Tuesday, May 14, 2019

Teacher's Diary ~Film Thailand~

Pernahkah kamu membayangkan bahwa sebuah diary bisa membuat 2 orang yang tak pernah bertemu sebelumnya menjadi merasa saling kenal dan dekat? Keduanya memiliki nasib yang jelek dalam urusan percintaan dan mereka berharap kelak bisa bertemu. Di film Teacher's Diary ini, suatu hal yang dianggap tak mungkin bisa menjadi mungkin.


Film Thailand tahun 2014 ini bergenre komedi romantis, mengisahkan Ann dan Song yang merupakan guru di daerah terpencil. Keduanya tak datang bersamaan tapi bergantian, Ann datang ke sekolah rumah kapal tahun 2011 dan kemudian pergi setelah setahun karena akan menikah, Song datang tahun 2012 tapi pergi dengan alasan ingin sekolah lagi. Ann kembali tahun 2013 karena patah hati. 

Kisah mereka unik karena dilatarbelakangi dunia pendidikan di tempat yang terpencil dan harus berkompromi dengan keadaan yang serba terbatas. Kecintaan mereka pada dunia pendidikan dan anak-anak membuat mereka bisa bertemu untuk pertama kalinya setelah hampir 2 tahun hanya bisa membayangkan dan bermimpi untuk melihat satu sama lain secara langsung.

Para pemain :

Laila Boonyasak sebagai Ann
Sukrit Wisetkaew sebagai Song
Sukollawat Kanarot sebagai Nui
Chutima Teepanat sebagai Nam
Witawat Singlampong sebagai pacar barunya Nam
Maneeratana Sricharoen sebagai Gigi
Wasin Kerdnana sebagai Muek
Kittametta Muangdee sebagai Tong
Phansiri Kositsuriyapan sebagai Tuna
Apitharn Rungcharoenrod sebagai Gao
Tuchapong Rugtawatr sebagai Chon
Chalee Sricharoen sebagai Kepala Sekolah

Sinopsis lengkap :

Kisah awal dibuka oleh seorang pria bernama Song, dia mantan atlet gulat dan sedang mencoba melamar menjadi guru SD di Sekolah Baan Gaeng Wittaya. Kepala Sekolah agak kesal melihat Song meledek salah satu murid, Kepala Sekolah menegur dan memanggil Song agar masuk ke ruangannya. Song hanya tersenyum sambil meninggalkan siswa kecil itu.


Di ruang Kepala Sekolah, seorang wanita yang bernama Ann kesal karena Kepala Sekolah menilai dirinya sebagai guru yang buruk hanya gara-gara dirinya memiliki tato 3 bintang di tangannya. Kepala Sekolah mengamati Song sambil melihat-lihat foto Song ketika masih menjadi atlet. Song mengiyakan saat Kepala Sekolah bertanya apakah dulu Song adalah mantan atlet gulat. Ann masih kesal tapi Kepala Sekolah bersikeras agar Ann menghapus tatonya bila masih ingin menjadi guru tapi Ann menolak. 


Kepala Sekolah memandang Song dengan sorot pesimis, Song mencoba menarik perhatian Kepala Sekolah bahwa dulu dirinya hebat saat masih menjadi atlet. Kepala Sekolah mendesah dan mengatakan saat ini tak ada lowongan. Song tak menyerah dan mencoba meyakinkan bahwa dirinya bisa melakukan apa saja termasuk membuat kerajinan tangan.


Kepala Sekolah ikutan kesal melihat Ann yang keras kepala, Beliau mengancam akan mengirim Ann ke sekolah rumah kapal milik sekolah bila Ann tetap mempertahankan tatonya. Kepala Sekolah bertanya apa Song bisa berenang? Song agak kaget mendengar pertanyaan itu. Ann menatap Kepala Sekolah dengan sorot marah, dia minta waktu 2 hari untuk berkemas agar bisa segera pergi ke sekolah rumah kapal.


Song dan Ann adalah dua orang calon guru yang terpisah oleh waktu tapi mereka memiliki tujuan yang sama yaitu sekolah rumah kapal yang ada di daerah terpencil (danau). Malam itu, Song langsung pergi dengan menumpang bis dan duduk bersebelahan dengan seorang pria kurus yang berwajah masam karena saat tidur, Song selalu bersandar padanya. 


Sedangkan Ann pergi bersama sahabatnya yang bernama Gigi dengan menyewa mobil yang dikendarai oleh seorang pria. Jalan yang mereka lalui sangat berliku dan tidak rata sehingga Ann dan Gigi harus berpegangan erat agar tidak terjatuh. Ann merasa tak enak pada Gigi tapi untungnya Gigi tidak bawel dan rela menemani Ann dengan riang. Mereka sampai di ujung danau dan sopir menyarankan agar mereka melanjutkan perjalanan dengan perahu.



Ann dan Gigi pergi dengan menumpang perahu yang dikendalikan oleh seorang ibu nan sabar. Sedangkan Song menumpang perahu yang dikendalikan oleh pria tua yang bernama Paman Boonmee. Beliau sangat bawel dan bertanya macam-macam hingga membuat Song jutek. Ann bertanya pada ibu tentang susahnya sinyal telepon dan ibu menjawab kalau hari cerah pasti ada sinyal tapi masalahnya ibu itu tak yakin ada berapa hari yang cerah dalam setahun. Ann hanya bisa tersenyum masam mendengar hal itu.


Mereka, baik Song dan Ann tiba di sekolah rumah kapal. Mereka berdua tersenyum penuh antusias melihat sekolah yang tak biasa itu. Gigi senang merasakan udara yang segar dan mengajak Ann untuk berfoto bersama. Setelah fotonya jadi, Gigi tersipu sendiri dan meminta Ann yang menyimpan foto itu. Ann curiga dan melihat foto itu, ternyata Gigi hanya memotret dirinya sendiri sedangnya Ann hanya terlihat tangannya yang bertato saja. Ann tersenyum kesal sambil memukulnya dan mereka tertawa bersama.


Song membuka pintu dan mengedarkan pandangan. Dia menulis di papan tulis dengan kapur dan bergaya seperti sedang mengajar. Dia bersikap seolah meminta muridnya untuk mengeluarkan buku dan menulis, kadang dia menegur murid yang nakal. Song tersenyum membayangkan bahwa dirinya akan segera menjadi guru. Dia iseng meraba bagian atas papan tulis, dia menemukan sekotak kapur dan sebuah buku bersampul coklat. Song langsung menjerit ketakutan ketika melihat laba-laba yang sudah mati di balik diary itu. 


Song penasaran dan membuka buku itu, ternyata itu diary milik Ann yang tertinggal di sana. Song membaca keluhan Ann tentang kondisi sekolah yang terpencil dan sepi itu. Ann mengibaratkan bila dia mati pasti dia sudah akan reinkarnasi duluan sebelum orang-orang menemukan mayatnya. Ann kini bisa mengerti mengapa para guru langsung ketakutan saat Kepala Sekolah mengancam akan mengirim mereka ke tempat ini. Song agak ngeri setelah membacanya dan langsung menutup diary itu dengan keras.


Song duduk manis di kursi sambil menunggu kedatangan murid-muridnya tapi dia malah tidur hingga terjatuh. Song langsung berdiri tapi kelasnya masih sepi. Song keluar dan berteriak memanggil tapi tak ada sahutan. Song mencoba menyibukkan diri dengan memotong kukunya dan menyirami tanaman. Song mulai bosan dan berniat pergi dengan menggunakan perahu tapi dia tak bisa mengendalikan perahunya hingga membuat tangannya terkilir. Song berteriak kesakitan tapi tak ada yang mendengarnya, hal itu kian membuat Song stress dan menangis keras. 


Senja mulai datang dan Ann menyalakan lampu agar bisa membantu Gigi yang kesulitan dengan keran air dari drum yang tersumbat. Ann menyarankan agar Gigi memukul drum itu tapi tetap tersumbat, Ann kembali menyarankan agar Gigi menarik kotoran di keran dengan jarinya. Gigi menurut tapi dia langsung menjerit hingga terjatuh saat bangkai cicak dan kotoran lainnya keluar dari keran. Kini air keran telah mengucur deras tapi Gigi sepertinya masih shock. Ann merasa tak enak saat Gigi meyakinkan bahwa dirinya baik-baik saja tapi langsung muntah-muntah. 


Ann kembali menulis bahwa semuanya terasa berat dan dia tak yakin apakah dirinya kuat atau tidak. Semuanya serba terbatas, tak ada air bersih, tak ada listrik juga sinyal telepon. Ann bersyukur masih ada Gigi yang menemaninya sehingga tak terlalu kesepian. Ann merasa kangen dengan kehidupan kota dan juga pacarnya.


Paginya, Song tampak sudah membalut tangannya dengan perban dan menggendongnya dengan sarung. Dia berniat mengambil air dengan memutar keran tapi sepertinya tersumbat, Song mencoba meniru trik Ann yaitu dengan membersihkan kotoran di lubang keran. Song kaget ketika beberapa kotoran keluar dan air kembali mengalir dengan deras. Samar-samar Song mendengar suara perahu motor. Dia bergegas memanggil dan memukul apa saja agar orang dalam perahu itu melihat atau mendengarnya.


