampak arogan, marah-marah sambil membanting telepon. Kurasa Ra Hee tak salah bila pertama masuk kerja mengenakan baju resmi itu artinya dia menghargai dirinya dan juga perusahaan tempatnya bekerja. Bila dia memang salah kostum maka Ra Hee bisa menggantinya di hari berikutnya dan nyatanya Ra Hee ganti mengenakan baju casual dan sepatu kets di hari ketiganya bekerja.

Masalah tak becus bekerja, kurasa semua orang pasti pernah melakukan kesalahan ketika di awal bekerja dan menurutku hal itu sangat wajar karena para pegawai baru belum paham apa yang sebenarnya harus dilakukan. Mereka masih diliputi rasa gembira karena akhirnya bisa bekerja dan di akhir bulan akan mendapat gaji. Mereka tak punya bayangan seperti apa dunia kerja yang sebenarnya.

Ra Hee tak menduga bila dunia kerja yang mulai digelutinya teryata sangat kejam, menyita waktu dan perhatian tapi hanya digaji kecil. Kalau mau maka bekerjalah dan bila tak mau ya segera keluar karena masih banyak yang mengantri ingin bekerja. Belum lagi masalah omelan bosnya yang tak pandang tempat dan waktu. Rasanya benar-benar menyakitkan, ingin berhenti tapi butuh uang untuk biaya hidup tapi bila diteruskan maka akan makan hati. Para seniornya tak ada yang bersikap ramah padanya dan mereka seolah bersaing untuk bisa mendapatkan berita eksklusif.

Untuk menjadi pandai maka seseorang harus merasakan kebodohan dulu, mustahil bila seseorang tiba-tiba langsung mahir tanpa melalui tahapan belajar. Begitu pula dengan Ra Hee, dia masih baru dan berstatus pegawai magang maka wajar bila dia belum paham apa yang harus dilakukan ketika 'mengejar' berita tentang kecelakaan U-Kiss. Seharusnya Ra Hee diberi pengarahan dan kesempatan agar dia bisa melakukan yang terbaik bukannya dicela dan diomelin terus. Belum diberi kesempatan kedua tapi sudah dicap tak mampu. 

Beberapa catatan : 

Rasa tidak suka dapat mempengaruhi penilaian terhadap seseorang

Jae Kwan membenci Woo Ji Han karena menganggap artis itu licik. Jae Kwan sempat membuat berita eksklusif tentang pelecehan seksual yang dilakukan Woo Ji Han terhadap seorang wanita bernama Kim Jang Mi tapi sayangnya dia gagal memperkarakan Woo Ji Han dan kasus pelecehan itu menguap begitu saja seolah tak pernah terjadi. Imbasnya, Jae Kwan gagal menjadi direktur dan posisinya digantikan oleh Direktur Oh.

Rasa marah dan benci itu akhirnya membuat Jae Kwan terobsesi untuk mencari kelemahan Woo Ji Han. Jae Kwan tak mampu bersikap obyektif dan hanya memikirkan bagaimana cara untuk membalas dendam. Syukurlah dengan berjalannya waktu, Jae Kwan mulai bisa melihat bila ada yang salah dengan apa yang dilakukan Woo Ji Han. Mungkin sebelumnya Jae Kwan menduga bila Woo Ji Han itu hanyalah anak nakal sehingga Yu Jin terpaksa menutupi segalanya demi si artis. Nyatanya Woo Ji Han dan Yu Jin tak sepaham sehingga Woo Ji Han sengaja memancing keributan agar Yu Jin tak mendapat apa yang diinginkannya. 

Jae Kwan mulai mengetahui sedikit kebenaran tapi dia tetap nekat untuk melakukan sesuatu yang akhirnya membuatnya sedikit menyesal. Jae Kwan mempublikasikan artikel tentang kasus pelecehan seksual Woo Ji Han disertai dengan bukti medis yang asli tapi palsu. Akibat tulisannya, Woo Ji Han hampir saja celaka tapi Jae Kwan tetap tak mau disalahkan ketika Ra Hee mencelanya. Jae Kwan berdalih bila apa yang dilakukannya sudah benar. 

Rasa bersalah bisa membuat seseorang berbuat nekat 

Kurasa Ra Hee mulai tertarik dan penasaran dengan Woo Ji Han ketika dia tak sengaja menguping saat Yu Jin mengomeli artis itu. Ra Hee merasa bila hubungan mereka tak harmonis karena Yu Jin memarahi pria itu seolah kesal dengan tingkahnya sedangkan Woo Ji Han tak membantah sedikitpun. Coba saja kalau saat itu Ra Hee bisa merekam omelan Yu Jin pasti akan menjadi bukti yang meyakinkan di persidangan. Mungkin waktu itu Ra Hee masih shock dan tak menduga bila Yu Jin bisa sekasar itu pada Woo Ji Han.

