Monday, May 25, 2020

The Eighth Day of A Week ~Film China~

Apakah kamu merasa hidup ini tak adil karena kamu selalu dibully di sekolah, sering dimarahi orangtua atau malah dianggap pengganggu oleh orang yang ada disekitarmu. Dan kamu ingin keajaiban terjadi agar hidupmu bisa berubah? Bila jawabannya iya, maka kamu harus dan wajib menonton film ini dulu! Mengapa? Karena dalam film ini kamu akan belajar bila keajaiban itu tak ada artinya tanpa disertai oleh kejujuran.

Film yang aku maksud adalah The Eighth Day of A Week. Film China yang dirilis tahun 2017 ini bergenre drama fantasi. Ok tanpa perlu banyak omong, bagi yang penasaran seperti apa sinopsis film ini maka silahlah sinopsis lengkapnya di bawah ini. Selamat membaca....


Para pemain :

Wang Yi Miao sebagai Jiang Wu (gemuk)
Bo Guan Jin sebagai Jiang Wu (langsing)
Li Hao sebagai Gu Bei
Qu Shao Chun sebagai Guru Lin
Ma Jiao sebagai Zhou Yi Yi
Wu Zi sebagai Zhang Min
Wang Zheng sebagai ibunya Jiang Wu
Yao Yi Shi sebagai Kepala Sekolah
Tang Zi Wen sebagai Sekretaris Wang
Li Bao Zhen sebagai nenek

Sinopsis lengkap :


Jiang Wu adalah siswi SMU yang memiliki tubuh subur. Di mata para guru di sekolah, Jiang Wu dianggap sebagai siswi pemalas yang tak suka belajar. Di mata ibunya, Jiang Wu dianggap sebagai anak perempuan gemuk yang suka berbohong. Di mata teman sekelas, Jiang Wu dianggap sebagai hama penganggu sehingga mereka sering menjahilinya. Hal itu tak membuat Jiang Wu patah semangat, dia selalu rajin ke sekolah demi bisa melihat seseorang yaitu teman sekelasnya yang bernama Gu Bei.


Jiang Wu ingin sekali bisa dekat dengannya dan satu-satunya jalan adalah dengan mendaftar sebagai panitia OSIS tapi Jiang Wu merasa persaingannya sangat ketat. Apalagi teman sekelasnya yang bernama Zhou Yi Yi juga ikut mendaftar. Akhirnya Jiang Wu dan Zhou Yi Yi bersaing untuk bisa masuk OSIS bagian humas agar bisa dekat dengan Gu Bei. Saat pengenalan diri, Zhou Yi Yi bisa dengan lancar mengatakan visi dan misi di depan semua siswa. Sedangkan Jiang Wu hanya menunduk sambil terbata saat memperkenalkan diri lalu kabur begitu saja.


Di kantin, Yi Yi sedang makan bersama sahabatnya yang bernama Zhang Min. Yi Yi senang dan tersenyum ketika Zhang Min menunjukkan hasil voting sementara yang menunjukkan dirinya unggul. Si sahabat juga sempat mengejek Jiang Wu yang baru mendapat satu suara yaitu suaranya sendiri. Yi Yi kembali tersenyum puas dan dia yakin bila dirinya yang akan menang.


Jiang Wu masuk ke kantin sambil meminta teman-temannya agar mau memberikan suara untuknya. Mereka jelas enggan tapi Jiang Wu tak putus asa, dia tetap mendatangi mereka satu per satu walaupun dibentak atau dicuekin. Yi Yi dan Zhang Min menonton usaha Jiang Wu dengan sorot meremehkan dan merendahkan.


Tiba-tiba ada teman pria yang berhasil mengambil tas Jiang Wu. Jiang Wu kesal dan ingin tasnya kembali. Teman pria itu berlari keluar kantin dan Jiang Wu berusaha mengejarnya. Teman-teman yang sedang di kantin ikutan pergi untuk melihat apa yang akan terjadi. Teman pria itu berlari ke halaman dan melemparkan tas Jiang Wu ke dahan pohon yang tinggi. Jiang Wu jelas tak berani mengambilnya sendiri tapi siapa yang mau membantunya?


Teman yang iseng itu berjanji bila Jiang Wu mampu mengambil tasnya kembali maka semua teman sekelas akan memberikan suaranya untuk Jiang Wu. Jiang Wu jelas sangat tertarik tapi dia takut ketinggian. Teman iseng itu pasti mengira Jiang Wu tak akan berani naik pohon untuk mengambil tasnya. Dia yakin gertakannya akan membuat nyali Jiang Wu ciut. Tapi ternyata Jiang Wu tak mudah menyerah, dia berani melakukannya demi mendapatkan suara agar mimpinya bisa terwujud yaitu dekat dengan Gu Bei. Jiang Wu berhasil mengambil tasnya dan janji harus ditepati, semua teman sekelas memberi suara untuknya. 


Yi Yi memantau keadaan dengan ponselnya dan dia kesal ketika mengetahui bila posisi Jiang Wu kini ada di nomor 2. Teman sekelas telah memberikan suara pada Jiang Wu sehingga perolehan suaranya dengan Jiang Wu hanya beda tipis. Zhang Min kaget saat Yi Yi menunjukkan ponselnya. Dia tak menyangka Jiang Wu bisa dengan mudah mendapatkan suara.


Zhang Min tak senang melihat sahabatnya sedih maka dia menyusun rencana untuk menjatuhkan Jiang Wu. Caranya dengan memfitnah Jiang Wu, Zhang Min pura-pura kehilangan dompetnya dan ternyata dompetnya ada di tas Jiang Wu. Guru Lin marah dan mendiskualifikasi Jiang Wu di pemilihan panitia OSIS. Jiang Wu bersikeras bila dia tak melakukannya tapi Guru Lin tak perduli, Beliau bahkan meminta Jiang Wu untuk mengajak orangtuanya ke sekolah.


Jiang Wu jelas sedih apalagi ketika melihat fotonya yang kini teronggok di tanah, tak lagi sebagai kandidat panitia OSIS. Jiang Wu enggan pulang walaupun hari sudah gelap, dia memilih duduk melamun di sebuah halte bis. Tiba-tiba muncul seorang nenek pemulung dan menasihatinya. Jiang Wu agak takut karena si nenek seolah bisa membaca pikirannya. Si Nenek tak perduli dan meminta Jiang Wu untuk segera pulang seraya menggerakkan tangannya ke wajah Jiang Wu.


Jiang Wu kini sedang tertidur pulas tapi dia mendengar suara ibu yang membangunkannya agar tidak terlambat ke sekolah. Jiang Wu terpaksa bangun dan bersiap, dia melihat ada gelang di atas meja lalu mengenakannya. Jiang Wu mengamati gelang itu dengan rasa penasaran lalu menekan tombolnya. Gelang itu tiba-tiba mengeluarkan cahaya berwarna biru.

Jiang Wu keluar kamar dan mencari ibunya tapi dia tak menemukan ibunya padahal dia sudah mencari di setiap ruangan maka Jiang Wu pergi tanpa pamit karena takut telat. Di tengah perjalanan, seperti biasa dia berhenti sejenak untuk membeli camilan tapi tokonya sepi tak ada siapapun. Jiang Wu merasa aneh karena tak melihat orang lain sejak keluar dari rumah. Jiang Wu memutuskan melanjutkan perjalanan ke sekolah.

Di sekolah, Jiang Wu buru-buru memarkir sepedanya dan roknya tak sengaja tersangkut sepeda hingga sobek. Jiang Wu hanya mengaduh tapi langsung berlari menuju kelasnya. Tapi dia kembali dibuat bingung karena tak ada siapapun baik di kelas atau di manapun. Jiang Wu mencoba memanggil untuk mencari perhatian tapi senyap tak ada sahutan. Setelah dirasa tak ada siapapun kecuali dirinya maka Jiang Wu meluapkan kegembiraannya dengan berteriak senang karena situasi ini seperti impiannya. Dia mengumumkan seolah dirinya yang terbaik, memimpin upacara dan berpidato untuk memuji dirinya sendiri.


Ketika sedang menikmati kesenangannya, tiba-tiba Jiang Wu melihat sepeda biru milik Zhang Min. Terbersit ide untuk balas dendam karena Zhang Min telah memfitnahnya. Jiang Wu akhirnya menggunakan tali untuk menarik sepeda Zhang Min dan mengikatnya di atas ring basket. Dia tersenyum puas sambil bersandar pada tembok. Jiang Wu tak sengaja melihat sekaleng besar cat berwarna merah berserta kuasnya. Timbul ide iseng lainnya dan Jiang Wu menulisi tembok putih itu dengan huruf yang besar. Isi tulisannya adalah 'aku menyukai Gu Bei'.


Jiang Wu puas dan memilih pulang. Di tengah jalan dia mampir ke toko camilan dan dia menghabiskan beberapa makanan lalu pulang. Sesampainya di rumah, dia kembali makan camilan sambil tiduran. Tangannya yang mengenakan gelang tak sengaja menyentuh jam weker dan gelang itu kembali mengeluarkan cahaya.


Waktu seolah kembali, Jiang Wu kembali mendengar suara ibunya dan kali ini sang ibu masuk ke dalam kamarnya sambil berusaha membangunkannya agar segera berangkat. Jiang Wu terpaksa bangun dan dia kaget melihat jam wekernya yang ternyata masih menunjukkan jam setengah delapan kurang. Jiang Wu pamit dan dia menolak ketika ibunya menyarankan untuk sarapan dulu.