Ternyata perahu itu dikendalikan oleh seorang ibu. Song bertanya tentang murid-murid di sekolahnya dan ibu itu balik bertanya apakah para murid itu tahu kalau sekolah itu sudah memiliki guru baru lagi? Akhirnya ibu itu bersedia mengantarkan Song pergi menemui para murid agar mau datang ke sekolah lagi. Song berkeliling dan berhenti di sebuah rumah, seorang ibu muncul sambil mengajak anaknya. Ibu itu berusaha membujuk anaknya agar mau pergi sekolah. Song mendapatkan satu murid dan kembali berkeliling sambil berteriak mengabarkan bahwa sekolahnya kembali buka.


Ann dan Gigi memulai sekolah mereka dengan mengadakan upacara bendera bersama 7 orang murid, 3 anak perempuan dan 4 anak laki-laki. Gigi sangat niat karena dia mengenakan seragam guru sedangkan Ann hanya mengenakan pakaian biasa seperti muridnya. Di dalam kelas, Gigi menyarankan agar mereka membagi murid dan Ann setuju. Dia minta Gigi mengajar murid yang masih kecil sedangkan Ann mengajar murid yang lebih besar. 


Ann mulai memperkenalkan diri sambil bergaya dan dia meminta Gigi untuk melakukan hal yang sama. Gigi agak ragu tapi Ann beralasan bahwa anak-anak lebih mudah menghafal gerakan badan. Ann menjadi malu sendiri dan menegurnya karena cara memperkenalkan diri Gigi sangat berlebihan dan anak-anak hanya diam termangu. Ann meminta para murid memperkenalkan diri satu per satu sambil bergaya. Ann menunjuk murid yang paling kecil.


Song hanya terdiam heran melihat seorang murid memperkenalkan diri sambil bergaya, murid itu kelas 1 dan bernama Muek (gurita). Song bertanya mengapa memperkenalkan diri sambil bergaya? Muek beralasan bahwa hal itu memudahkan dalam mengingat. Song hanya mengangguk. Murid lain berbaju kuning berdiri dan bergaya sambil menyebut namanya Tong (emas) kelas 2. Murid perempuan yang centil ganti berdiri, dia bernama Tuna kelas 3 dan ingin menjadi artis.


Song penasaran dan bertanya peran apa yang dikuasai olehnya? Tuna menjawab kalau dia bisa berperan apa saja. Song mengujinya dengan peran kehilangan pacar dan kehilangan anjing secara bergantian. Tuna melakukannya dengan penuh penghayatan dan hal itu membuat Song jadi stress sendiri. Song mengeluh bahwa bila kelak punya anak, dia tak akan mengizinkan anaknya nonton tv karena memberi pengaruh buruk.


Song kaget saat murid keempat memperkenalkan diri sebagai Gao (luar biasa), murid kelas 4. Song hanya terdiam bingung ketika Gao memintanya memperkenalkan diri. Murid yang lain meminta hal yang sama. Song ragu sejenak lalu memperkenalkan diri sebagai Song (dua), sambil memberi kode angka 2 dengan kedua jarinya. Para murid hanya diam melihat gaya Song yang kaku.


Tuna bertanya apakah Bu Ann juga akan datang? Song menjawab Bu Ann tak datang dan Tuna langsung cemberut. Song agak bingung karena keempat muridnya berbeda kelas. Akhirnya Song mengajari mereka satu per satu sesuai dengan kelasnya. Ketika Song fokus mengajari Muek untuk menghafal huruf, ketiga murid lainnya malah asyik bermain. Muek merasa bosan harus mengulang terus, dia mengeluh lapar dan murid lainnya langsung berteriak dengan menu yang diinginkannya. 


Song pusing melihat mereka ribut sendiri dan akhirnya berteriak agar mereka diam. Song meminta mereka kembali duduk dan mengerjakan tugas. Song beralasan ingin keluar sebentar untuk menelepon dengan minta ditemani oleh Gao. Setelah berkeliling bendungan, Song tak bisa mendapatkan sinyal. Gao mengeluh karena sudah beberapa kali berputar dan bensin juga mulai menipis. Gao ingin mereka kembali dan Song terpaksa menurut.


Song heran saat masuk dalam kelas, tak ada siapapun. Dia berusaha mencari dan mengedarkan pandangan, ternyata anak-anak sedang berenang sambil memanggilnya. Song kesal dan meminta mereka untuk kembali. Song khawatir terjadi sesuatu pada mereka tapi mereka beralasan bahwa sudah terbiasa berenang. Song marah dan menghukum mereka. Muek kesal dan mengatakan bahwa Bu Ann tak pernah memukulnya. 


Song marah karena mereka selalu membahas tentang Bu Ann padahal hanya ada dirinya. Bila mereka memang tak mau diajari oleh dirinya maka mereka tinggal bilang dan dia akan pergi. Muek marah dan mengusir Song lalu menangis, Tuna berusaha menenangkannya. Song langsung terdiam, dia merasa malu karena melampiaskan kemarahan dan kekesalannya pada anak kecil.


Malamnya mereka makan bersama dalam diam dan setelah keempat muridnya tidur, Song melamun sambil melihat video yang dibuatnya saat masih bersama pacarnya. Song tersenyum masam, dia kangen dengan kehidupan lamanya di kota saat masih bersama pacarnya. Hari terus berlalu dan kini tiba waktunya anak-anak untuk pulang dengan dijemput orangtuanya. Hari Senin mereka akan kembali untuk sekolah. 


Song memanfaatkan waktu libur untuk pergi ke dokter, dia ingin memeriksakan tangannya yang masih bengkak. Dokter menegur Song yang mengulur waktu untuk memeriksakan tangannya padahal parah. Dokter mengejek sambil bertanya apakah tangan Song harus diamputasi dan Song hanya bisa kaget. 


Di waktu yang lalu, Ann juga pergi ke dokter dengan ditemani pacarnya yang bernama Nui. Nui langsung meminta dokter memeriksa Ann dan Ann merasa kurang nyaman karena Nui agak bawel. Dokter memeriksa lengan Ann dan mengatakan bahwa ruam yang dialami Ann adalah reaksi alergi terhadap air. Ruam Ann bisa sembuh dengan obat dan salep. Nui kesal dan mengomel, dokter kaget dan memilih pergi.


Nui menumpahkan kekesalannya pada Ann yang keras kepala, dia ingin Ann menuruti kemauannya tapi Ann tak mau. Nui kembali mengungkit bahwa Ann lebih mementingkan tato daripada dirinya padahal dulu dia sudah melarang Ann untuk membuat tato. Ann kesal karena merasa Nui terpaksa berpacaran dengannya, Ann menantang agar mereka putus saja. Nui kian kesal karena Ann selalu mengulangi hal yang sama, Nui memilih pergi meninggalkan Ann.

Song pergi mengunjungi pacarnya yang bernama Nam. Di tengah jalan dia melihat Nam dibonceng oleh seorang pria dengan menggunakan motor miliknya. Song membuntuti mereka dan menunggu di lobi apartemen hingga pria itu keluar. Song langsung menubruk pria dan kabur menuju kamar Nam. Song marah dan Nam balik memarahi Song yang tak punya masa depan. Song jelas tak mau diremehkan dan dia ganti membahas tentang motornya yang dipakai orang lain. Nam kesal dan melemparkan kunci motornya. Dengan tangan yang diperban, Song pergi mengendarai motornya menuju sekolah rumah kapal sambil menangis. Tangannya sakit tapi hatinya lebih sakit.   

Ternyata setelah bertengkar dengan Nui, Ann juga kembali ke sekolah rumah kapal. Dia menumpahkan kekesalannya dengan menulis diary. Ann kesal karena Nui tak peka dengan keinginannya, Ann selalu menantang putus itu bukan berarti memang ingin putus tapi dia ingin agar Nui menyerah dan tak membahas tentang sekolah lagi. Ann ingin membuktikan bahwa dia bisa hidup mandiri tanpa pacar.

Song kembali dengan menumpang perahu milik Paman Boonmee, motornya berdiri dengan gagah di atas perahu. Song berbaring di kelas sambil berteriak kesal, dia menengadah dan kembali melihat buku bersampul coklat milik Ann. Song meraih buku itu dan membolak-balik setiap halamannya. Song merasa ada kesamaan antara dirinya dan Ann dalam masalah cinta. 

Hal yang membuat Song tertarik adalah istilah S.O.G (Sekolah Orang Galau). Ann mengenakan pelampung dan langsung terjun ke air sambil berteriak begitu pula dengan Song yang mengendarai motornya ke arah air. Mereka sama-sama muncul ke permukaan air dengan rasa optimis bahwa mereka mampu mengatasi segala masalah. 

Song mengisi liburnya dengan terus membaca diary Ann bahkan saat sedang di toilet. Song membolak-balik buku itu dan dia kaget sekaligus tertarik membaca salah satu pengalaman Ann yang dianggap mengerikan. Saat itu, Gigi ingin pipis dan langsung ke kamar mandi sedangkan Ann sedang mengajar. Tiba-tiba Gigi berteriak histeris sambil menangis. Ann dan para murid bergegas menghampiri Gigi, Gigi yang masih shock hanya menunjuk ke arah toilet. 