Woo Ji Han pasti sangat kaget melihat Ra Hee bisa muncul di kamarnya tanpa ketahuan pengawal Yu Jin. Semula Woo Ji Han kesal melihat Ra Hee yang memotret tanpa izin dan berusaha mengancamnya tapi Woo Ji Han malah membantunya bersembunyi agar tak ketahuan Yu Jin. Akhirnya pria itu malah memberi Ra Hee beberapa fotonya saat bersama AHN dan tak keberatan bila Ra Hee mempublikasikannya. Ra Hee akhirnya mempublikasikan berita itu dan sejak saat itu dia kian penasaran dengan Woo Ji Han dan alasan mengapa Jae Kwan sangat membenci artis itu.

Kesempatan datang saat Jae Kwan memintanya untuk kembali menulis tentang Woo Ji Han dan kali ini mengenai pelecehan seksual pria itu disertai bukti yang lengkap. Semula Ra Hee setuju tapi kemudian berubah pikiran dengan alasan bila bukti medisnya mungkin direkayasa. Jae Kwan agak kesal tapi tak memaksa. Ra Hee mengira Jae Kwan tak jadi menulis berita itu tapi nyatanya Jae Kwan tetap menulisnya sendiri. Tulisan itu secara tidak langsung menyebabkan Woo Ji Han mendapat kecelakaan.

Ra Hee shock dan merasa sangat bersalah melihat Woo Ji Han mengalami kecelakaan di depan matanya. Ra Hee yakin bila pria itu tak bersalah dan dia bertekad untuk membantu 'membersihkan' nama pria itu.

Siapapun tak mungkin bisa berhasil melakukan sesuatu yang besar tanpa bantuan orang lain

Ra Hee bertekad membuat artikel dugaan seperti yang disarankan oleh Sun Woo. Menurut Sun Woo, tindakan Ra Hee ingin sangat nekat tapi Ra Hee tak perduli. Ra Hee ingin menebus kesalahannya pada Woo Ji Han walaupun pria itu tak secara langsung memintanya. Artikel dugaan berhasil ditulis tapi artikel itu tak bisa lolos tanpa persetujuan Jae Kwan.

Jae Kwan membaca tulisan itu akhirnya setuju walaupun dia protes karena Ra Hee menulis dirinya yang menerima suap dari Yu Jin berupa kodok dari emas padahal dia tak menerimanya. Ra Hee berdalih bila dia melihatnya, Jae Kwan menyerah dan bisa mengerti bila hal itu akan membuat ceritanya lebih menarik. Jae Kwan mau membantunya dan berjanji akan mempublikasikannya sebelum acara konferensi pers Yu Jin.

Nyatanya Jae Kwan tak berdaya karena dia masih punya atasan yang lebih berkuasa yaitu bos besar. Bos besar sudah berpesan pada Direktur Oh agar Jae Kwan tak mengusik Yu Jin dengan mempublikasikan artikel dugaan milik Ra Hee. Ra Hee sangat kecewa ketika menelepon Jae Kwan dan pria itu memintanya untuk menyerah saja karena tak bisa membantu mempublikasikan artikel yang sudah ditulisnya.

Ra Hee tak mau dan tak ingin menyerah, bila dia tak bisa mengandalkan bantuan Jae Kwan maka dia masih punya kesempatan untuk memprovokasi Yu Jin secara langsung karena dia hadir dalam konferensi pers Yu Jin. Bila Ra Hee tak ingin menyerah maka hal yang sama juga dirasakan oleh para senior Ra Hee. Mereka berusaha mencari cara agar bisa membantu Ra Hee dan mereka akhirnya memanfaatkan warnet untuk mempublikasikan artikel Ra Hee.

Kurasa hal yang paling menentukan keberhasilan Ra Hee adalah bantuan dari para seniornya. Ra Hee mungkin berhasil memprovokasi Yu Jin hingga membuat wanita itu kesal dan marah tapi Ra Hee tak bisa berkutik saat Yu Jin menantangnya untuk membuktikan semua tuduhannya. Untung saja di saat genting itu, artikel Ra Hee berhasil menjadi trending dan para wartawan yang hadir di konferensi pers itu mendapat link artikel Ra Hee dan membacanya.

Sayangnya, keberhasilan Ra Hee itu tak sempurna karena dia tak bisa mendapatkan Kim Jang Mi. Kim Jang Mi adalah kunci untuk membongkar semua kejahatan Yu Jin. Konsekuensinya Ra Hee harus mengundurkan diri. Semuanya termasuk Jae Kwan merasa kehilangan ketika melihat Ra Hee berkemas. Jae Kwan bahkan sengaja pergi agar tak melihat Ra Hee pulang.