Ketika lewat di depan toko camilan, Jiang Wu bisa melihat dan mendengar si pemilik toko kebingungan setelah mengetahui ada makanannya yang hilang. Jiang Wu tak berani menyapa si pemilik toko, dia sibuk menenangkan dirinya bahwa semuanya hanya kebetulan saja. Dia buru-buru mengayuh sepedanya menuju sekolah. Tapi di sekolah dia kembali dibuat heran ketika para siswa berkerumun di bawah ring basket. Jiang Wu kaget melihat Zhang Min beserta sepedanya bertengger di atas ring basket sambil menangis ketakutan.


Jiang Wu teringat sesuatu dan dia segera berlari ke arah tembok putih di dekat lapangan. Rupanya di sana terlihat jelas tulisan yang sudah dibuat sebelumnya. Jiang Wu bingung sambil menggaruk kepalanya. Dia tak menyadari bila Gu Bei berdiri disebelahnya. Pria itu jelas bingung dan sedikit malu melihat namanya ada di tembok. Jiang Wu merasa ada orang berdiri di sebelahnya dan meminta orang itu untuk mencubitnya dengan kuat. Gu Bei tak mengerti tapi Jiang Wu kembali meminta hal yang sama dan Gu Bei terpaksa mencubitnya dengan kuat. Jiang Wu mengaduh dan menoleh. Dia buru-buru pergi setelah menyadari bila orang yang telah mencubitnya adalah Gu Bei.


Jiang Wu berlari menuju kelasnya. Dia duduk di kursinya dengan nafas yang masih terengah-engah. Jiang Wu tak percaya dengan apa yang telah terjadi. Lalu dia teringat sesuatu dan melihat roknya dan Jiang Wu tersentak kaget karena ternyata roknya sobek berarti semua bukan mimpi! Jiang Wu menjalani hari itu dengan tidak tenang dan begitu bel tanda pulang berbunyi, Jiang Wu langsung bergegas pulang.


Sesampainya di rumah, Jiang Wu segera mencari ibunya untuk menceritakan pengalamannya tapi si ibu tak mempercayai ceritanya. Si ibu malah meraba dahinya dan mengira bila putrinya sakit sehingga bercerita tak jelas. Jiang Wu kesal dan memilih masuk kamar. Dia kaget ketika melihat kamarnya yang berantakan dan Jiang Wu lebih kaget lagi saat melihat nenek yang ditemuinya semalam kini ada dalam kamarnya.


Semula Jiang Wu merasa takut tapi menjadi penasaran saat nenek menjelaskan bahwa apa yang terjadi bukan mimpi. Nenek menambahkan bila gelang yang dipakai Jiang Wu akan memberikan bonus satu hari kosong yaitu hari kamis. Jiang Wu bisa mendominasi apapun tapi nenek meminta agar Jiang Wu menjadi dirinya sendiri. Jiang Wu tak mengerti dengan penjelasan nenek tentang dimensi waktu yang saling berhubungan. Nenek tak mempermasalahkannya dan Beliau memberi mantera agar gelang itu hanya berfungsi untuk Jiang Wu. Setelah itu si nenek tiba-tiba menghilang.


Suatu hari, di tengah keramaian Jiang Wu mencoba memencet tombol gelangnya dan seketika orang-orang yang semula berlalu-lalang menghilang. Hanya ada Jiang Wu sendirian. Dengan bantuan gelang ajaibnya, Jiang Wu akhirnya bisa mengetahui tempat kos Gu Bei. Dia terpesona melihat kamar Gu Bei yang rapi. Jiang Wu mencoba menulis pesan perkenalan diri dan dia menggunakan nama samaran Pai.


Ketika sedang belajar, Gu Bei heran melihat pesan dari Jiang Wu. Dia bertanya pada bibi yang biasa membersihkan kamarnya, apakah ada tamu yang datang tapi bibi mengatakan tak ada siapapun yang datang. Gu Bei mencoba mengenyahkan rasa penasaran dan berniat membuang pesan itu tapi di halaman buku lainnya kembali terselip pesan dari Jiang Wu.


Gu Bei merasa sedikit ngeri dan dia mengedarkan padangan di kamarnya, bahkan mengintip celah yang ada di bawah meja belajarnya tapi tak ada apapun. Gu Bei akhirnya membalas pesan Jiang Wu. Jiang Wu meminta Gu Bei agar tak penasaran lagi karena dia hanya ingin berteman dengan Gu Bei. Singkat cerita, mereka akhirnya saling berbalasan pesan dan kian akrab walaupun Gu Bei tak tahu siapa Pai itu yang sebenarnya.


Suatu hari, Jiang Wu menghadap Guru Lin karena masalah dompet Zhang Min. Guru Lin agak kesal karena orangtua Jiang Wu tidak datang. Jiang Wu bersikeras bila dirinya tak bersalah tapi Guru Lin tak percaya. Jiang Wu mencoba menjelaskan bila akhir-akhir ini banyak hal aneh yang terjadi misalnya tentang tulisan di tembok atau Zhang Min dan sepedanya yang terikat di atas ring basket.


Guru Lin tak percaya hal mistis. Beliau bahkan menantang bahwa dirinya akan percaya bila meja kerjanya ini pindah ke toilet sekarang juga. Guru Lin duduk sambil minum minumannya. Beliau melirik Jiang Wu dengan sorot menantang. Tiba-tiba apa yang diinginkan terjadi. Rekan kerja Guru Lin kaget ketika menoleh ternyata meja serta Guru Lin tak ada di tempatnya. Jiang Wu pura-pura kaget. Sedangkan pria pembersih toilet tak kalah kagetnya melihat Guru Lin ada di toilet berserta meja kerjanya. Guru Lin sendiri tampak tak percaya dengan apa yang terjadi.


Di kelas, Guru Lin akhirnya memberi pengertian pada para siswa bahwa masalah hilangnya dompet Zhang Min tak perlu dibahas lagi. Guru Lin juga meminta mereka untuk tak berburuk sangka pada Jiang Wu. Beliau menyarankan agar mereka semua menjaga keharmonisan karena teman sekelas sama saja dengan keluarga. Jiang Wu lega mendengar penjelasan Guru Lin.


Gu Bei dan Jiang Wu kian 'akrab'. Saat Gu Bei sedang berlatih sepak bola dan tampak kelelahan, Jiang Wu menghiburnya dengan suatu lelucon. Tanpa diduga, Gu Bei tertawa saat membaca tulisan yang berisi lelucon itu. Gu Bei mengaku bila apa yang dilakukan Jiang Wu bisa membuatnya sedikit terhibur. Jiang Wu penasaran dan Gu Bei menjelaskan bila ada jadwal pertandingan tapi kemungkinan tak bisa ikut karena pihak sekolah mempersingkat hari libur.


Sementara itu di ruang Kepala Sekolah, Sekretaris Wang sedang memberi laporan pada Kepala Sekolah dan Kepala Sekolah bertanya tentang perkembangan kasus misterius itu tapi Sekretaris Wang mengaku belum mendapat perkembangan yang memuaskan karena tak ada bukti apapun. Sekretaris Wang juga menceritakan tentang kasus Guru Lin yang tiba-tiba ada di toilet beserta meja kerjanya. Sekretaris Wang menduga bila sekolah ini berhantu tapi Kepala Sekolah tak percaya takhayul.


Kepala Sekolah mengalihkan pembicaraan dengan menyerahkan map yang berisi jadwal libur sekolah. Beliau berpesan agar Sekretaris Wang membagikannya pada setiap guru yang sedang mengajar agar dibacakan di depan kelas. Kepala Sekolah menambahkan bila semuanya harus mematuhi peraturan yang sudah dibuatnya yaitu para siswa hanya mendapat jatah libur sehari saja. Sekretaris Wang pamit dan berniat segera membagikan jadwal tersebut.


Di tengah jalan Sekretaris Wang berpapasan dengan Jiang Wu yang sengaja menabraknya hingga map yang dibawanya jatuh dan isinya berhamburan. Sekretaris Wang jelas kesal dan menegurnya. Jiang Wu langsung minta maaf sambil mengumpulkan kertas yang berserakan. Dia kembali menggunakan kekuatan gelangnya untuk mengubah hari libur yang semula hanya sehari berubah menjadi sepuluh hari. Setelah semua selesai, Jiang Wu mengembalikan map itu kepada Sekretaris Wang yang masih mengomel sambil berlalu. Jiang Wu hanya tersenyum di balik punggung pria itu kemudian bergegas kembali ke kelasnya.


Di kelas Jiang Wu, Guru Lin sedang mengajar ketika Sekretaris Wang mengetuk pintu. Guru Lin menerima surat pemberitahuan hari libur dan Sekretaris Wang langsung pergi untuk membagikan ke kelas lainnya. Guru Lin membacanya di depan kelas tapi Beliau heran melihat jumlah hari liburnya. Guru Lin segera keluar untuk mencari Sekretaris Wang dan di saat yang bersamaan beberapa guru juga keluar kelas karena bingung. Sekretaris Wang menoleh dan menegur mereka sambil mengatakan bahwa mereka harus patuh dengan apa yang sudah dibuat oleh Kepala Sekolah.