Ann dan Tuna memberanikan diri untuk melihat. Mereka berdua kaget karena melihat mayat di bawah toilet. Tuna berteriak dan anak yang lain ikutan histeris dan ketakutan. Ann memberanikan diri menarik mayat itu sebelum memanggil warga setempat. Song bergidik ngeri dan langsung bergegas keluar dari toilet sambil menutup pintu dengan keras. Song berdoa dengan mengatupkan kedua tangannya ketika pintu tak mau menutup.

Seorang biksu mendoakan anak-anak agar tak ketakutan dan seorang pria menghampiri Ann, pria itu menjelaskan bahwa setiap musim hujan biasanya selalu ada mayat yang tersangkut. Pria itu juga memuji keberanian Ann tapi Ann beralasan bahwa butuh waktu lama untuk memanggil orang dan kembali sedangkan dirinya tak ingin anak-anak ketakutan terlalu lama.

Ann heran melihat Gigi yang masih dengan wajah ketakutan muncul dengan membawa semua barangnya. Dia mengaku sudah tak tahan dan ingin pergi, dia berniat mengajak Ann juga tapi Ann tak mau karena sayang pada anak-anak. Gigi tak memaksa dan dia pergi sendiri. Ann tidak pernah menyangka bahwa tato yang dimilikinya berupa 3 bintang membuatnya terdampar sejauh ini. Saat Ann memandangi kepergian Gigi dengan sorot galau, seorang anak datang dan mengenggam tangan Ann.

Malamnya Ann kembali menulis bahwa dia tak akan menyerah. Saat sedang asyik menulis, semua anak datang padanya dengan alasan takut dengan hantu dan ingin bersama Ann. Kekecewaan dan kesediahan Ann sedikit berkurang melihat anak-anak yang polos dan lugu itu. Song kian terinspirasi setelah membaca diary itu, dia merasa kuat dan mampu bertahan seperti Ann.

Ann kembali ke daratan dan dia agak kesal melihat Nui datang menjemputnya. Ann kembali bersikap ketus tapi Nui malah melunak dan tak akan membahas tentang sekolah kapal lagi, dia hanya berpesan bila Ann ingin menyerah maka Ann harus kembali. Ann heran tapi Nui beralasan bahwa Ann pasti akan minta putus bila dia membahas masalah sekolah lagi. 

Ann tersenyum senang dan bersikap manja pada Nui. Ann berjanji bahwa setiap Senin sampai Jumat, dirinya akan berusaha menjaga diri sendiri dan bila Sabtu dan Minggu maka tugas Nui untuk menjaganya. Nui hanya tersenyum masam dan mengaku bahwa dirinya sangat kesepian karena hanya bertemu Ann selama 2 hari saja. Ann merajuk bahwa hal itu bagus bagi hubungan mereka, mereka bisa saling melepas rindu ketika bertemu.

Ann kembali optimis, kini hubungannya dengan Nui telah membaik dan dia yakin bisa terus bertahan walaupun harus mengajar 7 murid sendirian. Ann menggunakan trik baru agar muridnya tak bosan, dia meminta mereka mengerjakan soal di papan dan siapa yang berhasil menjawab dengan cepat dan benar maka akan mendapat tanda bintang ditangannya seperti milik Ann. Song mencoba meniru gaya mengajar Ann tapi keempat muridnya tak ada yang bergerak maju ke arah papan tulis. 

Song bingung dan membujuk Muek untuk belajar mengeja tapi Muek tak semangat dan ketika Song minta Muek mengeja C untuk cat / kucing, Muek malah menyebut ular sambil menunjuk ke arah belakang Song. Song mengira Muek hanya bercanda tapi Muek bersikeras menyebut ular. Song menoleh dan langsung kabur ketika melihat ular berwarna hitam putih dibelakangnya.

Anak-anak berteriak panik dan naik ke atas meja sambil berteriak minta tolong pada Song. Song kembali dan mengintip ular yang seolah sedang menantangnya. Song memberanikan diri untuk membunuh ular itu. Dia mengambil sebuah kursi dan berniat memukul ular tapi Song histeris saat kursinya hancur sebelum waktunya. Anak-anak terus menyemangatinya dan Song mengambil sebuah kayu bagian dari kursi yang hancur lalu berteriak sambil memukuli ular itu dengan garang.

Anak-anak bertepuk tangan sambil menyorakinya dan Song tertawa senang tapi dia langsung histeris dan lemas ketika melihat lengannya ada bekas seperti gigitan ular. Anak-anak gantian panik dan berusaha menolong Song. Muek memeriksa kayu yang baru saja dipegang Song dan dia menegaskan bahwa ular itu tak menggigit Song tapi luka itu karena paku yang ada di kayu. Anak-anak kesal karena merasa dibohongi, mereka meninggalkan Song.

Gao memukul lonceng sambil menirukan gaya Song yang panik karena mengira digigit ular. Song kesal dan memukulnya dengan gemas. Anak lainnya muncul sambil memberikan obat untuk Song. Mereka berebut ingin menulis sesuatu di perban yang membalut lengan Song. Song tersenyum melihat tulisan muridnya, mereka menulis "Pak Song Keren" dan memberi tanda bintang. Malamnya, Song dan anak-anak bekerjasama memasak di dapur.

Scene berganti saat Ann selesai memasak dan meminta Muek untuk mencoba masakannya, yang lain iri dan ingin ikut mencoba. Ann meminta mereka suit untuk menentukan giliran agar tak berebut. Ann bergembira bersama ketujuh muridnya, mengepel bersama. Di lantai 2 tempat upacara, Song dan keempat muridnya sedang bermain gulat di atas kasur yang dijemur. Ann belajar berenang dengan dipandu para muridnya. Song berlatih mengendalikan perahunya dengan diawasi oleh keempat muridnya.

Song sedang mengamati tiang kayu yang digunakan Ann dan muridnya sebagai pengukur tinggi badan. Song mengira-ngira tinggi Ann dan dia memberi tanda sebagai salam perkenalan seolah tiang kayu itu adalah Ann. Song tersenyum sendiri seolah sedang berkenalan dengan Ann.

Song memiliki ide dan meminta keempat muridnya untuk mencari barang milik orang lain yang tertinggal di tempat ini. Song berharap menemukan sesuatu milik Ann selain diary. semula mereka melakukannya dengan antusias tapi mereka mengeluh karena membosankan. Tong menemukan foto Bu Ann dan Tuna mendekat untuk ikut melihat tapi Song langsung merebut foto itu.

Song melihat foto itu dan bertanya apakah itu fotonya Bu Ann? Tong dan Tuna mendekati Song, Tuna menjelaskan bahwa wanita itu adalah Bu Gigi sedangkan Bu Ann hanya terlihat lengannya saja. Tuna ingat bahwa ada 3 tato bintang di tangan Ann. Song tersenyum sendiri sambil memandangi gambar bintang di perbannya yang ternyata sama dengan tato milik Ann.



Saat pelajaran, Song meminta keempat muridnya menggambar Bu Ann. Muek bertanya mengapa mereka harus menggambar Bu Ann? Song beralasan bahwa mereka yang mengenal Bu Ann, Song ingin tahu apakah mereka masih mengingat Bu Ann atau tidak. Mereka mengangguk dan mulai menggambar. Song mengamati gambar Bu Ann yang telah dibuat mereka dan gambar Muek yang paling lucu. Song heran dan bertanya tapi Muek meyakinkan bahwa itu adalah gambar Bu Ann. Gaya Muek yang polos membuat Song dan yang lainnya tertawa. 




Song tersenyum sendiri saat memandang gambar Bu Ann hasil karya keempat muridnya. Dia sedikit grogi ketika Tuna berteriak sambil mengatakan Bu Ann sudah datang. Song bergegas keluar dan dia melihat Bu Ann sedang merapikan bajunya. Song mendekat sambil terus mengamati lengan Bu Ann yang bertato bintang, dia ingin memastikan bahwa tak salah orang. Song memberanikan diri untuk menyapa dan dia langsung kaget dan tercebur ke air saat Bu Ann yang mengenakan topeng itu menoleh.




Song kembali kaget karena wajahnya tersiram air, Song langsung terbangun dari mimpinya. Rupanya Gao sengaja membangunkan Song dengan cara menyiram air ke wajahnya. Gao panik dan mengatakan kalau badai akan datang. Mereka berdua melihat ke arah badai yang segera datang. Angin mulai bertiup kencang, Song meminta semuanya bersembunyi dalam kelas dan memerintahkan agar menutup semua jendela.

Angin kencang menghempaskan semuanya, jendela terbuka dan buku serta apa saja terbang berhamburan. Song berusaha tenang dan melindungi keempat muridnya yang ketakutan. Song melihat diary Ann jatuh, dia ingin mengambilnya tapi tak kuasa meninggalkan anak-anak yang histeris sambil memeluknya dengan erat. Song hanya bisa pasrah melihat diary Ann yang jatuh tersapu air.

Ketika badai sudah reda, Song berusaha mengumpulkan kertas diary Ann yang berceceran di air. Song tersenyum setelah menemukan diary Ann tapi hatinya langsung sedih melihat sekolah rumah kapal yang kini telah hancur. Song mulai menjemur kertas milik Ann dan dia kembali tersenyum ketika melihat tulisan Ann yang luntur, isinya tulisannya adalah "Jangan Menyerah". Song seperti mendapat suntikan semangat dan dia bersama anak-anak mulai membersihkan sekolah rumah kapal itu.