Tapi sekali lagi, Ra Hee masih dinaungi keberuntungan. Saat Jae Kwan melangkah pergi, dia berpapasan dengan seorang wanita muda nan cantik. Wanita itu tak mengingatnya tapi Jae Kwan tak bisa melupakan wajah wanita itu, dialah Kim Jang Mi. Jae Kwan tersenyum lega dan pergi dengan langkah ringan.

Kim Jang Mi mendekati Ha Ji Eun dan bertanya tentang Ra Hee. Ra Hee mengangkat tangan tapi dia tak merasa mengenal wanita itu. kim Jang Mi megatakan sesuatu yang membuat semuanya kaget dan wakil ketua langsung menyambutnya. Ra Hee hanya diam tapi dia menata kembali barangnya yang sudah sempat dimasukkan dalam kardus. Tingkah Ra Hee itu membuat yang lain tertawa senang karena Ra Hee tak jadi keluar.

Ada rasa senang dan bangga ketika berhasil menolong seseorang

Ra Hee keluar dari gedung tempat konferensi pers dengan langkah ringan. Dia sengaja membuka tangan untuk menutupi wajahnya agar tak terkena cahaya matahari yang menyilaukan. Ada rasa lega setelah melalui semua rintangan yang ada, dia memejamkan mata untuk menikmati kesendiriannya. Dia senang karena usahanya membuahkan hasil seperti yang diinginkannya. Ra Hee kian terharu saat Seo Jin tersenyum sambil memberi jempol padanya.

Tiba-tiba ada seseorang yang menyapanya. Ra Hee membuka mata dan menoleh, dia melihat Woo Ji Han berdiri agak jauh di tempat yang agak gelap. Ra Hee kaget dan tak menyangka ketika pria itu membungkuk agak dalam untuknya. Ra Hee balas membungkuk singkat dan dia tak bisa berhenti tersenyum saat Woo Ji Han berterima kasih padanya karena telah membantu dirinya. Ra Hee mengangguk senang, dia merasa sangat dihargai karena Woo Ji Han secara langsung datang menemuinya dan berterima kasih.

Tak kenal maka tak sayang

Ungkapan itu rasanya pas untuk Ha Ji Eun. Sebelum Ra Hee, Jae Kwan sudah memiliki 2 anggota perempuan dalam timnya yaitu Ha Ji Eun dan Mun Kyung In. Keduanya memiliki cara yang berbeda dalam menyambut kehadiran Ra Hee. Mun Kyung In sangat ramah dan menerimanya dengan hangat sedangkan Ha Ji Eun cenderung bersikap memusuhi dan jutek pada Ra Hee.

Mungkin rasa tak suka Ha Ji Eun pada Ra Hee karena dia menganggap juniornya itu bodoh tapi suka membantah. Ha Ji Eun bahkan sempat dimarahi Jae Kwan gara-gara dia memberikan tugas mewawancarai boyband Romio pada Ra Hee dan ternyata bos besar tak suka dengan tulisan Ra Hee yang 'terlalu jujur'.

Ha Ji Eun mulai jutek dan sewot saat Ra Hee menunjukkan beberapa foto Woo Ji Han bersama AHN. Mungkin Ha Ji Eun berpikir mengapa pegawai magang bisa dengan mudah mendapatkan berita eksklusif? Ha Ji Eun terang-terangan menyindir saat Ra Hee mulai dipercaya bos besar untuk menulis beberapa berita eksklusif.

Wanita itu kian menunjukkan rasa tak sukanya ketika Sun Woo memutuskan untuk berhenti karena sudah tak tahan diomelin Jae Kwan. Ha Ji Eun menuduhnya bermuka dua karena pura-pura merasa bersalah dan mencoba menghentikan niat Sun Woo padahal sebenarnya Ra Hee senang bila Sun Woo keluar. Ra Hee sebenarnya cukup tahu diri dan dia merasa sangat bersalah ketika Sun Woo memutuskan keluar tapi dia tak bisa mencegahnya.

Dengan berjalannya waktu, kurasa Ha Ji Eun mulai respek pada Ra Hee terutama ketika Ra Hee protes pada Jae Kwan mengenai artikel pelecehan seksual Woo Ji Han. Ra Hee yakin bila artis itu tak bersalah karena bukti medisnya direkayasa. Ha Ji Eun tak keberatan ikut membantunya saat Ra Hee dalam kesulitan. Ha Ji Eun mau bergabung dengan rekan yang lain untuk pergi ke warnet. Bahkan saat mereka berhasil dan berjalan kembali ke kantor, Ha Ji Eun tanpa sadar mengungkapkan rasa khawatirnya pada Ra Hee. Wanita itu agak malu saat Young Hwa menyindirnya tapi mereka semua senang bisa membantu Ra Hee.  