Akhirnya para guru terpaksa kembali ke kelas masing-masing, termasuk Guru Lin. Guru Lin kembali berdiri di depan kelas dan mengumumkan bila mereka akan libur selama sepuluh hari. Semua siswa langsung bersorak senang tapi Guru Lin masih bingung dengan perubahan itu. Jiang Wu hanya tersenyum senang melihat semua temannya bersorak kegirangan.


Pertandingan sepak bola akhirnya diselenggarakan dan Jiang Wu tak ketinggalan untuk ikut menonton tapi dia sedih melihat tim Gu Bei kalah akibat pemain lawan bermain kasar. Jiang Wu tak terima dan menggunakan kekuatan gelangnya untuk membantunya hingga akhirnya Gu Bei bisa menang dengan skor 11-3. Jiang Wu bahagia melihat Gu Bei kegirangan.


Di toilet, Yi Yi dan Zhang Min sedang ganti karena mereka sempat menjadi pemandu sorak. Mereka asyik membicarakan pesona Gu Bei dan Zhang Min menggodanya bahwa kini Yi Yi pasti senang bisa dekat dengan Gu Bei, kalau bukan kasus dompet itu pasti Yi Yi tak akan bisa menang dengan mudah. Yi Yi menegurnya dan buru-buru mengajaknya pergi dari toilet karena takut ada yang mendengar pembicaraan mereka.

Mereka tak menyadari bila Jiang Wu ada dalam salah satu ruangan dalam toilet itu. Jiang Wu jelas kesal dan marah setelah mengetahui ulah jahat mereka. Dia tak tinggal diam, dengan menggunakan bantuan gelangnya Jiang Wu membalas dendam. Jiang Wu sengaja memasukkan beberapa dompet milik teman mereka ke dalam tas Zhang Min.


Paginya, Kepala Sekolah datang dan Beliau menegur satpam yang tidur di jam kerja. Si Satpam jelas bingung, bukannya hari ini masih libur tapi mengapa Kepala Sekolah datang? Satpam itu tak berani membantah dan terpaksa kembali bekerja. Sekretaris Wang masih tidur ketika Kepala Sekolah menelepon sambil mengomelinya karena sekolah sepi. Sekretaris Wang mengaku bila sekolah memang libur dan hal itu membuat Kepala Sekolah kian marah. Beliau tak mau tahu dan memerintahkan agar Sekretaris Wang memanggil semua siswa agar kembali ke sekolah.


Gu Bei dan Jiang Wu kembali 'ngobrol'. Gu Bei menduga bila Jiang Wu yang telah membantunya memenangkan pertandingan dan Jiang Wu mengiyakan. Gu Bei jujur mengakui bila sebenarnya dia ingin berjuang dengan kekuatan sendiri dan Jiang Wu berusaha mengerti. Jiang Wu sadar bila Gu Bei sangat suka belajar dan berpesan agar kelak mencari pacar yang pandai. Gu Bei tak ingin memikirkan hal itu dulu tapi dia berharap bila keduanya bisa selaras.


Jiang Wu berjalan dan dia tak sengaja melihat mading yang memuat foto para juara kelas (peringkat 1 hingga 3). Hal itu membuat Jiang Wu terinspirasi untuk bisa lebih 'dekat' dengan Gu Bei. Caranya, saat ujian tiba maka Jiang Wu menggunakan kekuatan gelangnya untuk mencontek jawaban dari siswa lain. Hasilnya bisa diduga, nilai ujian Jiang Wu tiba-tiba melesat di peringkat pertama. Sedangkan Gu Bei ada di posisi kedua.


Jiang Wu jelas tak menduga hal itu, dia malah merasa tak nyaman ketika semua mata tertuju padanya. Teman sekelasnya juga tak percaya dan mereka seolah 'mengejek' Jiang Wu agar mau mengajari mereka juga. Guru Lin memuji Jiang Wu. Para guru kaget sekaligus senang melihat pencapaian Jiang Wu. Guru Lin menyarankan pada yang lain agar bertanya pada Jiang Wu bila ada pelajaran yang tidak dimengerti. Jiang Wu hanya diam menunduk sedangkan Yi Yi jelas terlihat kesal.


Jiang Wu dan Gu Bei sedang menggambar bersama ketika Yi Yi masuk ruang OSIS. Yi Yi heran melihat keberadaan Jiang Wu dan Gu Bei menjelaskan bila Jiang Wu masuk sebagai anggota atas rekomendasi guru. Jiang Wu merasa salah tingkah dan seolah terganggu dengan kehadiran Yi Yi. Yi Yi tersenyum mendengar penjelasan Gu Bei dan berusaha bergabung dengan mereka tapi dia jelas terlihat sangat cemburu ketika Gu Bei memuji kemampuan Jiang Wu dalam menggambar atau saat Jiang Wu sengaja menggoda Gu Bei dan keduanya tertawa bersama.


Ketika Gu Bei sedang serius mencari buku di perpus, Jiang Wu sengaja mengintip dan memberinya pesan. Gu Bei sangat penasaran ingin bertemu dan akhirnya Jiang Wu menjelaskan situasinya secara jujur bahwa dia bukan malaikat tapi gadis biasa yang kebetulan mempunyai gelang ajaib. Gu Bei tak keberatan dan justru senang karena mereka ada kesempatan untuk bertemu. Gu Bei kembali menegaskan bila dia ingin sekali bertemu dengan Pai (Jiang Wu).


Gu Bei masih melamun ketika seorang siswi mendekatinya dan bertanya tentang pelajaran yang tak dia mengerti. Sedangkan Jiang Wu duduk sambil membaca di meja yang ada di belakang Gu Bei. Gu Bei melihat soal yang ditanyakan siswi itu dan dia kesulitan menjawab. Tanpa ragu, Gu Bei minta bantuan Jiang Wu. Jiang Wu tak kuasa menolak permintaan itu dan menyanggupinya. Ternyata susah sekali mencari jawaban soal itu tapi untungnya Jiang Wu berhasil menemukan jawabannya di meja guru.


Jiang Wu masih berusaha menenangkan nafasnya ketika menunjukkan jawaban soalnya pada siswi yang tadi bertanya. Siswi itu berterima kasih dan Gu Bei memujinya. Setelah itu kian banyak siswa yang mendekatinya untuk bertanya tentang hal yang sama yaitu meminta bantuan dalam menjawab soal yang tak dimengerti. Kerumunan siswa itu membuat Gu Bei seolah 'terhempas' tapi hal itu tak membuatnya marah, Gu Bei justru tersenyum bangga melihat Jiang Wu yang kian populer. 


Gu Bei tak tahu bila demi menjawab semua soal itu Jiang Wu harus pontang-panting mencari jawabannya. Jiang Wu yang kelelahan akhirnya memilih bersembunyi di toilet tapi dia kembali sial karena ada seorang teman yang lagi-lagi meminta bantuannya. Jiang Wu tak bisa menolak dan akhirnya bersedia membantu.


Saat pelajaran olahraga, guru olahraga menjelaskan bila di kelas Jiang Wu masih belum ada yang bersedia berpartisipasi dalam lomba lari di pertandingan sekolah. Guru ingin tahu siapa yang mau menjadi wakil kelas tapi tak ada yang tunjuk tangan. Yi Yi yang berdiri di belakang Jiang Wu pura-pura jongkok untuk membetulkan tali sepatunya tapi dia sengaja mendorong tubuh Jiang Wu agar maju. Jiang Wu jelas kaget dan guru senang melihat Jiang Wu mau berpartisipasi. Jiang Wu ingin protes tapi gurunya cuek dan siswa yang lain bertepuk tangan.


Ketika lomba lari di mulai, Yi Yi dan Zhang Min ikut menonton. Zhang Min bahkan berencana mengabadikan aksi Jiang Wu yang berlari kelelahan dan mempublikasikannya di grup sekolah. Yi Yi setuju dengan rencana itu. Sayangnya rencana mereka gagal, Jiang Wu berhasil menang dengan bantuan gelang ajaibnya. Hal itu membuat Yi Yi kian kesal sedangkan Zhang Min tak percaya dengan apa yang dilihatnya.


Zhang Min masih penasaran dan terus mengamati foto Jiang Wu ketika ikut lomba lari tapi Yi Yi yang kesal enggan membahasnya. Zhang Min bersikeras mengatakan bila ada yang salah dan dia ingin Yi Yi ikut memperhatikan foto-foto yang sudah diambilnya. Yi Yi akhirnya menuruti permintaan Zhang Min. Zhang Min menduga bila ada sesuatu dengan gelang yang dipakai Jiang Wu.


Jiang Wu akhirnya setuju bertemu dengan Gu Bei, dia menjanjikan setelah selesai ujian. Gu Bei jelas senang sekali dan dia tak perduli bila sebelumnya Jiang Wu selalu menolak bertemu. Gu Bei bertanya bagaimana dirinya kelak bisa mengenali Jiang Wu saat bertemu. Jiang Wu berjanji akan mengenakan baju putih saat bertemu dengannya. Saat Gu Bei merasa senang, Jiang Wu justru merasa galau. Dia sebenarnya tak percaya diri untuk bertemu Gu Bei dan mengaku bila dirinya adalah Pai.