Mereka bergotong royong agar sekolah rumah kapal bisa dihuni kembali. Di sela-sela waktunya, Song memperbaiki diary Ann dan memperjelas tulisan yang luntur karena air. Song tanpa sadar mengomentari tulisan Ann, dia menulis bahwa dirinya juga kesepian dalam salah satu halaman diary itu.

Ann menunggu beberapa murid yang masih belum selesai mengerjakan tugas. Ann memanggil Chon yang kini hanya sendirian sementara teman yang lain sudah selesai. Ann berusaha mengajari Chon yang kesulitan menjawab soal matematika langsung dari papan tulis. Sebenarnya Chon bisa mengerjakan tapi dia tak suka pelajaran matematika karena dia hanya ingin menjadi nelayan seperti ayah dan kakeknya.

Ann tertegun mendengar pengakuan Chon, dia berusaha memberi pengertian pada muridnya itu. Ann meminta Chon membantunya menghapus papan tulis. Ann ingin Chon berjanji satu hal padanya bahwa apapun yang terjadi Chon harus tetap sekolah. Chon mengiyakan dengan suara pelan. Teryata saat ujian, Chon tak datang. Ann hanya bisa menatap sedih ke arah bangku Chon yang kosong.

Ann pergi ke rumah Chon dengan menggunakan perahu. Ann melihat Chon bersama ayahnya. Ann menghampiri Chon dan menegurnya tapi Chon hanya bisa diam. Ayahnya yang memberikan alasan bahwa dia sengaja melarang Chon pergi ke sekolah. Kakak Chon pergi ke kota untuk mengirim ikan sehingga ayah tak ada yang menemani. Ann berusaha sabar dan menjelaskan bahwa bila Chon tak ikut ujian maka dia tak bisa lulus SD dan meneruskan pendidikan. Ayah mengaku tak keberatan dengan hal itu.

Ann mulai kesal dan menyindir sambil bertanya apakah ayah ingin anaknya memancing ikan seumur hidupnya? Ayah menjelaskan bahwa bila dia tak pergi memancing maka dia tak bisa menghidupi keluarganya. Ann balas menjawab bahwa itu sudah menjadi tugas ayah sebagai kepala keluarga tapi bila anak ingin sekolah maka itu adalah haknya.

Chon yang semula hanya diam kini mulai merasa tak enak melihat dan mendengar mereka beradu argumen tentang dirinya. Chon memanggil Bu Ann dan mengatakan bahwa dia tak ingin sekolah lagi, dia hanya ingin bersama ayahnya dan menolong ayahnya mancing. Ann merasa kalah, dia tak bisa memaksa Chon terlalu jauh. Ann kembali ke sekolah rumah kapal.

Ann memanggil semua muridnya untuk berkumpul mendekatinya. Ketika mereka sudah berkumpul, Ann bertanya tentang cita-cita mereka. Ann agak kesal karena mereka menjawabnya dengan nada bercanda. Ann menegur mereka agar menjawab dengan serius. Tong menjawab nelayan dan yang lainnya ikut menyahut. Intinya, mereka semua hanya ingin menjadi nelayan, mencari ikan atau memancing. 

Entah mengapa ada rasa kecewa saat melihat anak-anak itu tak mau melanjutkan sekolah. Ann menegur dirinya sendiri bahwa dirinya hanya seorang guru yang tugasnya mengajar saja. Anak-anak itu hanyalah murid jadi tak seharusnya dia terlalu perduli pada mereka. Saat kembali ke daratan, Ann hanya bisa menangis dalam pelukan Nui. Song menutup diary Ann, dia bertekad ingin membantu Ann.

Song pergi ke rumah Chon saat Chon sedang membantu ayahnya. Song memperkenalkan diri pada ayah dan mengutarakan niatnya untuk mengajak Chon kembali sekolah. Song berusaha membujuk Chon dengan memberi alasan bila sekolah maka tak akan mudah ditipu orang. Ayah melirik putranya dan mengatakan bahwa Chon sudah setahun tak sekolah, mungkin tak ada sekolah yang mau menerimanya.

Song mencoba meyakinkan bahwa Chon pasti bisa sekolah lagi karena dia kenal baik dengan kepala sekolah. Ayah pesimis dan bertanya bila Chon sekolah maka siapa yang akan membantunya mencari ikan? Song memastikan bahwa dia akan membantu ayah bila tiba waktunya memancing, Song berjanji bila saat libur akhir pekan dirinya akan datang membantu. Ayah bertanya dengan nada heran apakah saat libur Song tak akan pulang? Song mengaku kalau dirinya ingin berhemat jadi tak perlu menyewa kamar atau pulang. 

Song sengaja menceburkan diri ke air agar ayah tahu kesungguhan hatinya tapi ayah malah memintanya untuk naik kembali karena di dekat sini tak ada ikan, ikan hanya ada di kaki gunung. Ayah berjanji akan mengajak Song memancing bila tiba waktunya. Ketiganya tersenyum karena masalah setahun yang lalu akhirnya bisa dipecahkan dengan mudah.

Akhirnya Chon ikut Song ke sekolah rumah kapal. Song mencoba mengulangi apa yang pernah Ann ajarkan pada Chon tapi Song malah bingung sendiri, dia tak tahu cara menjelaskan soal matematika itu. Chon mengaku bila dulu Bu Ann pernah mengajarinya tapi sekarang dia lupa. Song mencoba menjelaskan kembali tapi hasilnya malah salah.

Saat ujian semester, Song melihat kelima muridnya resah karena tak bisa mengerjakan soal. Kepala Sekolah yang memeriksa hasil ujian itu menjadi kecewa dengan kinerja Song. Kepala Sekolah mengingatkan bahwa Song harus lebih giat mengajar, bila semester depan Song tak bisa meningkatkan nilai muridnya maka sekolah tak akan memperpanjang kontraknya. Song kecewa mendengarnya tapi tak bisa berbuat banyak. 

Song pamit pergi tapi kemudian dia memberanikan diri bertanya pada Kepala Sekolah tentang Bu Ann yang pernah mengajar di sekolah rumah kapal. Kepala Sekolah menjelaskan bahwa Bu Ann akan menikah makanya dia dipindahkan ke sekolah yang sama dengan pacarnya di Mon Fah. Song kembali kecewa ketika Kepala Sekolah menambahkan bahwa alasannya mempekerjakan Song adalah untuk menggantikan posisi Bu Ann.

Song segera kembali ke sekolah rumah kapal, dia membuka dan meneliti isi diary Ann. Song ingin tahu apakah Ann pernah menulis tentang lamaran atau rencana menikah. Dia membolak-balik isi diary itu tapi tak melihat hal yang diinginkan. Song penasaran saat menemukan halaman yang dilem seolah ingin ditutupi. Dengan hati-hati, Song membukanya dan dia langsung lemas melihat keluhan Ann tentang cara melamar kekasihnya yang tak seru.

Ann sedang duduk bersama Nui di halaman sekolah tempat Nui yang kini menjadi wakil kepala sekolah. Nui bertanya apakah Ann ingin mengajar di sekolah ini? Ann mengedarkan pandangan ke arah lapangan yang banyak anak-anak yang bermain, ada yang berlatih alat musik dan ada pula yang bercanda bersama temannya. Ketika Ann hanya diam, Nui menambahkan bahwa disini ada sesorang yang juga menginginkan Ann. Ann terkejut dan menoleh, Nui mengatakan bahwa dia tak ingin jauh dari Ann lagi karena dia tak tahan bila hanya bertemu selama 2 hari dalam seminggu. 

Nui Mengenggam tangan Ann dan ingin mengatakan sesuatu tapi perhatian Ann terpecah ketika mendengar suara instrumen yang dimainkan oleh anak-anak. Ann malu dan meminta mereka berhenti, dia menyindir Nui karena dulu Nui pernah mengatakan akan menikah bila sudah menjadi kepala sekolah dan memiliki rumah. Nui beralasan bahwa berada di dekat Ann sudah cukup baginya. Pengakuan itu membuat Ann tersenyum simpul. Dia mengiyakan saat Nui bertanya apakah Ann setuju menikah dengannya. Nui tak kalah senang dan mereka bertukar senyum.

Song marah dan kesal, dia membuang diary Ann dalam bak kecil untuk membakar kertas yang menyala. Song melihat api mulai membakar diary itu tapi beberapa saat kemudian Song berubah pikiran. Dia menendang bak itu hingga terguling dan diary yang mulai terbakar itu jatuh. Song menginjak-injak api yang masih menyala hingga api tak lagi membakar diary itu.

Paginya, Song pergi dengan membawa diary itu. Dia berniat untuk mencari Bu Ann di sekolahnya yang baru. Song berkeliling dan mengamati setiap guru perempuan yang dilihatnya. Song tak tahu wajah Bu Ann, dia hanya berpedoman pada perkiraan tinggi badan dan 3 tato bintang yang ada di tangan Bu Ann. Song sudah lelah mencari tapi kemudian dia mendengar seorang murid yang memanggil Bu Ann. Song mendekat dan mengamati tangan wanita itu tapi dia langsung pergi ketika wanita itu menoleh dan ternyata tangannya tanpa tato.

