Tuesday, July 9, 2019

Life as we know it ~Film Amerika~

Apa jadinya bila dua orang yang saling membenci tiba-tiba harus bekerjasama mengasuh bayi sahabat mereka yang meninggal karena kecelakaan? Kamu bisa mengetahuinya dalam film yang akan aku bahas kali ini. Film Amerika dengan judul Life as we know it dirilis tahun 2009 bergenre drama komedi romantis. Dalam film ini, kita bisa mengetahui betapa susahnya mengasuh balita, apalagi bila bukan balita milik sendiri karena tak ada kursus tentang hal itu, semuanya serba baru dan sebagai orang dewasa harus bisa sabar dan berkompromi dengan segala kemungkinan yang ada.


Para pemain :

Katherine Heigl sebagai Holly Berenson
Josh Duhamel sebagai Eric Messer
Josh Lucas sebagai Dr. Sam Nelson
Hayes MacArthur sebagai Peter Novak
Christina Hendricks sebagai Alison Novak
Jessica St. Clair sebagai Beth
Melissa McCarthy sebagai DeeDee
Sarah Burns sebagai Janine Groff
Britt Flatmo sebagai Amy
Faizon Love sebagai Walter
Will Sasso sebagai Josh
DeRay Davis sebagai Lonnie
Wilbur Fitzgerald sebagai ayahnya Peter
Jean Smart sebagai ibunya Holly
Markus Flanagan sebagai Chef Phillipe
Kumail Nanjiani sebagai Simon

Sinopsis lengkap :

Holly adalah wanita mandiri pemilik toko roti. Holly mempunyai sahabat bernama Alison dan dia selalu membujuk Holly agar mau melakukan kencan buta. Malam itu Holly terpaksa berdandan dan menjadi kesal sendiri karena teman kencannya telat satu jam. Messer, teman kencan Holly sebenarnya tak suka dengan kencan buta tapi dia tak kuasa menolak bujukan Peter (pacarnya Alison). 

Holly kaget melihat Messer mengajaknya kencan dengan naik motor padahal dirinya mengenakan gaun mini. Messer terpaksa mengalah dan mereka akhirnya naik mobil Holly yang mungil. Acara kencan mereka akhirnya batal karena sebelum pergi mereka malah bertengkar. Holly tak bisa menyembunyikan rasa kesalnya melihat Messer yang ogah-ogahan menjalani kencan buta mereka. 

Waktu berlalu hingga akhirnya Peter dan Alison menikah. Alison hamil dan melahirkan bayi perempuan yang cantik bernama Sophie. Mereka memilih Messer dan Holly sebagai walinya Sophie. Semuanya tampak indah dan mereka bersama merayakan ulangtahun Sophie yang pertama dengan meriah. Bahkan Alison sempat meminta Holly dan Messer untuk berpose bersama Sophie di depan kue ulangtahunnya. Semua tamu juga senang dan puas dengan hidangan yang disajikan oleh Holly.

Di luar kebersamaan dengan keluarga Peter, baik Holly dan Messer memiliki kehidupan sendiri. Holly sibuk dengan toko rotinya dan dia sedang terpesona dengan seorang pelanggan baru bernama Dr. Sam yang membeli roti dengan varian yang sama setiap datang. Holly berusaha keras mencari tahu tentang Sam dengan menelepon semua nomor pelanggan yang bernama Sam tapi sayangnya usahanya gagal, dia selalu salah orang. Sedangkan Messer sibuk dengan pekerjaannya sendiri.

Kesibukan mereka langsung terhenti ketika Holly mendapat kabar bila Peter dan Alison mengalami kecelakaan yang membuat mereka berdua meninggal. Holly shock mengingat kini Sophie menjadi yatim piatu. Ketika Messer datang ke kantor polisi, Holly tanpa sungkan memeluknya sambil menangis seolah ingin berbagi kesedihan. Messer tak mengatakan apapun, dia hanya balas memeluk Holly seolah ingin menenangkannya.

Malam itu mereka mampir ke rumah Peter dan Alison. Holly mencoba menelepon seseorang di Layanan Perlindungan Anak untuk menanyakan kabar Sophie tapi mereka tak diperbolehkan menjenguk Sophie hingga besok pagi, hal itu membuat Holly kesal dan marah. Messer menyarankan agar mereka menginap sehingga bisa dengan mudah mendapat kabar tentang Sophie. Holly terpaksa setuju dan beristirahat di kamar tamu sedangkan Messer memilih tidur di ruang tamu.