Jiang Wu memecahkan celengannya dan mencoba beberapa baju putih yang dimilikinya tapi tak ada yang muat. Hal itu membuat Jiang Wu sedih. Saat pulang sekolah, dia tak sengaja melihat baju putih yang sederhana tapi anggun di sebuah butik. Si pemilik butik dengan ramah membantu Jiang Wu mencoba baju itu dan ternyata pas cuma harganya mahal. Jiang Wu diam-diam 'mengambil' baju itu dan memasukkannya dalam tas. Dia buru-buru pergi sebelum si pemilik butik mengetahuinya tapi dia ceroboh, salah satu bukunya ketinggalan di butik itu.


Yi Yi membuka locker Jiang Wu dan berhasil mencuri gelang ajaibnya. Zhang Min tersenyum dan keduanya buru-buru keluar dari ruang locker. Di tempat yang sepi, Yi Yi dan Zhang Min mengamati gelang itu. Yi Yi tak percaya bila gelang ini ajaib tapi Zhang Min memaksa Yi Yi untuk mencobanya. Yi Yi kecewa karena tak ada reaksi apapun. Zhang Min kembali mengamati gelang itu dan dia yakin Jiang Wu menekan bagian atas gelang itu. Zhang Min ingin Yi Yi mencobanya tapi lagi-lagi keduanya kecewa karena tak ada yang terjadi.


Di ruang locker, Jiang Wu kebingungan karena gelangnya hilang. Dia bertanya pada petugas kebersihan tapi orang itu tak melihat siapapun yang masuk ke ruang locker. Jiang Wu kelihatan panik dan tak tahu kemana harus mencari gelangnya.


Sedangkan Yi Yi bergegas ke kelas dan membuka tas Jiang Wu. Dia tersenyum mengejek ketika mendapati baju putih yang besar dari dalam tas itu. Yi Yi menemukan buku Jiang Wu yang berisi 'percakapan' rahasianya bersama Gu Bei. Yi Yi baru tahu bila gelang itu hanya berfungsi pada satu orang saja. Zhang Min yang menunggu di depan kelas agak panik dan mengatakan bila Jiang Wu datang tapi Yi Yi masih asyik membaca tentang janji Jiang Wu pada Gu Bei, bahwa saat itu dia akan mengenakan baju putih. Zhang Min terpaksa mengulangi apa yang dikatakan sebelumnya yaitu Jiang Wu akan datang. Yi Yi buru-buru mengembalikan buku itu dalam tas lalu pergi.


Yi Yi dan Zhang Min berjalan sambil membahas tentang gelang yang mereka curi. Zhang Min merasa bila gelang itu tak berguna dan Yi Yi tanpa ragu membuangnya di tempat sampah. Keduanya tersenyum menang lalu pergi. Setelah mereka pergi, gelang itu bersinar terang.


Guru Lin berharap agar semua siswa bisa lancar mengikuti ujian yang akan di mulai besok. Jiang Wu hanya bisa diam menunduk seolah tak percaya diri menghadapi ujian besok. Guru Lin melihatnya dan mengangguk seolah ingin memberinya semangat.


Saat ujian di mulai, Jiang Wu tampak kebingungan dan tak siap. Gelang ajaib Jiang Wu juga mengalami perjalanan yang tak menyenangkan. Di mulai dari diangkut ke dalam truk sampah lalu jatuh di jalan dan ada yang tak sengaja menendangnya hingga jatuh ke dalam selokan. Jiang Wu memilih jalan pintas dengan membuat contekan dan dia akhirnya ketahuan guru pengawas. 


Jiang Wu sedang bersama Guru Lin di ruang guru ketika ibunya datang. Guru Lin menjelaskan bila Jiang Wu ketahuan mencontek saat ujian disertai bukti kertas contekan. Ibu jelas kesal melihat ulah putrinya dan mengomelinya. Tiba-tiba muncul seorang wanita yang mengaku sebagai pemilik butik, wanita itu menunjukkan buku milik Jiang Wu pada Guru Lin.

Jiang Wu kaget melihat wanita berambut panjang itu dan berusaha menghindar tapi Guru Lin memanggilnya. Wanita pemilik butik itu mengenali Jiang Wu. Ibu yang melihat putrinya gugup menjadi penasaran dan merebut tas putrinya lalu membukanya. Ibu heran melihat ada baju putih dalam tas itu. Wanita berambut panjang itu menjelaskan dengan wajah cemberut bila itu baju ada di butiknya dan Jiang Wu telah mengambilnya. Ibu tak percaya Jiang Wu berbuat seperti itu dan spontan menamparnya. Jiang Wu menangis dan menolak dituduh mencuri.

Sementara itu, di luar ruangan guru ada dua siswi yang tak sengaja melihat dan menguping pembicaraan mereka. Keduanya lantas menyebarkan berita bahwa Jiang Wu mencontek dan juga mencuri. Dalam waktu singkat berita itu sudah menjadi topik hangat di sekolah. 

Jiang Wu ingin membela diri tapi ketiga orang dewasa yang ada di ruangan itu menatapnya dengan pandangan tajam seolah ingin menghakiminya. Jiang Wu yang masih menangis memilih kabur. Ibu berusaha mengejarnya. Jiang Wu berlari dan dia tak sengaja menabrak Gu Bei. Gu Bei ingin bertanya tapi Jiang Wu kian ketakutan dan memilih kabur. 

Jiang Wu terus berlari hingga kelelahan lalu memilih berhenti sejenak untuk mengatur nafas. Ketika sedang berjalan, dia tak sengaja menemukan gelang ajaibnya kembali. Jiang Wu memakai gelang itu dan mencobanya, ternyata gelang itu masih berfungsi. Dan kini Jiang Wu memutuskan untuk bersembunyi di sebuah gudang yang tak terpakai lagi. Sedangkan ibu berusaha menelepon semua kenalannya untuk mencari keberadaan putrinya tapi tak ada siapapun yang tahu.

Siang malam ibu tak lelah untuk mencari Jiang Wu sedangkan Jiang Wu hanya bisa menangis sendirian di tempat yang asing. Jiang Wu sempat bertanya pada Gu Bei tentang kesalahan yang telah diperbuatnya, apakah dia bisa dimaafkan. Gu Bei menjawab bila semua itu tergantung pada seberapa besar kesalahannya. Gu Bei menegaskan bila dia tak sabar untuk bertemu.

Jiang Wu masih sedih dan galau tapi dia teringat janjinya pada Gu Bei. Jiang Wu segera pergi ke tempat janjian yang sudah ditentukan. Jiang Wu mengintip dari balik pohon, ternyata Gu Bei sudah menunggunya. Dia ingin segera mendekati Gu Bei tapi langkah Jiang Wu terhenti dan dia kaget sekaligus sedih. Jiang Wu melihat Yi Yi sengaja menyamar menjadi dirinya.

Jiang Wu melampiaskan kesedihannya dengan makan camilan sebanyak-banyaknya. Dia tak perlu repot karena punya gelang ajaib, Jiang Wu bisa mengambil apa saja tanpa ketahuan. Sayangnya, Jiang Wu mencuri di toko milik ibunya sendiri. Suatu saat, dia mengambil banyak makanan tapi Jiang Wu tak jadi membawanya pergi setelah melihat tulisan ibunya. Ibunya menulis bahwa dia tak tahu siapa yang mencuri di tokonya tapi ibu tak suka dengan hal itu. Ibu mengeluh bila dalam bulan ini banyak kejadian tak terduga termasuk putrinya yang hilang. 

Jiang Wu merasa bersalah dan berniat mengembalikan apa yang sudah dia curi. Satu-satunya cara yang dia ketahui adalah dengan menjadi pemulung. Jiang Wu mengumpulkan bermacam sampah plastik yang bisa dijual agar bisa mendapatkan uang. Sejak saat itu Jiang Wu selalu membayar apa yang sudah diambil atau dimakannya.

Waktu terus berlalu dan tak terasa kini sudah setahun Jiang Wu menjalani hidup sebagai pemulung. Suatu malam saat sedang bekerja, dia melihat seseorang yang akan lewat. Jiang Wu segera menekan tombol di gelangnya tapi gelang itu tak berfungsi. Jiang Wu panik karena tak ingin bertemu siapapun, dia kembali mencoba tapi gelangnya tak bereaksi. Rupanya yang muncul adalah nenek si pemilik gelang. 

Jiang Wu menceritakan apa yang dialaminya selama setahun terakhir dan dia berniat mengembalikan gelang itu pada nenek. Dia tak ingin tambahan hari, Jiang Wu hanya ingin kembali ke masa dulu saat sebelum memiliki gelang ajaib. Nenek tersenyum dan menasihati Jiang Wu. Nenek mengingatkan bila dulu dia berpesan agar Jiang Wu tetap menjadi dirinya sendiri walaupun memiliki gelang ajaib tapi Jiang Wu malah memanfaatkan gelang itu untuk hal yang tak baik.

Jiang Wu mengaku menyesali perbuatannya dan nenek menyarankan agar dirinya pulang bertemu ibu. Tapi Jiang Wu menolak dengan alasan tak berani bertemu ibunya karena dia sudah banyak mengecewakannya. Jiang Wu juga yakin bila dirinya tak diterima lagi di sekolah. Dia merasa semuanya sudah berakhir. Nenek kembali bertanya apakah Jiang Wu ingin pulang? Jiang Wu ingin tapi masih takut.