Wanita itu sebenarnya memang Bu Ann tapi kini Ann telah menghapus tatonya. Bu Ann sedang menjelaskan pelajaran fisika tentang daya apung dan menggunakan 2 murid yang berperan sebagai peraga di dalam kolam renang. Saat itu kepala sekolah dan Nui muncul, kepala sekolah memanggil dan mengkritik cara mengajar Ann yang tak sesuai aturan. Kepala sekolah mengeluh pada Nui bahwa ini bukan yang pertama kalinya Ann melanggar peraturan. Ann berdalih bahwa murid memerlukan praktik langsung agar bisa mengerti. Kepala sekolah menyindir bahwa dirinya dulu juga guru fisika tapi muridnya bisa mengerti tanpa perlu praktik langsung.

Ann mencoba bersabar dan menjelaskan bahwa apa yang dilakukannya adalah metode menghafal diluar kepala dan tak bisa disamakan dengan mengerti saja. Nui mencoba mengendalikan kemarahan Ann tapi Ann masih kesal dan balas menyindir bahwa setiap guru memiliki cara mengajar yang berbeda. Bila metode yang digunakannya bisa membantu muridnya maka Ann akan melakukannya. Kepala sekolah menyerah dan meminta Nui menyelesaikan masalah itu. Ann kian kesal dan ingin membantah tapi Nui malah membentaknya. Nui memutuskan bahwa Ann tak boleh membawa muridnya di kolam renang lagi.

Ann memandangi Nui dengan sorot tak percaya. Bukannya membela dirinya tapi Nui justru ikutan menentangnya. Ann kesal dan pergi tanpa mengatakan apapun. Nui merasa bersalah dan mengejarnya. Nui mencoba membujuknya tapi Ann yang masih kesal malah mengatakan bahwa promosi jabatan Nui datang di waktu yang tak tepat. Ann tahu bahwa kepala sekolah tak menyukainya. Nui balas mengkritik Ann yang tak bisa beradaptasi. Ann marah dan balik bertanya apakah yang dilakukan selama ini masih kurang?

Ann menunjukkan tangannya yang kini tanpa tato, dia rela menghapusnya demi menuruti permintaan Nui. Dia sudah berusaha melakukan apa yang Nui minta tapi Nui seolah tak pernah puas. Nui mengingatkan bahwa ini bukan tentang kepuasan. Sekolah mereka sekarang bukan sekolah rumah kapal, sekolah ini memiliki peraturan yang harus ditaati.

Ann terdiam dan mengatakan bahwa sebenarnya dia merasa tak cocok di sekolah ini, dia lebih nyaman mengajar di sekolah rumah kapal. Ann tahu bahwa Nui sudah berusaha keras membuatnya bisa mengajar di sekolah ini tapi Ann memilih kembali ke sekolah rumah kapal agar mereka tak bertengkar lagi karena Ann sudah muak. Nui merajuk dengan mengatakan bahwa Ann tak bisa melakukannya karena 3 bulan lagi mereka akan menikah. Ann kembali diam seolah tak tahu harus berkata apa.

Sementara itu, Song yang patah hati karena tak bisa bertemu dengan Bu Ann, berjalan di kota yang kebetulan sedang merayakan festival lampion. Song makan sambil melamun ketika melihat sepasang kekasih berjalan dengan mesra sambil bercanda. Sebelum kembali ke sekolah rumah kapal, Song menyempatkan diri untuk berdoa. Paginya, Song ikut menulis dalam diary milik Ann. Song curhat bahwa hatinya hancur dan sedih karena kehilangan sahabat terbaiknya di waktu yang bersamaan.

Saat itu Ann sedang mengajar di kelas. Seorang murid heran melihat wanita yang perutnya mulai membuncit berdiri di depan pintu kelas seolah sedang mencari seseorang. Ann menoleh dan keluar untuk menemui wanita itu. Mereka bicara sebentar dan Ann langsung pergi meninggalkan kelasnya sambil meneteskan airmata. Ann berpapasan dengan Nui yang mencoba membujuk dan menjelaskan tapi Ann hanya diam dan pergi.

Nui mengejar Ann yang berjalan menuruni tangga, dia ingin Ann mengatakan sesuatu tapi Ann tetap diam. Nui merayu bahwa dia hanya mencintai Ann dan tak ada wanita lain. Nui mengaku kalau dia salah, dia berdalih bahwa dia kesepian. Nui mengejar Ann yang sudah sampai di mobilnya. Nui ingin Ann mengatakan sesuatu. Ann kesal dan bertanya apakah Nui akan bicara jujur bila wanita itu tidak hamil? Nui terdiam dan tak bisa menjawab. Ann sedih dan kecewa, dia pergi meninggalkan Nui yang kini tak mengejarnya lagi.

Ann kembali ke sekolah lamanya dan dia hanya berdiri di depan pintu ruang Kepala Sekolah. Dia merasa ragu ketika Kepala Sekolah balas melihatnya. Mereka akhirnya berbicara dan Ann mengatakan kalau kini dia sudah mengundurkan diri dari Sekolah Mon Fah dan bila Kepala Sekolah tak keberatan, dia ingin kembali mengajar di sekolah rumah kapal. Kepala Sekolah tersenyum dan tak menolak. Beliau justru senang karena guru yang lama (Song) kurang pandai mengajar dan akhir tahun kemarin kontraknya sudah habis. Bila Ann kembali maka dirinya tak perlu mengkhawatirkan tentang tahun ajaran baru. 

Ann tersenyum senang. Dia berterima kasih karena kembali diberi kesempatan. Kepala Sekolah balas tersenyum dan mengatakan bahwa guru yang baik pasti banyak dicari. Ann kembali tersenyum dan dengan nada terbata dia juga minta maaf atas tindakannya di masa lalu yang keras kepala dan tidak sopan. Kepala Sekolah hanya tersenyum. Beliau mengatakan bahwa hal itu sudah lama dia lupakan. Mereka berdua saling tersenyum seolah sudah menemukan solusi yang mereka butuhkan.

Kini Ann telah kembali di sekolah rumah kapal. Dia sedang menunggu dan dia tersenyum melihat Muek, Tuna, Tong dan Gao yang berteriak histeris melihatnya. Ann menyambut mereka dengan bahagia. Tuna mengeluh bahwa dirinya sangat kangen pada Ann. Gao mengeluh bahwa sudah setahun Ann pergi. Paman Boonmee muncul sambil membawa genset baru kiriman Kepala Sekolah. Beliau berpesan bahwa sekitar 2 minggu lagi mekanik akan datang untuk menyambung beberapa lampu. Ann mengiyakan.

Ann bertanya mengapa sekolah rumah ini menjadi agak berubah? Paman Boonmee menjelaskan bahwa waktu itu terjadi badai dan untungnya Pak Song bisa memperbaiki sebagian besar kerusakannya. Ann hanya mengangguk mendengarnya sambil menengadah melihat kondisi sekolahnya. Chon muncul dengan membawa kardus dan Ann agak terkejut melihatnya.

Ann sedang mengukur tinggi Gao, dia memuji Gao yang kini tingginya hampir setinggi dirinya. Gao membalas bahwa dirinya tidak ingin menjadi pendek dan Ann tersenyum sambil meremas rambut Gao. Tiba giliran Chon yang akan diukur tapi Ann hanya diam padahal Chon sudah berdiri di tiang kayu.

Ann menyindir Chon yang memutuskan kembali sekolah. Chon mengatakan bahwa semester kemarin dia kembali sekolah. Pak Song membantu ayahnya memancing setiap akhir pekan dan sebagai gantinya, Pak Song meminta ayahnya agar mengizinkan dirinya kembali sekolah untuk menyelesaikan kelas 6. Ann bertanya apakah Chon memang ingin sekolah? Chon mengatakan bahwa Pak Song pernah membujuknya dengan mengatakan lebih baik banyak belajar agar tak ada yang menipunya. 

Ann tersenyum dan mengukur Chon kemudian menyuruhnya pergi. Ann menegadah dan melihat Song juga mengukur tingginya sendiri. Ann mengira-ngira tinggi Song. Hal sama seperti yang pernah dilakukan Song dulu kini juga dilakukan oleh Ann yaitu tersenyum sendiri sambil memandangi tiang kayu itu.

Ann sedang memasak sambil mengajari anak-anak tentang perkalian. Muek muncul seraya menyerahkan sebuah surat untuknya. Ann menerima surat itu dan wajahnya menjadi masam. Tong dengan nada penasaran bertanya apakah itu dari pacar Ann? Ann kesal dan menghukumnya dengan menyebutkan perkalian 1 sampai 12 lalu diulang mundur. Tong menunjukkan ekspresi kalah dan diikuti oleh tawa anak yang lainnya. Ann mencampakkan surat dari Nui dan menindihnya dengan botol kecap.

Ann menghapus papan tulis dan memasukkan kapur dalam kotaknya. Dia mengembalikan kotak itu di atas papan tulis. Ann mendongak dan meraih diarynya yang ternyata masih ada tapi kondisinya agak kusam akibat bekas terbakar. Ann membuka diarynya dan dia kaget karena Song ikutan menulis dalam diarynya.