Paginya, Messer bertanya pada Holly yang sedang di dapur tentang kabar Sophie tapi Holly menggeleng. Holly hanya mendapat kabar bahwa pengacara keluarga akan datang menemui mereka berdua. Dan kini mereka berdua duduk bersama dihadapan seorang pengacara yang menduga bila Holly dan Messer sedikit penasaran dengan apa yang terjadi. Holly mengakui bila dirinya ingin tahu tentang Sophie dan Messer setuju dengan pendapat Holly.

Pengacara menjelaskan bila Sophie sebaiknya berada di lingkungannya sendiri sehingga menyarankan agar menjemput dan membawa Sophie pulang ke rumah. Baik Holly dan Messer agak bingung, siapa yang akan mengasuh Sophie bila dibawa pulang? Pengacara heran dan balik bertanya apakah Peter dan Alison pernah membahas tentang pengaturan perwalian Sophie pada mereka? Keduanya spontan menggeleng.

Pengacara agak kaget dan menjelaskan bahwa saat membuat warisan, mereka juga membahas tentang siapa yang akan mengasuh Sophie bila terjadi hal yang tak diinginkan, baik Peter dan Alison menunjuk Holly dan Messer sebagai walinya Sophie. Holly dan Messer kaget sekaligus shock, mereka kompak menolak dengan berbagai alasan. Pengacara tak mau tahu karena dirinya juga tak setuju dengan ide itu tapi mereka harus menghormati keputusan mendiang Peter dan Alison.

Holly dan Messer meminta waktu untuk berpikir, keduanya sangat panik dan tak tahu harus bagaimana. Pengacara tak keberatan. Keduanya kembali dan Messer bertanya tentang alternatif lain. Pengacara mengiyakan bahwa Peter masih memiliki ayah dan sepupu, Messer setuju tapi Holly keberatan, dia mengusulkan bila mengasuh Sophie sendiri dan Messer setuju karena dia juga ingin mengasuhnya, istilahnya berbagi waktu mengasuh tapi tak mau mengasuh bersama.

Pengacara tetap pada keputusannya yaitu meminta keduanya untuk mengasuh Sophie bersama dan segera menyiapkan hak asuh sementara. Pengacara juga menyarankan agar mereka pindah ke rumah Peter agar lebih mudah merawat Sophie. Baik Holly dan Messer kembali mengeluh tapi pengacara memastikan bahwa ini sementara dan demi kebaikan Sophie. Mereka berdua menyerah karena tak punya pilihan lain, lagipula keduanya sangat menyayangi Sophie.

Holly dan Messer pergi ke Layanan Perlindungan Anak. Setelah menyelesaikan proses administrasinya, seseorang membawa Sophie dan Holly langsung menggendong Sophie yang menangis seolah ingin menegaskan bila kini dirinya sudah yatim piatu. Messer ikut sedih melihatnya, dia menghampiri keduanya. Sophie dengan manja mengulurkan tangan mungilnya pada Messer dan minta digendong. Holly menyerahkan Sophie pada Messer dan mengusulkan agar segera pulang.

Ketika sampai di rumah, Holly segera menyusun jadwal tidur agar bisa berbagi tugas mengawasi Sophie di malam hari tapi Messer masih keberatan bila mereka berdua yang mengasuh Sophie. Messer terus mengomel dan mengatakan bila keputusan Peter dan Alison itu salah. Messer bertanya apa benar mereka tak pernah mengatakan sesuatu pada Holly tentang hal ini? Messer kian kesal saat Holly mengaku bila mereka tak pernah membicarakan hal ini dengannya. Holly berusaha sabar dan menjelaskan bila dirinya juga tak mau tak mereka tak punya pilihan. Mereka terus berdebat hingga membuat Sophie yang semula tidur nyenyak menjadi terbangun dan menangis. 

Mereka berdua kaget dan berlari menuju box Sophie, mereka kembali berdebat tentang cara menenangkannya. Messer ingin menggendongnya tapi Holly melarang dengan alasan agar Sophie belajar menenangkan dirinya sendiri. Usaha itu tak berhasil, Sophie tetap menangis dan Holly menyarankan agar mereka menyanyi tapi Sophie tak mau diam. Keduanya mulai panik dan Holly segera menggendong dan membawanya ke dapur karena mengira Sophie lapar. Messer melihat hal itu sambil menggerutu.