Nenek memberi solusi. Beliau membuka sebuah buku dan menghapus dua baris kalimat. Nenek kini meyakinkan bila Jiang Wu sudah bisa pulang ke rumah. Jiang Wu memanggil nenek karena masih ingin bertanya sesuatu. Nenek menegaskan bila dirinya bisa menghapus kesalahan Jiang Wu tapi dia tak bisa menghapus ingatan semua orang tentang kejadian itu. Jiang Wu harus bisa mengatasinya sendiri.

Jiang Wu akhirnya pulang. Dia membuka pintu dan melihat rumah sedang sepi. Jiang Wu berjalan menuju kamarnya dan kamarnya masih tertata rapi seperti biasanya. Tiba-tiba ibu datang dan beliau tak percaya melihat putrinya telah kembali. Jiang Wu langsung berlari menuju pelukan ibunya. Ibu dan anak akhirnya saling berpelukan sambil menangis. Keduanya saling minta maaf. Ibu senang dan berniat memasak makanan kesukaan putrinya.

Jiang Wu kembali ke sekolah tapi tempat duduknya tak ada. Saat guru masuk, para siswa beralasan tak ingin sekelas dengan Jiang Wu dan berbagai alasan lain. Bila Jiang Wu mau, dia bisa duduk di pojokan. Jiang Wu menguatkan hati dan bersedia duduk di pojokan. Saat pelajaran, para siswa memberi pesan berantai untuknya. Isi pesan itu adalah sebuah olokan bila dirinya gendut seperti babi. Jiang Wu kesal dengan olokan itu. Dia menekan tombol gelangnya dan berganti baju olahraga. Dia berlari keliling lapangan. 

Saat sedang belajar, dia tak sengaja melihat kertas pesan dari Gu Bei. Jiang Wu penasaran dan datang ke kamar Gu Bei. Dia tak menyangka bila ternyata Gu Bei sudah tahu bila Yi Yi hanya pura-pura menjadi Pai. Gu Bei ingin sekali bertemu Jiang Wu. Gu Bei tak akan lelah menunggu Jiang Wu membalas pesannya. Jiang Wu terharu dan dia meninggalkan boneka kesayangannya di meja belajar Gu Bei.

Jiang Wu membalas pesan Gu Bei. Dia mengaku telah membuat kesalahan besar tapi Jiang Wu ingin membuktikan bila orang yang pernah berbuat salah masih layak untuk dimaafkan, selama dia punya keberanian untuk berubah menjadi lebih baik. Jiang Wu ingin Gu Bei memberinya waktu untuk berubah. Jiang Wu bertekad untuk berubah dan hal pertama yang dilakukannya adalah membuang semua camilan yang ada di dalam kamarnya. 

Saat jam istirahat sekolah, Jiang Wu memanfaatkan waktu untuk berolahraga yaitu berlari keliling lapangan. Di kelas, Jiang Wu juga lebih rajin dan tekun belajar. Di saat waktu luang, dia juga memanfaatkannya dengan belajar dan belajar. Tak lupa, Jiang Wu berolahraga secara teratur. Waktu berjalan terus berlalu dan kini tubuh Jiang Wu sudah langsing.

Ibu dan Jiang Wu pergi ke butik. Jiang Wu sedang berada di lantai atas untuk mencoba baju dan ibu tertegun sekaligus bahagia ketika melihat putrinya turun dari tangga. Jiang Wu yang kini sudah langsing kian terlihat manis saat mengenakan gaun putih sederhana dengan hiasan pita di pinggangnya. Ibu tersenyum melihat perubahan putrinya dan Jiang Wu kian merasa percaya diri.

Hari itu Jiang Wu pergi ke sekolah dengan langkah ringan. Dia berjalan santai menuju kelasnya. Jiang Wu tak menyadari ada beberapa siswa yang terpesona dengan penampilan barunya, mereka mengira ada siswa pindahan baru. Teman Gu Bei meralat dan mengatakan bila dia itu siswi lama yaitu Jiang Wu. Mereka ternganga tak percaya begitu pula dengan Gu Bei.

Seorang guru perempuan masuk ke kelas Jiang Wu dan mengumumkan tentang nilai ujian. Guru menerangkan bila Jiang Wu mendapat peringkat tertinggi di kelas dan juga tertinggi di sekolah. Jiang Wu yang sedang melamun tak menyangka dengan hasil yang sudah dicapainya. Dia hanya diam ketika semua teman dan gurunya bertepuk tangan untuknya.

Jiang Wu sedang membaca di koridor sekolah ketika Gu Bei memanggilnya. Gu Bei mengaku tak percaya dengan perubahan yang dialami oleh Jiang Wu dan gadis itu hanya tersipu malu sambil menunduk. Gu Bei memberanikan diri untuk mengembalikan bonekanya tapi Jiang Wu yang merasa gugup malah menggeleng seolah mengatakan bila boneka itu bukan miliknya. Gu Bei tampak kecewa dan mengatakan bila semula dirinya menduga bahwa Jiang Wu adalah Pai tapi ternyata dia salah. Gu Bei minta maaf lalu pamit.

Malamnya, Jiang Wu menulis surat untuk Gu Bei yang isinya dia tak punya keberanian untuk mengakui bonekanya tapi kini dia ingin mengakui semuanya bahwa dirinya adalah Pai. Dan paginya Jiang Wu berniat memberikan surat itu pada Gu Bei. Tapi dia heran ketika melihat kamar kos Gu Bei yang sudah kosong. Jiang Wu hanya melihat secarik kertas di atas meja belajar yang isinya permintaan maaf Gu Bei karena tak bisa menunggu lagi.

Jiang Wu bergegas menuju sekolah untuk mencari sahabat Gu Bei. Sahabat Gu Bei mengatakan bila Gu Bei berniat kembali ke kampung halamannya dengan naik kereta api. Jiang Wu panik ketika mendengar bila keretanya akan berangkat lima menit lagi. Jiang Wu segera mengayuh sepedanya menuju stasiun setelah menekan tombol di gelangnya.

Dalam perjalanan, Jiang Wu seolah bisa mendengar pengakuan Gu Bei tentang dirinya sendiri. Gu Bei mengaku bila dirinya tak sebagus tampilan di luar, dia egois dan lemah. Dia merasa kesal ketika tiga tahun yang lalu ayahnya terlibat masalah hingga di penjara. Hal itu membuat ibu dan dirinya menjadi bahan tertawaan orang lain. Gu Bei tak bisa memaafkan ayahnya karena menyebabkan ibu dan dirinya menanggung akibat perbuatannya. Tapi kini ayahnya sudah bebas dan dia ingin memberi ayahnya kesempatan kedua. 

Gu Bei terinspirasi dari seseorang yang ada di sekolah. Orang yang pernah berbuat kesalahan tapi berani mengubah dirinya untuk menjadi lebih baik. Orang yang dimaksud Gu Bei adalah Jiang Wu. Gu Bei merasa kecewa ketika mengetahui bahwa dugaannya keliru, dia mengira Jiang Wu adalah Pai tapi Jiang Wu tak mau mengaku. Gu Bei tak tahu apakah mereka akan bisa bertemu lagi tapi Gu Bei berharap bila kelak mereka bertemu maka dirinya juga akan bisa berubah menjadi orang yang lebih baik.

Tanpa sadar Jiang Wu terjatuh dari sepedanya dan rantai sepedanya rusak sehingga Jiang Wu terpaksa melanjutkan perjalanan ke stasiun dengan berlari. Jiang Wu berlari sambil mengingat kembali saat indah bersama Gu Bei. Waktu terus berlalu dan Jiang Wu kembali menekan tombol di gelangnya ketika sudah sampai di stasiun.

Di stasiun, Gu Bei sedang menunjukkan karcis kepada petugas sebelum masuk kereta. Jiang Wu masuk ke dalam stasiun dan dia mengedarkan pandangan untuk mencari Gu Bei tapi tak ada. Jiang Wu menuju kereta yang hendak berangkat. Dia berusaha memanggil, mengintip dan mengetuk jendela penumpang. Dia berharap bisa melihat Gu Bei untuk terakhir kalinya.

Harapannya tercapai, Jiang Wu melihat Gu Bei. Gu Bei heran melihat Jiang Wu dan dia tak mengerti isyarat gadis itu. Jiang Wu ingin mengatakan bila dirinya adalah Pai tapi Gu Bei tak bisa mendengarnya. Jiang Wu tampak putus asa ketika Gu Bei hanya tersenyum sambil melambaikan tangan.

Jiang Wu mencoba menulis sesuatu di lantai agar Gu Bei bisa melihatnya tapi sayang kereta sudah mulai berjalan sehingga Gu Bei kesulitan membacanya. Gu Bei berusaha bergeser ke tempat duduk di belakangnya tapi entah dia bisa membaca kode rahasia itu atau tidak, yang jelas kerata melaju kian jauh. Jiang Wu hanya bisa menangis sambil melambaikan tangan.


Hari terus berganti, Jiang Wu kembali bertemu nenek yang sedang berusaha membujuk seorang bocah laki-laki untuk pulang ke rumah tapi bocah itu menolak. Jiang Wu mengembalikan gelang itu pada nenek dengan alasan gelang itu butuh tuan yang baru. Nenek tersenyum dan menerima gelangnya kembali. Jiang Wu akhirnya pergi sambil melambaikan tangan pada mereka.