Song curhat, dia merasa sedih ketika mendengar kabar dari Kepala Sekolah bahwa Bu Ann akan segera menikah. Song merasa tubuhnya dibanting dan dihajar. Song menganggap bahwa mereka sama-sama murid S.O.G. Song menyadari bahwa Bu Ann tak mengenalnya tapi saat dirinya patah hati, dia meniru gaya Ann yang melompat dalam air. Ann mencoba mengingat hal itu.

Song melanjutkan bahwa selama 6 bulan terakhir, hidupnya benar-benar dicurahkan pada anak-anak, sekolah, air dan juga memikirkan Bu Ann. Ann tersenyum membacanya. Saat Hari Loy Krathong, Song pergi dan menghanyutkan keranjang Krathong untuk Ann juga. Song membuat permohonan agar Ann bisa bahagia.

Song mengaku bahwa dirinya tak pernah berpikir untuk menjadi guru karena sejak awal hidupnya memang selalu susah. Song merasa beruntung karena menemukan diary milik Ann, hal itu telah menjadi panduan sangat berarti baginya. Song kini menyadari bahwa hidup di sekolah rumah kapal bukan hanya menjadi guru tapi sekaligus menjadi seperti orangtua bagi anak-anak. Ketika musim dingin menjelang, untuk pertama kalinya Song belajar bahwa memilih baju hangat tak semudah yang dibayangkannya.

Song membelikan baju hangat untuk kelima muridnya tapi mereka tetap saja berebut padahal sudah punya sendiri-sendiri. Song membuka perban di tangannya dan berusaha lebih giat mengajar agar semuanya bisa lulus ujian tapi anak-anak selalu beralasan sakit perut bila pelajaran matematika. Song juga harus bersembunyi di toilet untuk belajar mengerjakan soalnya sebelum diajarkan pada mereka.

Song baru menyadari bahwa ada satu hal yang tak pernah diketahui oleh mereka, yaitu kereta. Saat mengerjakan soal matematika, Chon bertanya seperti apa rasanya naik kereta? Song balik bertanya apakah Chon tak tahu kereta? Chon balik menjawab bahwa dia tahu tapi tak pernah naik kereta. Song punya ide dan tersenyum, dia mengajak mereka untuk naik kereta.

Song dan Chon naik perahu, dengan perahu itu mereka menarik sekolah rumah kapal. Song berusaha menjelaskan soal matematika tentang kereta dengan praktik langsung. Chon belajar memahami sambil membayangkan naik kereta sementara anak yang lain ikut senang melihat sekolah rumah kapalnya bergerak mengelilingi bendungan. Song sadar bahwa dirinya tak bisa menjadi guru yang baik di sekolah, Song menduga itulah alasannya mengapa dirinya bisa membuat mereka lebih mengerti dengan praktik langsung. Ann duduk diayunan sambil memandangi gambar Song tentang pelajaran kereta di dalam diarynya.

Mendekati waktu ujian, anak-anak menggantungkan semua harapannya pada ujian itu. Semuanya berangkat dengan semangat dan semuanya lulus ujian kecuali Chon, dia gagal. Semuanya menunggu dan terkejut melihat Chon yang keluar kelas dengan langkah gontai. Di atas perahu, Chon menangis sedih. Dia mengaku bisa mengerjakan ujian itu tapi dia kehabisan waktu. Song berusaha menghibur Chon dengan memeluk sambil mengatakan bahwa ini semua salahnya karena dia guru yang buruk.

Song menemui Kepala Sekolah dan berniat mengundurkan diri karena ingin sekolah lagi. Kepala Sekolah mendukung keinginan Song karena dengan belajar maka kelak akan sangat membantu bila Song ingin mengajar kembali. Song bertanya tentang nasib anak-anak dan Kepala Sekolah menjamin bahwa mereka akan baik-baik saja karena guru yang lama telah kembali. Song senang mendengar kabar itu.

Terakhir, Song menulis bahwa anak-anak selalu bercerita tentang Bu Ann. Song juga minta maaf karena telah membuat diarynya rusak. Song berterima kasih pada Ann karena telah membuatnya mengerti bahwa merindukan seseorang yang jauh disana dapat membuatnya bahagia dengan cara yang tak pernah dibayangkan sebelumnya. Ann menutup diarynya dan dia mengedarkan pandangan seolah ingin menemukan sesuatu.

Kepala Sekolah puas dengan hasil ujian anak-anak sekolah rumah kapal, Beliau memuji Ann yang tak pernah mengecewakannya. Ann memberanikan diri bertanya tentang Song tapi sebelum Kepala Sekolah curiga, Ann menambahkan bahwa dirinya ingin berdiskusi tentang anak-anak dengan Song. Kepala Sekolah mengaku bahwa dirinya tak yakin karena Song tak pernah menghubunginya lagi. Ann sedikit kecewa tapi dia tersenyum ketika Kepala Sekolah mengatakan bahwa Song senang saat mendengar Ann akan kembali ke sekolah rumah kapal.  

Kepala Sekolah seolah teringat sesuatu dan mencarinya dalam laci arsip. Beliau memberikan surat lamaran Song pada Ann sebagai petunjuk bila Ann ingin mencarinya. Ann menerimanya dan tak kuasa menahan tawa ketika melihat foto Song yang seolah senang karena menang lomba gulat. Ann menjadi salah tingkah ketika melirik ke arah Kepala Sekolah yang masih mengawasinya. Ann buru-buru pamit setelah mengucapkan terima kasih dan Kepala Sekolah balas tersenyum mengangguk.

Di dalam angkot, Ann kembali membaca surat lamaran Song, dia mencoba menelepon Song tapi tak tersambung. Ann memutuskan untuk mencari apartemen Song sesuai dengan alamat yang ada di surat lamaran. Ann memberanikan diri untuk mengetuk pintu dan Nam (mantan pacar Song) yang membukanya. Ann ingin bertemu Song tapi Nam menjawab ketus bahwa Song sudah lama pindah lalu menutup pintunya dengan keras.

Ann kembali ke sekolah rumah kapal. Malamnya, Ann duduk di kelas dan kembali membuka diarynya, dia menemukan coretan Song yang mengatakan bahwa dirinya juga kesepian. Di halaman lain, Song menulis sebuah soal dan mengeluh bahwa pelajaran matematika tentang pecahan sangat menyusahkan. Tiba-tiba Ann mendengar suara Song. Song muncul dan menulis soal yang sama di papan tulis, dia bertanya apakah Ann mau mengajarinya?  

Ann mengiyakan seraya berdiri di depan papan tulis. Song tersenyum sambil menyerahkan kapur yang dipegangnya agar Ann bisa menulis. Ann balas tersenyum dan mulai menulis sambil menjelaskan tapi Song hanya memandangi Ann dan terus tersenyum. Ann agak malu karena Song terus tersenyum padanya. Song bahkan sempat bercanda saat Ann sedang serius menjelaskan, hal itu membuat Ann ikutan tertawa. Ann mencoba menegurnya dan Song kembali serius menyimak. Song berterima kasih setelah Ann selesai menjelaskan soal itu. Ann hanya bisa terdiam ketika bayangan Song telah menghilang.

Sejak saat itu, Ann mengisi harinya dengan ceria sambil membayangkan apa saja yang pernah dilakukan Song di sekolah rumah kapal. Ann memiliki foto Song sedangkan saat itu Song memiliki foto tangan Ann yang bertato. Di saat senggang, Ann selalu membaca diarynya dan berharap kelak bisa bertemu dengan Song. Ann menutup diarynya setelah membaca janji Song padanya, Song ingin berenang bersama Ann. Ann tersenyum samar seolah tak sabar ingin segera bertemu Song.

Ann sedang belanja ikan ketika bertemu dengan Paman Boonmee. Pria itu menyapa Ann dan Ann membalas dengan ramah. Ann sempat mengeluh karena sampai sekarang mekanik yang akan memasang genset belum juga datang. Paman Boonmee berjanji akan menanyakan hal itu bila bertemu dengan Kepala Sekolah. Beliau juga berpesan bahwa Ann mendapatkan surat yang dia titipkan pada Muek.

Paman Boonmee sangat memuji Song yang tak pernah melupakan orang-orang disini walaupun kini telah pergi tapi Song selalu mengirim surat dan bertanya tentang kabar mereka. Ann kaget sekaligus senang, dia langsung berlari pulang tanpa memperdulikan ikan yang sudah dibelinya. Ann ingin cepat-cepat pulang dan membaca surat yang dikirimkan Song untuknya.

Muek sedang duduk di ayunan ketika membaca surat dari Pak Song untuk Bu Ann. Muek penasaran dan membukanya tapi mendadak perutnya mulas, dia membawa surat itu ke dalam toilet. Setelah buang air besar, Muek kebingungan karena tisu dan air dalam embernya habis. Muek kaget ketika beberapa temannya mengintip dari atas, dia tak sengaja menjatuhkan surat itu ke dalam lubang toilet.

Sesampainya di sekolah rumah kapal, Ann segera mencari Muek. Ann melihat Muek yang baru keluar dari toilet, dia bertanya apakah Paman Boonmee menitipkan surat pada Muek? Muek mengiyakan sambil menunjuk ke arah toilet. Ann heran dan dia kecewa saat Muek mengaku kalau suratnya jatuh ke toilet.