Di dapur, Holly membuat sesuatu dan Messer tak yakin Sophie akan mau memakannya tapi Holly meyakinkan bila Sophie menyukainya. Keyakinan Holly langsung goyah ketika Sophie tak mau makan dan tetap menangis. Holly berusaha tenang tapi dia agak kesal juga melihat ulah Sophie. Messer mengamati keduanya sambil melihat-lihat isi lemari dapur. Messer mengambil kaleng biskuit dan menumpahkan sedikit isinya di dekat Sophie. Sophie berhenti menangis dan kini tersenyum sambil mengunyah biskuitnya. Holly menghela nafas lega dan Messer menatapnya dengan tatapan sinis seolah ingin meyakinkan bila mereka berdua tak akan sanggup mengasuh Sophie.

Saat acara pemakaman Peter dan Alison, para tamu terutama tetangga sangat memuji makanan yang dihidangkan. Wanita kurus berambut pirang penasaran dengan nasib Sophie dan si wanita gemuk yang ramah mengatakan bila yang akan mengasuh Sophie adalah Holly dan Messer. Holly menghampiri ibunya yang mengasuh Sophie, dia berterima kasih dan pamit untuk mencari Messer. Holly dan Messer memiliki misi untuk mencari siapa yang cocok mengasuh Sophie diantara sekian banyak tamu yang datang. 

Dari pihak Peter, Sophie memiliki kakek dan paman sedangkan dari pihak Alison, Sophie memiliki seorang bibi. Sayangnya dari ketiga pilihan itu tak ada yang cocok. Bibi Sophie sibuk sebagai penari dan jarang berada di rumah, kakek Sophie sakit dan tak bisa bebas bergerak sedangkan paman Sophie memiliki banyak anak sehingga sangat kewalahan mengasuh anak sendiri. Holly dan Messer kian pusing karena tak punya jalan keluar.

Keesokan harinya, Holly dan Messer dengan didampingi pengacara pergi ke pengadilan untuk menentukan hak asuh Sophie. Ketika nama Sophie disebut maka pengacara mengajak mereka untuk maju dan berdiri. Suasana sidang yang senyap mendadak heboh saat Sophie menumpahkan biskuitnya di lantai dan Holly agak kerepotan sehingga Messer ikut membantu. Sang hakim ikut melirik dengan pandangan tak suka dan hal itu membuat si pengacara memberi tanda agar dirinya bisa membujuk Holly dan Messer.

Pengacara meminta mereka untuk mengabaikan makanannya dan fokus untuk mendengarkan putusan hakim. Messer agak kesal ketika mendengar hakim memutuskan untuk memberikan hak asuh sementara pada mereka tak bertanya apakah dirinya dan Holly keberatan atau tidak. Messer tak mengerti mengapa hakim tak menanyakan apapun pada mereka dan dia protes. Pengacara dan Holly mencoba menenangkan Messer dan mengajaknya pergi.

Sesampainya di rumah, Messer kembali mengomel karena mereka ke pengadilan tapi ternyata keputusannya hanya begitu saja. Mereka tiba-tiba mendapatkan hak asuh tak bertanya apakah dirinya keberatan atau tidak. Holly juga kesal sambil mengaduk isi tas besarnya untuk mencari mainan bebek kesukaan Sophie. Holly menyarankan agar mereka segera mengatur jadwal karena besok dirinya sudah harus bekerja. Messer menyela dengan bertanya apakah Holly mencium sesuatu? Messer berusaha mencari tahu dan Holly menduga bila Sophie pup. 

Messer langsung menyerahkan Sophie pada Holly setelah memastikan bila Sophie memang pup. Holly jelas tak mau dan mengejar Messer setelah mencium celana Sophie. Kini Sophie sudah berbaring terlentang dan mereka kembali berdebat tentang siapa yang akan mengganti popoknya. Holly bersikeras tak mau melakukannya sebelum Sophie berusia 2 tahun. Messer menyerah dan mencoba membukanya tapi dia langsung kabur setelah tak kuat mencium aromanya. Holly mengeluh dan mau tak mau dia harus melakukannya sendiri.