Adegan yang paling mengharukan :

Aku memilih adegan pertemuan kembali antara Jiang Wu dan ibunya setelah setahun berpisah. Jiang Wu tak kuasa menahan rindu dan haru ketika melihat ibunya yang tampak kusut. Dia langsung berlari dan memeluk ibunya tanpa ragu. Ibu kaget sekaligus bahagia melihat putri yang selama ini dicarinya kini telah kembali. Keduanya berpelukan sambil menagis, Jiang Wu minta maaf karena telah mengecewakan ibunya dan ibu juga minta maaf karena telah memarahi dan menamparnya.

Tak ada orangtua yang benar-benar membenci anaknya walaupun perbuatan anaknya kadang membuat orangtua kesal atau marah. Itulah pesan yang ingin disampaikan dalam film ini tentang hubungan Jiang Wu dengan ibunya. Ibu pastilah kesal melihat putrinya yang suka berbohong dan malas belajar sehingga selalu mendapat nilai buruk. Tapi ibu tetaplah ibu, walapun putrinya nakal toh ibu selalu menyiapkan segala keperluan putrinya. Misalnya membiasakan sarapan atau membangunkan putrinya agar tidak telat ke sekolah.


Tapi kesabaran seseorang pasti ada batasnya juga. Ketika ibu mendapat kabar bahwa putrinya ketahuan menyontek saat ujian dan juga mencuri baju dari sebuah butik, jelas amarah ibu langsung tersulut. Tanpa pikir panjang ibu langsung menampar Jiang Wu tanpa menunggu penjelasan putrinya. Kurasa ibu tak akan semarah atau sekesal itu hingga menampar Jiang Wu bila tak ada saksi (Guru Lin dan wanita pemilik butik). Berhubung ada saksi maka kemarahan itu menjadi berlipat ganda, ada rasa marah dan juga malu. Mengapa malu? Ya karena ada saksi maka ibu menjadi malu karena merasa tak mampu mendidik putrinya dengan baik sehingga menjadi pencuri dan menyontek saat ujian.


Ketika Jiang Wu memilih bersembunyi setelah ditampar ibunya maka ada rasa penyesalan yang dirasakan si ibu. Ibu berusaha mencari keberadaan putrinya misalnya dengan menelepon para teman dan kerabat untuk menanyakan tentang Jiang Wu tapi tak ada yang mengetahuinya. Ibu tak lelah dan berusaha mencari Jiang Wu dengan cara membawa foto putrinya dan bertanya pada orang-orang yang ditemuinya di jalan.

Jiang Wu sendiri pastilah merasa malu dan takut karena telah ketahuan berbuat curang. Pada saat kondisi seperti itu, sikap dan reaksi para orang dewasa justru tak mendukungnya. Ibu malah marah dan menamparnya, wanita pemilik butik menatapnya dengan sorot kesal sedangkan Guru Lin menatapnya dengan sorot tajam seolah tak percaya dengan apa yang telah terjadi. Hal ini malah membuat Jiang Wu merasa dihakimi, dia panik dan memilih melarikan diri.

Jiang Wu takut pulang dan dia kian percaya diri saat menemukan gelang ajaibnya. Jiang Wu mantap untuk memutuskan hidup menyendiri sementara waktu. Hidup sendiri membuat Jiang Wu menyadari kesalahannya dan belajar untuk bertanggungjawab dengan hidupnya sendiri. Misalnya tak mencuri lagi, selalu membayar apa yang sudah diambilnya.

Berpisah selama setahun membuat ibu dan anak itu menyadari kesalahan masing-masing. Bertemu kembali membuat keduanya tak kuasa menahan tangis dan saling berpelukan minta maaf. Ibu meluapkan kegembiraannya dengan memasak makanan kesukaan putrinya dan keduanya mendapat kesempatan kedua untuk bersama kembali.

Sesuatu yang kecil tapi cukup menganggu.

Biasanya aku tak pernah terlalu memperhatikan detail properti yang digunakan tokoh dalam suatu film atau drama tapi dalam film ini berbeda. Aku tak sengaja melihat sesuatu yang agak menganggu. Apa itu???

Menjelang akhir film, ada adegan saat Jiang Wu ingin mengatakan isi hatinya dengan jujur pada Gu Bei tapi ketika datang ke tempat kosnya ternyata kamar Gu Bei sudah kosong. Jiang Wu sempat membaca surat yang ditinggalkan Gu Bei untuknya, Gu Bei mengatakan bila dirinya ingin pulang kampung. Jiang Wu yang panik, buru-buru pergi ke sekolah untuk mencari sahabat Gu Bei dan bertanya tentang kabar itu. Dari sahabat itu, Jiang Wu mendapat kabar bila Gu Bei akan pulang kampung dengan naik kereta api dan keretanya akan berangkat lima menit lagi. Jiang Wu segera mengayuh sepedanya menuju stasiun dengan harapan bisa bertemu Gu Bei.

Sekilas tak ada yang salah dengan adegan itu, justru terasa sangat menyetuh dan hatiku ikut berdebar seolah berada di posisi Jiang Wu. TAPI, bila diperhatikan dengan seksama maka ada yang kurang. Apa itu??? Aku bingung kemana perginya tas merah muda yang dibawa Jiang Wu?

Jadi, saat Jiang Wu mampir ke tempat kos Gu Bei sebelum ke sekolah. Jelas Jiang Wu mengenakan tas punggung berwarna merah muda. Tapi ketika dia pergi ke sekolah untuk mencari sahabat Gu Bei, ternyata Jiang Wu sudah tak mengenakan tasnya lagi. Semula kupikir bila Jiang Wu meninggalkan tasnya di kamar kos Gu Bei. Mungkin karena panik setelah membaca surat perpisahan dari Gu Bei maka Jiang Wu tak sengaja meinggalkan tasnya dan buru-buru ke sekolah. Tapi nyatanya setelah aku putar kembali filmnya, Jiang Wu masih mengenakan tasnya ketika keluar dari tempat kos Gu Bei.

Setelah tiba di sekolah tas Jiang Wu tiba-tiba menghilang. Aku akhirnya lebih fokus memperhatikan adegan ketika Jiang Wu menuju stasiun dengan mengayuh sepedanya. Ternyata tasnya memang menghilang hingga Jiang Wu tiba di stasiun. Wuihh...ini baru ajaib! Jujur aku bukan bawel atau sok sempurna. Aku justru ingin mengatakan bila tak ada manusia yang sempurna di dunia ini termasuk para sutradara dan krunya dalam pembuatan film ini.

Aku bisa paham bila ini sebuah sinetron kejar tayang sehingga waktu editingnya singkat tapi ini kan sebuah film. Tapi ya itu tadi, tak ada manusia yang sempurna seperti yang terjadi dalam film ini. Bagiku, masalah tas yang raib itu tak mengurangi kesanku tentang film ini. Aku suka sekali dengan jalan cerita film ini!

Dituduh mencuri adalah menyakitkan sekaligus memalukan dan balas dendam adalah sesuatu yang wajar dilakukan.

Jiang Wu bukan gadis yang populer atau pandai, dia hanya gadis biasa yang mempunyai banyak kekurangan. Diantaranya bertubuh subur, malas belajar dan suka berbohong pada ibunya. Sosok Jiang Wu sebenarnya tak perlu dianggap sebagai ancaman serius bagi gadis secantik dan sepopuler Zhou Yi Yi. Tapi nyatanya Yi Yi merasa terancam dengan keberadaan Jiang Wu yang ikut mendaftar sebagai panitia OSIS. Hal ini dipicu oleh keberhasilan Jiang Wu memenangkan tantangan teman sekelasnya. Seorang teman berjanji bila Jiang Wu mampu mengambil tasnya yang bertengger di dahan pohon yang tinggi maka semua teman sekelas akan memberikan suara untuknya.

Yi Yi dan sahabatnya yang bernama Zhang Min akhirnya menyusun rencana untuk menjatuhkan Jiang Wu, caranya dengan memfitnahnya. Zhang Min seolah kehilangan dompetnya dan ternyata dompetnya ada di tas Jiang Wu (padahal itu semua hanya rencana jahat Yi Yi dan Zhang Min). Jiang Wu berusaha menyangkal tapi Guru Lin tak mempercayainya. Mengapa? Jiang Wu tak punya nilai lebih di mata Guru Lin selain sebagai siswi pemalas sehingga penyangkalannya tak bisa dipercaya.

Siapa sih yang senang dituduh sebagai pencuri padahal semua hanya rekayasa dari pihak yang tak bertanggungjawab? Begitu pula dengan Jiang Wu, dia merasa sedih dan lebih kesal lagi karena tak ada yang mempercayainya. Ingin rasanya membalas dendam tapi Jiang Wu tak punya daya.

Kesempatan balas dendam itu muncul ketika Jiang Wu tak sengaja berada di 'dunianya' setelah menekan tombol di gelangnya. Saat melihat sepeda milik Zhang Min maka timbul ide untuk membalas dendam karena merasa pernah diperlakukan dengan tak adil. Cara balas dendam Jiang Wu tergolong unik, bukan merusak sepeda itu tapi Jiang Wu sengaja menarik sepeda itu agak bertengger di atas ring basket. Dan ketika Jiang Wu kembali ke 'dunia nyata' maka dia menjadi kaget karena ternyata dia membuat sepeda Zhang Min sekaligus pemiliknya bertengger di atas ring basket padahal saat di 'dunianya' Jiang Wu hanya mengangkat sepeda saja.