Muek tersenyum pada Ann, dia mengatakan kalau dirinya sudah membuka dan membaca surat itu. Ann senang dan bertanya tentang isi surat itu. Muek mencoba mengingat dan Ann membantu menebak. Ann tak bisa menyembunyikan rasa bahagianya setelah mengetahui bahwa saat liburan sekolah, Song akan datang. Tak lupa Ann juga memuji Muek yang kini sudah bisa membaca walaupun harus mengeja dulu.

Ann mengajak kelima muridnya untuk membersihkan sekolah rumah kapal. Anak-anak bekerja dengan penuh semangat dan saat mereka berbaring kelelahan, Ann terus meminta mereka bekerja tapi mereka semua mengaku tak sanggup lagi. Mereka mendengar suara perahu motor mendekat, Ann mengira Song yang datang tapi dia kecewa karena Nui yang datang.

Ann dan Nui ngobrol di lantai 2. Ann langsung bertanya mengapa Nui datang menemuinya. Nui beralasan bahwa dia ingin menjemput Ann karena besok hari terakhir sekolah. Ann hanya diam dan tak mau melihat ke arah Nui. Nui menyadari bahwa Ann mungkin tak mau memaafkan kesalahannya, dia juga tak akan meminta Ann untuk mencintainya seperti dulu tapi Nui hanya ingin diberi kesempatan kedua. Nui mengaku masih merindukan dan tetap mencintai Ann. Nui mengaku kalau tahun ini dia selalu mengirim surat pada Ann setiap minggunya tapi Ann tak pernah membalasnya.

Malamnya, Ann membuka laci meja dan mengambil setumpuk surat dari Nui. Ann masih marah dan kesal tapi dia menguatkan hati untuk membuka dan membaca surat dari Nui. Pendirian Ann menjadi goyah setelah membaca surat yang berisi penyesalan Nui karena telah memaksa Ann melakukan hal yang tak disukainya. Hatinya kian bimbang karena Nui berjanji akan bertanggung jawab pada anaknya dan tak akan berhubungan dengan wanita itu lagi. Nui ingin Ann kembali padanya. Ann membaca semua surat Nui hingga pagi.

Nui membantu Ann mengemasi barangnya sementara Ann berkumpul bersama anak-anak. Ann mengabarkan bahwa semuanya lulus ujian dan naik kelas sambil membagikan raport pada mereka satu per satu. Ann menatap Chon dengan sorot bangga sambil memberikan raportnya dan mengatakan kalau Chon lulus SD. Chon tersenyum dan meyakinkan Ann bahwa dia akan menjadi nelayan yang pandai matematika.

Gao bertanya apakah Ann tak menunggu Pak Song bersama mereka? Nui yang sedang memindahkan tas Ann ke atas perahu juga penasaran dengan pertanyaan itu. Ann tersenyum masam dan tak menjawab, dia mengalihkan pembicaraan sambil minta dipeluk oleh mereka semua. Anak-anak memeluk Ann dengan hangat. Akhirnya Ann pamit dan pergi bersama Nui. Anak-anak mengiringi kepergian mereka dengan lambaian tangan.

Ann dan Nui menuju mobil yang diparkir di dekat danau. Ann sangat tertarik ketika melihat seorang pria naik motor yang melintas di depannya. Ann berharap cemas tapi dia kecewa setelah pria itu membuka helmnya, ternyata pria itu bukan Song. Nui membuyarkan lamunan Ann dan mengajaknya segera pergi.

Di tengah perjalanan, Nui menyerahkan diary coklat pada Ann. Nui menduga Ann lupa karena diary itu ada di atas meja makanya Nui mengambilnya. Ann menerima diary itu dengan setengah hati karena sebenarnya dia memang sengaja meninggalkan diary itu untuk Song. Ann membuka diarynya dan kembali membaca tulisan terakhirnya (pesan) untuk Song.

Ann menulis permintaan maaf karena belum bisa bertemu dengan Song. Ann bercerita bahwa anak-anak sudah tak sabar ingin bertemu Song lagi. Keadaan sekolah juga tak banyak berubah sejak Song pergi. Ann mendekorasi ulang bagian dapur agar lebih bagus dan cantik dengan memberi tirai baru dan juga tanaman gantung.

Anak-anak sangat suka bermain gulat dengan menggunakan gerakan yang sering diajarkan Song pada mereka. Ann juga bercerita tentang Tong yang kepalanya tak sengaja menabrak dinding kayu saat bermain dengannya. Ann menjamin bahwa kepala Tong sangat keras dan walaupun benjol sebesar lemon tapi dalam 2 hari benjolnya pasti hilang.

Tuna juga mulai dewasa dan belajar berdandan. Ann minta agar Song tak meledek kulit Tuna yang hitam karena Tuna sangat sensitif dengan kulitnya yang hitam. Muek kini juga sudah besar, dia sudah bisa mengeja semua nama anak yang lain. Sedangkan Gao mengambil sumpah pramukanya, dia ingin mengabdikan hidupnya untuk berbuat amal. Contohnya memijit Ann dan juga memotong rambutnya Muek.

Ann bercerita bahwa 2 hari yang lalu mereka merayakan kelulusan Chon. Ann tidak pernah menduga kalau membantu Chon untuk bisa lulus SD ternyata sangat membahagiakannya hingga tanpa terasa Ann meneteskan airmata. Ann hanya bisa tersenyum malu sambil berusaha menghapus airmatanya ketika anak-anak itu mengejeknya.

Ann sangat berterimakasih pada Song karena telah membantunya mengingat kembali tentang tujuannya menjadi guru. Sekali lagi Ann berterimakasih pada Song dan mengakhiri tulisannya. Ann sengaja meletakkan diarynya di atas meja agar Song bisa dengan mudah menemukannya tapi ternyata Nui mengambilnya dan kini mengembalikan diary itu padanya.

Perjalanan mereka terpaksa berhenti karena ada kereta lewat. Ann menutup diarynya tapi masih tetap memegangnya. Nui melihatnya dengan tatapan seolah tak suka dan bertanya apakah Ann baik-baik saja? Apa Ann sudah kangen pada anak-anak? Ann menoleh dan tersenyum samar. Nui menyindir dengan halus kalau sekolah sudah usai, dia minta Ann berhenti sejenak menjadi guru. Ann berpikir seolah ingin mengatakan sesuatu.

Ann bercerita pada Nui tentang Song, caranya mengajari Chon soal matematika dengan praktik langsung yaitu menggunakan perahu yang menarik rumah kapal seperti kereta karena Chon tak pernah naik kereta. Ann ingin tahu pendapat Nui tentang Song. Nui menebak Song sebagai orang yang penuh semangat tapi Nui tak yakin Song bisa melakukannya di kelas biasa dengan 50 murid. Ann terdiam mendengar jawaban Nui. Nui balik bertanya apakah Chon bisa menjawab soal matematikanya? Ann menjawab bahwa Chon bisa menjawabnya tapi dia gagal dalam ujian karena kehabisan waktu.

Nui berpendapat bila Song memakai waktu dan lebih berkonsentrasi dalam mengajar maka dia yakin Chon akan lulus ujian. Ann tak sependapat karena kini setidaknya Chon tahu seperti apa kereta itu. Ann mengatakan pasti akan melakukan hal yang sama bila dirinya ada di posisi Song. Nui tak mengerti apa maksud Ann. Ann menegaskan bahwa sebenarnya mereka tidak saling mengerti jadi untuk apa mereka berhubungan kembali? Rombongan kereta telah habis dan jalan dibuka kembali saat Nui dan Ann saling berpandangan lalu Nui membuang muka.

Sorenya, Ann kembali ke sekolah rumah kapal dengan membawa diarynya. Mereka sampai di sekolah rumah kapal tapi keadaannya gelap, ibu pemilik perahu menduga kalau semua orang sudah pulang. Ann agak kecewa dan meminta ibu itu untuk kembali. Mereka sudah berbalik dan hendak pergi ketika lampu di sekolah rumah kapal menjadi terang benderang. Tanpa diperintah, ibu itu memutar kembali perahunya.

Ann bergegas masuk dan mencari Song. Ann melihat seorang pria sedang duduk membelakanginya sambil mengutak-atik genset. Ann tersenyum, dia tahu bahwa pria itu adalah Song karena dia sudah hafal wajah Song. Song mengira yang datang adalah Paman Boonmee makanya dia berteriak sambil mengatakan kalau sebentar lagi semuanya selesai.

Ann menyodorkan diarynya ke arah Song, Song kaget dan langsung menengadah dengan tatapan terkejut. Song berdiri dan memegang diary itu. Mereka bertukar senyum dan saling menatap. Song menunduk sambil memandangi diary coklat yang sudah usang itu, dia tak menduga akan bertemu dengan Ann. Ann tetap tersenyum dan melepaskan diary itu. Ann tak kuasa menahan haru, matanya berkaca-kaca.

Song tersenyum lebar dan menyapa Ann tapi Ann tak bisa mendengarnya karena suara Song kalah keras dengan suara gensetnya. Song kembali menyapa Ann dan kali ini dengan suara yang lebih keras, hal itu membuat Ann tertawa. Song yang salah tingkah ikutan tertawa. Ann membalas sapaan Song dan mereka tertawa bersama.