Komentarku :

Kurasa film ini sedikit banyak berhubungan dengan film yang sudah kubahas sebelumnya yaitu The Star Next Door. Bila di film The Star Next Door lebih berfokus pada si artis yang berusaha menutupi kehidupan pribadinya agar tak menjadi bahan 'konsumsi' publik maka di film You Call It Passion ini justru berfokus pada suka dukanya awak media dalam menggali kehidupan pribadi si artis untuk dijadikan sebagai 'berita eksklusif'.

Dalam film ini aku mendapat banyak pengetahuan tentang dunia jurnalis. Ternyata tak mudah untuk menjadi wartawan karena banyak 'hal' yang harus dipatuhi sehingga tak bisa asal menulis berita saja terutama bila menyangkut orang yang penting atau perusahaan ternama. Salah tulis maka akibatnya bisa fatal dan banyak pihak yang akan terkena imbasnya.

Misalnya, dalam film ini Ra Hee mendapat kesempatan untuk mewawancarai boyband Romio karena Ha Ji Eun merasa dirinya terlalu berharga untuk mewawancarai boyband baru. Juru bicara Romio mengatakan hal yang buruk tentang bos dan perusahaan yang menaungi mereka (curhat). Ra Hee tentu saja senang mendengarnya dan tak ragu menulis dalam catatannya karena menganggap bila hal itu adalah berita besar. Ra Hee hanya tersenyum saat juru bicara Romio menegaskan bila Ra Hee tak boleh menulisnya. Ternyata bos besar tak suka dengan tulisan Ra Hee karena dianggap 'terlalu berani' dan memarahi Direktur Oh. Direktur Oh kesal karena dimarahi dan dia kian kesal saat Ra Hee tak sengaja menggodanya ketika menerima telepon. 

Akhirnya Direktur Oh ngobrol dengan Jae Kwan dan membahas tentang artikel Ra Hee. Jae Kwan tak keberatan bila artikel itu dipublikasikan tapi bos besar keberatan dengan alasan bos Romio sudah memberi banyak iklan untuk portal berita mereka. Direktur Oh mengatakan bila bos besar ingin artikel itu diperbaiki dan Ra Hee dipecat. 

Belum lagi tentang susahnya mendapatkan berita akurat dan terbaru dari narasumber. Coba saja lihat kalau ada berita yang hangat dan menghebohkan di tv, misalnya dalam film ini tentang kecelakaan yang menimpa boyband U-Kiss. Para wartawan dari berbagai media berlomba untuk mendapat berita terbaru, mereka bahkan rela untuk menginap di lobi rumah sakit dengan harapan bisa memperoleh berita eksklusif. Contoh lainnya, saat Chae Eun tak ragu menyakiti kakinya sendiri agar bisa masuk ke dalam rumah sakit yang sama dengan Woo Ji Han. 

Tapi ada satu hal yang kurang aku suka pada cara kerja wartawan, sepertinya mereka itu agresif sekali mengejar narasumber agar mau mengatakan sesuatu. Misalnya saat para wartawan itu 'menyerbu' Woo Ji Han agar mau memberikan klarifikasi tapi Woo Ji Han berhasil kabur. Tapi ketika di luar gedung, para wartawan itu terlihat 'kalap' saat melihat mobil Woo Ji Han. Mereka tak segan berlari mengejar hingga menghambat laju mobil. Woo Ji Han dan si sopir terlihat sangat panik dengan keadaan itu, jelas terlihat bila keduanya merasa takut dan tak nyaman.

Setelah nonton film ini aku menjadi lebih respek dengan profesi wartawan. Tak mudah menjadi seorang wartawan banyak menyita waktu, tenaga dan pikiran tapi gajinya tak seberapa. Kalau dibilang susah dan repot memang iya tapi aku yakin ada satu hal yang tak tergantikan di benak para wartawan yaitu saat mereka berhasil 'menolong' seseorang dengan tulisan mereka.

Dalam film ini Ra Hee tak bisa berhenti tersenyum ketika Woo Ji Han secara langsung datang padanya dan mengucapkan terima kasih. Ra Hee tak mampu berkata dan dia hanya mengangguk sambil tersenyum lebar. Pasti Ra Hee merasa senang dan puas bisa membatu Woo Ji Han, lepas sudah segala rasa penat dan lelah. Semuanya tergantikan dengan rasa lega dan bahagia. 














































































































































Review Film Menarik Lainnya

0 comments:

Post a Comment