Dan ketika Jiang Wu menyadari bila Zhang Min dan Yi Yi memang sengaja ingin menjebaknya agar gagal menjadi panitia OSIS maka Jiang Wu membalas perbuatan Zhang Min dengan hal yang sama. Jiang Wu sengaja memasukkan beberapa dompet milik teman-temannya ke dalam tas Zhang Min sehingga Zhang Min bisa merasakan hal yang sama seperti yang dirasakannya dulu. Dituduh mencuri dompet padahal tak merasa mengambil dompet.

Apakah tindakan Jiang Wu membalas dendam itu salah? Kurasa tidak karena tak ada siapapun yang suka diperlakukan secara tak adil. Kadang orang yang sudah diperlakukan secara adil saja masih protes, lha Jiang Wu malah diperlakukan dengan semena-mena. Jelas dia akan membalas dendam bila ada kesempatan dan kemampuan.

Mendapat pernyatan cinta dari penggemar rahasia kadang membuat seseorang menjadi serba salah.

Saat Jiang Wu berada dalam 'dunianya' maka dia sengaja menulis pernyataan cintanya pada pria pujaannya yaitu Gu Bei. Jiang Wu mengira bila apa yang dilakukannya hanya sebatas dalam mimpi dan saat bangun maka semuanya akan musnah. Nyatanya, apa yang dia tulis telah membuat sekolah gempar. Pernyataan cinta itu masih tertulis rapi di tembok dekat lapangan olahraga. Semuanya nyata dan bukan mimpi. Jiang Wu jelas tak menyangka bila apa yang ditulisnya masih ada dan kini semua siswa yang melihatnya menjadi bertanya-tanya. Siapa gerangan yang menulisnya?

Jiang Wu masih tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Dia sengaja meminta seseorang yang berdiri disampingnya untuk mencubit dirinya dengan kuat. Seseorang yang berdiri disampingnya ternyata adalah Gu Bei dan Jiang Wu tak menyadarinya. Dia malah sedikit membentak Gu Bei agar segera mencubitnya. Gu Bei menurut dan mencubitnya, Jiang Wu mengaduh kesakitan dan hendak marah tapi dia malah gugup saat menoleh. Dia melihat Gu Bei yang mencubitnya. Jiang Wu panik dan memilih kabur.


Ulah Jiang Wu jelas membuat Gu Bei bingung. Seharusnya dirinya yang bingung atau gugup tapi mengapa malah orang lain yang 'mewakili' perasaannya? Gu Bei jelas tak tahu bila orang yang menulis pernyataan cinta itu adalah Jiang Wu. Gu Bei hanya bisa mengelus rambut sebagai tanda bila dirinya sedikit malu saat para siswa membicarakan tentang dirinya.

Cantik bukan jaminan seseorang menjadi percaya diri.


Yi Yi adalah gadis yang cantik, langsing, memiliki senyum yang manis serta berambut panjang. Tipe gadis yang ideal tapi toh dia merasa terancam dengan kehadiran Jiang Wu yang secara fisik kalah jauh darinya. Seharusnya Yi Yi tetap percaya diri walaupun motivasi Jiang Wu ingin menjadi panitia OSIS adalah agar bisa dekat dengan Gu Bei (sama seperti motivasinya sendiri). 


Mengapa Yi Yi tak percaya diri? Menurut pendapatku setelah nonton film ini adalah gadis seperti Yi Yi cenderung pemalu dan lebih suka menunggu. Artinya dia ingin selalu tampil anggun dan manis di depan Gu Bei. Dia malu untuk menyatakan rasa sukanya dan lebih memilih menunggu Gu Bei yang mendekatinya. Sedangkan gadis seperti Jiang Wu cenderung bersikap apa adanya, mengungkapkan apa yang dirasakannya secara bebas. Istilahnya dia bermuka tembok, kalau sinyal cintanya diterima ya syukur kalau tidak juga tak apa. Yang penting sudah berusaha dan tak merugikan orang lain.

Yi Yi jelas tak mungkin mau seperti Jiang Wu yang dianggapnya sebagai gadis yang norak dan tak tahu malu. Yi Yi hanya bisa marah, kesal dan sewot ketika melihat Jiang Wu berhasil melakukan sesuatu. Misalnya saat Jiang Wu berhasil mengambil tasnya di dahan pohon yang tinggi sehingga Jiang Wu dengan mudah mendapat suara dari semua teman sekelasnya.

Biasanya gadis seperti Yi Yi tak mau menunjukkan rasa tak sukanya secara langsung dan hanya berani bermain curang untuk menjegal lawan. Hal ini juga yang dilakukan Yi Yi dengan bantuan sahabatnya, mereka memfitnah Jiang Wu sebagai pencuri sehingga keikutsertaannya sebagai panitia OSIS dicabut. Contoh lainnya saat olahraga, Yi Yi sengaja menabrakkan dirinya pada Jiang Wu sehingga tubuh Jiang Wu terdorong ke depan dan guru olahraga menganggap Jiang Wu bersedia ikut serta sebagai peserta lomba lari mewakili kelasnya. 

Puncaknya adalah ketika Yi Yi mencuri gelang ajaib milik Jiang Wu dengan harapan bisa mendapatkan keajaiban seperti yang diperoleh Jiang Wu. Sayangnya nenek sudah memberi mantera bila gelang ajaib itu hanya berfungsi di tangan Jiang Wu. Jelas Yi Yi kesal padahal dia sudah bersusah payah mencurinya dan mencoba mengutak-atik gelang itu tapi gelang itu tak berfungsi. Yi Yi merasa telah membuang waktu dan tenaga sehingga dia membuang gelang itu tanpa merasa bersalah sedikitpun.

Bagi Yi Yi, tak apa bila dia tak bisa mendapatkan manfaat dari gelang ajaib itu toh dia sudah tahu jadwal pertemuan dan kode rahasia Jiang Wu (Pai) dengan Gu Bei. Prinsip Yi Yi, bila dia tak mendapat manfaat dari gelang ajaib itu lebih baik dibuang saja biar Jiang Wu kelimpungan.

Jadi kesimpulanku, gadis yang memiliki paras cantik seperti Yi Yi belum tentu merasa percaya diri dengan apa yang telah dimilikinya (kecantikan). Yi Yi mempunyai rasa iri bukan dengan gadis yang lebih cantik dari dirinya tapi justru iri dengan gadis yang biasa saja seperti Jiang Wu. Jadi, bila kamu memiliki wajah yang biasa saja, bertubuh subur atau merasa memiliki kekurangan jangan merasa kecil hati atau minder karena memang tak ada manusia yang sempurna. Berbahagialah dan syukuri apa adanya dirimu, selalu berpikir positif dan meyakinkan diri sendiri bahwa masih ada orang lain yang memiliki kekurangan lebih banyak dari diri kamu.

Bila kamu sudah bisa menerima diri sendiri apa adanya maka aura bahagia akan terpancar dari wajahmu. Contohnya Jiang Wu, dia selalu tampil ceria walaupun banyak teman yang membenci dan suka menjahili dirinya. Dia tetap rajin ke sekolah karena punya satu tujuan yaitu bisa melihat Gu Bei setiap hari.


Hikmah yang bisa diambil dari film ini :


Arti keajaiban yang sebenarnya adalah suatu proses dari sebuah perubahan bukan sesuatu yang instant. Menurutku, sebelum mendapatkan gelang ajaib sebenarnya Jiang Wu sudah mampu menciptakan keajaiban dengan usahanya sendiri. Apa itu??? Di saat temannya mengolok dan menjahilinya dengan mengatakan semua teman sekelas akan memberikan suara untuknya bila Jiang Wu bisa mengambil tasnya yang ada di dahan pohon yang tinggi. 


Mereka berani menantang seperti itu karena menganggap Jiang Wu pasti tak akan berani naik pohon dan mengambil tasnya kembali. Tapi mereka salah! Jiang Wu memang takut tapi dia menjadi kuat karena memiliki mimpi untuk bisa menjadi panitia OSIS sehingga bisa lebih dekat dengan Gu Bei. Mimpi itulah yang menjadi kekuatan Jiang Wu dan akhirnya dia mampu memenangkan tantangan itu walaupun dia harus jatuh setelah mendapatkan tasnya. Dia mengaduh kesakitan tapi sebagai imbalannya, dia mendapat banyak suara hingga posisinya melesat di peringkat kedua dan di peringkat pertama ada Yi Yi tapi selisih nilai keduanya sangat tipis.


Ketika mendapatkan gelang ajaib, Jiang Wu memang bisa mendapatkan apa yang diinginkan dengan cepat dan hal itu membuatnya terlena. Jiang Wu lupa dengan kata usaha dan kerja keras karena dia bisa mendapatkan semuanya secara instant. Hal yang paling mencolok dan membuat Yi Yi iri setengah mati adalah saat Jiang Wu bisa menduduki peringkat pertama dalam ujian, mengalahkan Gu Bei padahal Gu Bei terkenal rajin belajar. Siapapun pasti tak percaya dengan pencapaian Jiang Wu yang terkesan mendadak, dari yang bukan siapa-siapa mendadak menjadi juara kelas.


Jiang Wu kian terlena dan ceroboh, dia ingin menyenangkan orang lain tapi lupa untuk melindungi rahasianya. Dia tak sengaja meninggalkan 'jejak' (Zhang Min berhasil memotret Jiang Wu saat menekan gelangnya) sehingga Yi Yi curiga dan berhasil mencuri rahasianya yaitu gelang ajaib. Hasilnya bisa ditebak, Jiang Wu kelimpungan tanpa gelang ajaibnya sehingga semua kecurangannya terbongkar. Jiang Wu yang semula merasa menjadi terbaik kini menjadi terhina dan dia tak sanggup menghadapinya. Jiang Wu memilih bersembunyi dalam 'dunianya' sendiri, keputusan ini diambil setelah Jiang Wu menemukan gelang ajaibnya kembali.