Adegan favoritku :

Aku sebenarnya sebel dengan karakter Pak Song yang culun dan polos hingga mudah ditipu oleh pacarnya. Aku tak bisa mengerti saat Pak Song meniru gaya Bu Ann yang terjun ke air dengan sepenuh hati untuk menghilangkan kesialan yang dialaminya. Bila Bu Ann terjun ke air dengan menggunakan jaket pelampung (karena Bu Ann belum bisa berenang) maka Pak Song justru terjun ke air dengan mengendarai motor merah kesayangannya.

Mungkin Pak Song berpikir untuk apa menyimpan motor yang sudah digunakan pacarnya untuk berselingkuh? Mending dibuang saja sekalian! Tapi kan ya sayang, lihat saja ketika Pak Song membawa motornya ikut naik perahu milik Paman Boonmee atau saat motor itu berdiri tegak di kelas. Gagah sekali kan motornya? walaupun motornya agak jadul sih, wkwkwk...

Adegan yang menakutkan bagiku :

Saat Gigi ingin pipis dan dia berteriak ketakutan karena tak sengaja melihat mayat di bawah toilet. Wow, serius aku ikut memekik kaget waktu itu! Hal itulah yang membuatku berhenti nonton karena agak ngeri tapi aku juga penasaran dengan ending-nya. Selang beberapa waktu, aku memutuskan nonton lagi dari awal dan ternyata aku masih kaget pas adegan itu.

Ga kebayang kan bila seandainya berada di posisi Gigi? Apalagi ketika Ann terpaksa turun dan menarik mayat itu, aku sedikit mual padahal ga diperlihatkan secara jelas. Cuman aku memang agak takut sih makanya aku benci film horor. Wkwkwk...kok jadi curhat sih?

Hikmah yang bisa diambil dari film ini :

Melakukan sesuatu harus sesuai dengan kemampuan dan setulus hati bila tidak, maka hasilnya juga tidak maksimal. Contohnya pengalaman Pak Song dan Bu Ann dalam mengajar siswanya. Pak Song memang menyukai anak-anak tapi dia tak punya dasar menjadi guru sedangkan Bu Ann memiliki kemampuan menjadi seorang guru tapi apa yang dilakukannya tak setulus hati, hanya demi menyenangkan hati pacarnya saja.

Pak Song yang semula adalah atlet gulat tiba-tiba berubah haluan dan melamar menjadi guru SD padahal tak punya ketrampilan dan keahlian menjadi guru. Mungkin karena tuntutan pacarnya yang ingin agar Pak Song memiliki pekerjaan tetap makanya Pak Song nekat melamar menjadi guru.

Di awal tugasnya menjadi guru, Pak Song benar-benar tak tahu apa yang harus dilakukannya terhadap murid-muridnya. Waktu terus berjalan akhirnya Pak Song bisa dekat dan akrab dengan mereka tapi itu saja tak cukup. Pak Song merasa bersalah ketika salah satu muridnya tak lulus ujian.

Begitu pula dengan Bu Ann yang mengalah dengan kemauan pacarnya, menghapus tatonya dan menjadi guru di sekolah yang sama dengan pacarnya agar mereka bisa saling dekat. Tapi nyatanya Bu Ann malah stress dan frustrasi karena merasa dibatasi ruang geraknya dalam mengajar muridnya dengan alasan bahwa apa yang dilakukannya tak sesuai dengan peraturan sekolah.

Adegan yang paling bikin baper :

Selama nonton film ini hingga mendekati akhir, aku berharap cemas apakah Pak Song dan Bu Ann akhirnya bisa bertemu atau tidak ya? Aku sempat kecewa ketika akhirnya Bu Ann memilih pergi bersama Nui daripada menunggu kedatangan Pak Song. Menit-menit terus berlalu dan untungnya Nui membawa kembali diary Bu Ann sehingga Bu Ann bisa membaca kembali apa yang sudah ditulisnya untuk Pak Song.

Di titik ini aku senang dengan keputusan Bu Ann untuk menyuarakan keraguan hatinya tentang keputusan Nui bila berada di posisi Pak Song. Aku jadi semangat lagi saat Bu Ann memutuskan untuk kembali ke sekolah rumah kapal. Aku kembali gelisah ketika Bu Ann sudah sampai ternyata sudah sepi dan gelap. Yah...masa benar-benar ga ketemu sih? Ga seru donk! (pikirku).

Tapi sutradaranya memang top! mampu membuat aku dan mungkin penonton lainnya berdebar dan gelisah menunggu ending film yang manis. Syukurlah, Pak Song dan Bu Ann akhirnya bisa bertemu untuk pertama kalinya. Mungkin kepala sekolah memang mengutus Pak Song untuk datang ke sekolah rumah kapal untuk memperbaiki genset, bila tidak mungkin mereka tak akan pernah bertemu.

Mungkin juga penantian lama tak apa bila akhirnya berbuah manis seperti mereka. Walaupun pertemuan mereka hanya singkat karena dihanguskan oleh durasi film tapi bagiku, pertemuan mereka sangat manis. Cara berkenalan mereka juga lucu. Dari tatapan mata mereka mungkin mereka tak pernah menyangka bila akhirnya bisa bertemu. Tanpa terasa aku ikut meneteskan airmata ketika melihat adegan ini, rasanya ikut bahagia!

Komentarku :

Menurutku film ini sangat menarik, bercerita tentang arti sebuah kesetiaan dalam hubungan percintaan yang dibalut oleh ketulusan dan tanggungjawab seorang guru terhadap para muridnya. Hal yang paling menyita perhatianku dari film ini tentu saja tentang lokasi sekolah rumah kapal yang ada di tengah danau (bendungan).

Sekolah unik itu memang dikhususkan bagi anak para pencari ikan di danau itu. Disebut sekolah rumah kapal karena setiap Senin hingga Jumat, anak-anak menginap di sekolah itu dan hari Sabtu dan Minggu mereka libur sehingga bisa kembali ke rumah orangtuanya yang lokasinya di area danau itu juga.

Bu Ann dan Pak Song yang semula menganggap sekolah rumah kapal sebagai tempat pengasingan karena terbatasnya segala fasilitas (air bersih, listrik dan yang paling penting sinyal telepon), perlahan tapi pasti mulai merasakan keterikatan dengan tempat itu. Bu Ann mungkin sengaja meninggalkan diarynya di sekolah itu karena ingin membuang sial. Tapi Bu Ann pasti tak pernah mengira bahwa diarynya dapat membuat Pak Song yang patah hati karena cinta bisa kembali semangat menata hidupnya.

Waktu terus berlalu dan Pak Song yang merasa gagal menjadi guru karena tak punya pengalaman dan keahlian memutuskan mengundurkan diri dengan alasan ingin sekolah kembali. Posisi guru jatuh ke tangan Bu Ann yang memutuskan kembali karena patah hati. Bu Ann terkejut menemukan diarynya yang kumal dan lebih terkejut lagi karena ada orang lain yang ikut menulis di dalamnya yaitu Pak Song.

Kurasa kisah mereka langka tapi kadang nyata adanya, bagaimana mungkin orang bisa tersenyum dan tertawa sendiri hanya karena membaca buku harian orang lain? Kalau dipikir dengan akal sehat ya pasti tak mungkin tapi di era yang serba canggih seperti sekarang jelas hal itu mungkin terjadi. Caranya melalui media sosial, kita tak tahu apakah berteman atau ngobrol dengan orang yang sama (bisa jadi foto dan orang yang sebenarnya berbeda alias menggunakan identitas palsu).

Dalam film ini, Pak Song tak tahu seperti apa wajah atau penampilan Bu Ann. Satu-satunya petunjuk yang diperoleh adalah fotonya bersama Bu Gigi, sayangnya Bu Ann hanya terlihat tangannya yang bertato 3 bintang. Sedihnya, mereka sempat bertemu tapi karena Bu Ann sudah menghapus tatonya maka Pak Song tak menghiraukannya. Bu Ann lebih beruntung karena bisa melihat foto beserta surat lamaran Pak Song berkat bantuan Kepala Sekolah.

Diary itu secara tidak langsung membuat keduanya merasa terikat dan senasib, hal itulah yang membuat Bu Ann sangat senang ketika mendengar kabar Pak Song akan datang saat libur sekolah. Tapi saat Nui datang menjemput, pendirian Bu Ann sedikit goyah apalagi setelah membaca semua surat penyesalan Nui. Jujur, aku agak sedih ketika film ini sampai di scene Bu Ann dan Nui pergi. Mengapa? Film dah mau habis, masa endingnya Bu Ann ga bisa ketemu Pak Song?

Syukurlah mereka akhirnya bisa bertemu walaupun di akhir cerita tapi bagiku sudah sangat memuaskan. Apalagi saat melihat mereka saling menatap seolah tak percaya bahwa akhirnya bisa bertemu. Moment romantis tak hanya bisa dinyatakan dengan pelukan mesra atau ciuman hangat karena bagiku sorot mata keduanya sangat bermakna. Hal yang tak bisa diungkapan dengan kata-kata karena mereka berdua sudah tahu dan mendapatkan apa yang diinginkan yaitu bertemu.








Review Film Menarik Lainnya

0 comments:

Post a Comment