Dengan memiliki gelangnya kembali, Jiang Wu merasa tak butuh orang lain toh dia bisa memenuhi kebutuhan hidupnya dengan 'mengambil' barang apa saja yang diinginkannya tanpa ketahuan. Ini memang menyenangkan tapi Jiang Wu menjadi sadar bila apa yang dilakukannya salah ketika dia mendapati 'pesan' ibunya dan sejak saat itu Jiang Wu mulai belajar untuk bertanggungjawab atas apa yang telah dilakukannya yaitu membayar sesuatu yang sudah dimakan atau diambilnya. Caranya? Jiang Wu melakukan pekerjaan sebagai pemulung. 


Seseorang tak mungkin bisa bersembunyi selamanya begitu pula dengan Jiang Wu, dia sebenarnya ingin bertemu ibunya dan menjalani kehidupan seperti yang sebelumnya tapi dia takut dan malu. Nenek pemilik gelang datang membantu dengan menghapus semua kesalahannya tapi Jiang Wu masih harus menghadapi rasa takut dan malunya. Serta tak boleh mengeluh dengan perlakuan buruk orang lain terhadap dirinya karena itu adalah konsekuensi yang harus dihadapinya.

Berjumpa kembali dengan ibu dan kembali bersekolah membuat Jiang Wu bertekad untuk berubah tapi tekad itu kian kuat setelah membaca pesan dari Gu Bei. Kadang tekad saja memang tak terlalu kuat untuk membuat seseorang berubah, diperlukan 'sesuatu' dari luar dirinya untuk membuat orang itu tergerak untuk berubah. 


Misalnya saat Jiang Wu hidup dalam 'dunianya' sendiri, dia terbiasa mengambil apapun tanpa memikirkan orang lain tapi dia langsung berubah saat membaca pesan dari ibunya (Jiang Wu sering mengambil makanan atau apapun di supermarket milik ibunya). Jiang Wu merasa bersalah karena terlalu banyak meyusahkan ibunya dan berjanji akan membayar apa yang telah diambilnya. Sejak saat itu Jiang Wu menjadi pemulung demi membayar apa saja yang telah diambilnya. Dia tak mau dianggap sebagai pencuri lagi karena merasa pesan ibunya selalu mengingatkannya. 


Dan ketika kembali hidup 'normal' Jiang Wu memang ingin berubah tapi niat itu kian mantap setelah dia tak sengaja membuka kembali pesan Gu Bei. Dia menjadi terharu saat mengetahui bila Gu Bei tahu kalau Yi Yi sudah membohonginya dan Gu Bei ingin sekali bertemu dengannya. Jiang Wu merasa ada kekuatan besar yang membuatnya serius ingin berubah. 


Jiang Wu memanfaatkan waktu yang ada untuk belajar dan berolahraga khususnya lari agar bisa mendapatkan tubuh yang sehat serta langsing. Dia ingin rajin belajar agar tak ada yang meremehkan kemampuannya. Akhirnya usaha Jiang Wu berhasil, dia kini semakin percaya diri saat tubuhnya menjadi langsing tapi dia masih tak percaya bila dirinya mampu menjadi juara kelas sekaligus juara sekolah.


Jadi, yang disebut keajaiban adalah setiap usaha dan kerja keras yang dilakukan demi meraih sesuatu. Misalnya Jiang Wu ingin bertubuh kurus agar tak diejek seperti babi dan dia juga ingin membuktikan bila dirinya mampu meraih nilai bagus dengan usaha sendiri.

Kesimpulanku :


Saat membuka Youtube, aku melihat film ini muncul di beranda dan aku menjadi penasaran hingga akhirnya nonton film ini sampai tamat. Kesanku, aku suka dan sangat suka dengan film ini. Intinya mengajarkan pada siapapun bahwa jika menginginkan sesuatu maka yang harus dilakukan adalah berusaha semaksimal mungkin agar apa yang diinginkan bisa tercapai. Misalnya jika ingin mendapat nilai bagus maka caranya adalah dengan belajar yang giat (rutin belajar) bukan dengan cara instant yaitu mencontek. Mencontek memang jalan pintas yang cepat tapi resikonya sangat besar yaitu ketahuan oleh guru. Tapi resiko lain yang lebih fatal adalah rasa malu karena diolok oleh semua teman sekelas.


Sayangnya film ini di satu sisi berakhir bahagia tapi di sisi lain menggantung. Dikatakan berakhir bahagia karena Jiang Wu akhirnya bisa membuktikan bila dia memang patut diperhitungkan dalam pelajaran. Berkat usaha kerasnya, Jiang Wu mampu mendapat nilai tertinggi di kelasnya sekaligus tertinggi di sekolah. 


Kebahagiaan lain yang dirasakan Jiang Wu adalah dia mampu mengubah dirinya yang gendut seperti babi menjadi gadis yang langsing hingga membuat temannya terpesona dan mengira dirinya sebagai siswi baru. 


Tapi film ini juga berakhir menggantung karena Jiang Wu tak sempat mengatakan yang sebenarnya pada Gu Bei bahwa dirinya adalah Pai. Jiang Wu memang sempat bertemu Gu Bei di stasiun, saat Gu Bei akan pulang kampung dan Jiang Wu sudah berusaha keras untuk mengatakan bahwa dirinya adalah Pai tapi Gu Bei tak bisa mendengar atau membaca gerak tangan atau bibir Jiang Wu. 


Gu Bei malah melambaikan tangan karena mengira Jiang Wu ingin mengatakan selamat tinggal. (Uhh...aku sempat kesal dengan Gu Bei yang ganteng tapi telmi, mengapa dia tak kepikiran untuk membuka jendelanya sih? Kan dengan begitu dia bisa mendengar apa yang dikatakan Jiang Wu padanya.)



Aku cukup terhibur saat Gu Bei mengatakan bila dia tahu kalau Yi Yi telah membohonginya (Yi Yi pura-pura menjadi Pai). Aku sudah menduganya sih karena saat Gu Bei melihat Yi Yi yang menyamar sebagai Pai dengan mengatakan sebuah lelucon, ekspresi Gu Bei seolah meragukan Yi Yi. Mungkin saja Gu Bei mengetahui kebohongan Yi Yi saat obrolan mereka mulai tak nyambung. Kan Yi Yi hanya sempat membaca sebagian dari buku Jiang Wu yang berisi 'obrolan' Pai dan Gu Bei. 


Hhmm...mungkin benar juga, memulai hubungan dengan suatu kebohongan pasti tak akan langgeng. Contohnya Yi Yi itu, dia sudah lama naksir Gu Bei tak pernah punya kesempatan. Dia jelas kesal melihat Gu Bei lebih perhatian pada Jiang Wu padahal baru masuk sebagai anggota OSIS seolah mereka sudah lama kenal. Gu Bei bahkan tak segan memuji Jiang Wu yang pandai menggambar sedangkan Gu Bei tak pernah memujinya. Jelas terlihat sorot cemburu di mata Yi Yi ketika melihat Jiang Wu berani menggoda Gu Bei. Sorot mata Yi Yi yang penuh kemarahan itu seolah bisa membakar apa saja, hiii....


Cuman aku tak puas dengan ending film ini, mengapa Jiang Wu dan Gu Bei harus berpisah dengan cara yang seperti itu sih? Aku jadi sesak saat melihat Jiang Wu hanya bisa menangis sambil melambaikan tangan ketika kereta yang membawa Gu Bei mulai menjauh. Kalau menurutku sih, aku ingin saat Gu Bei mengembalikan boneka milik Jiang Wu dan bertanya apakah Jiang Wu mengenali boneka itu maka Jiang Wu mengiyakan. Tak apa bila akhirnya mereka berpisah toh Jiang Wu sudah mengatakan yang sebenarnya pada Gu Bei bahwa dirinya adalah Pai. Aku maunya Jiang Wu masih bertubuh gemuk saat bertemu dengan Gu Bei (Jiang Wu sudah berhasil menjadi juara kelas tapi masih dalam proses untuk melangsingkan tubuh). 


Menurutku, Gu Bei sangat cocok dengan Jiang Wu yang bertubuh gemuk. Entahlah...tapi rasanya keduanya serasi. Dan sebenarnya cinta Jiang Wu tak bertepuk sebelah tangan karena sejak awal Gu Bei sudah tertarik saat melihat Jiang Wu memperkenalkan diri di acara pemilihan panitia OSIS. Aku masih baper melihat kedekatan mereka saat menggambar bersama. Gu Bei kelihatan sabar menghadapi tingkah Jiang Wu yang kekanakan dan manja. Uhhh...aku benar-benar gemas melihatnya. Tak salah bila Yi Yi langsung terbakar cemburu melihat keduanya yang seolah sengaja memamerkan keakraban mereka.

Kurasa sekian dulu komentarku tentang film ini dan kalau kamu penasaran, nonton saja film ini! Di youtube ada kok (kalau belum dihapus pihak youtube ya).










  












Review Film Menarik Lainnya

0 comments:

Post a Comment