Para tetangga berkumpul di depan pintu dan berdebat tentang pantas tidaknya mereka berkunjung. Messer membuka pintu dan heran melihat tetangganya. Mereka beralasan bila sebagai tetangga sekompleks datang berkunjung sambil menunjukkan berbagai makanan yang mereka siapkan. Messer menyambut mereka dengan ramah dan mengajak masuk.


Sementara itu, Holly berhasil mengganti popok Sophie tapi dia tak tahu bila ada noda kotoran di pipinya. Messer muncul dan mengabarkan bila para tetangga datang berkunjung. Messer ingin mengingatkan tapi Holly yang masih kesal menyerahkan Sophie padanya sambil mengejeknya sebagai pengecut. Holly pergi menemui tetangga. Holly menuruni tangga sambil mencium tangannya seolah penasaran dengan bau yang masih tertinggal. Holly menyapa mereka tapi si wanita gendut mengingatkan bila ada kotoran di pipinya. Holly malu dan kabur sementara Messer yang menggendong Sophie hanya tersenyum melihat tingkah Holly.


Mereka semua makan bersama sambil ngobrol. Si wanita gendut dan suaminya bercerita tentang pengalaman mereka dalam mengasuh anak dan yang lainnya ikut menyambung. Mereka memberi tips tentang hal-hal yang diperlukan dalam mengasuh balita, misalnya menyewa pengasuh, membeli tisu toilet dll. Holly dan Messer menganguk-angguk tapi mereka bingung juga karena begitu banyak saran dan tips. Holly meminta Messer mencatat semuanya agar tidak lupa.


Holly dan Messer mulai belajar beradaptasi, membuat jadwal dan berbagi hal dalam mengasuh Sophie. Kadang mereka masih suka berdebat terutama tentang porsi jadwal yang dianggap terlalu banyak. Holly mencuri waktu untuk mandi berendam saat Messer mengasuh Sophie tapi Holly tak bisa mandi dengan nyaman karena kamar mandi penuh dengan mainan. Sementara itu, Messer mengajak Sophie nonton tv tapi Sophie menangis protes bila Messer ingin nonton pertandingan basket. Messer kesal dan terpaksa mengganti saluran anak dan Sophie langsung diam. Holly masih kesulitan menyuapi Sophie dan dia hanya bisa kesal sendiri.


Holly sedang memandikan Sophie dan dia langsung panik setelah mengenali ekspresi Sophie yang ingin pup. Messer yang semula hanya melihat jadi ikut panik, mereka kesulitan membuka penutup toilet dan Holly langsung mengambil topi Messer sebagai sarana Sophie untuk pup. Messer protes dan Holly berjanji akan mencuci topinya tapi akhirnya dia malah tertawa sambil membuang topi itu. Mereka berdua tertawa seolah ingin melepaskan beban yang ada. Tiba-tiba Holly memfokuskan pandangan di pusar Sophie, dia heran melihat ada benjolan. Messer mencoba meyakinkan bila itu pusarnya tapi Holly tak percaya karena dia tak melihat benjolan itu sebelumnya. 


Holly membawa Sophie ke dokter anak. Dia menunggu sambil berbicara di telepon. Holly kaget setelah mengetahui bahwa dokter anak yang akan memeriksa Sophie adalah Dr. Sam. Dr. Sam ikut berbelasungkawa dan bertanya tentang kondisi Sophie. Holly berusaha menjelaskan tapi yang terjadi justru diluar dugaan, Holly menjadi emosinal dan mengeluarkan semua unek-uneknya selama ini. Dan ketika menyadari bahwa Dr. Sam hanya diam karena fokus memeriksa Sophie. Holly menjadi malu dan minta maaf. Dr. Sam tak keberatan, dia mengatakan bila benjolan itu bisa hilang dengan sendirinya.


Holly heran melihat Dr. Sam menulis sesuatu dan menyerahkan catatan itu padanya. Dr. Sam beralasan bahwa catatan itu untuknya dan Holly hanya bisa tertawa sambil membacanya. Dr. Sam menghibur dengan mengatakan apa yang dilakukan Holly untuk Sophie sudah benar dan Holly juga harus memberi kesempatan bagi dirinya sendiri. Dr. Sam akan mengingatkan susternya untuk membuat janji minggu depan, untuk melihat perkembangan Sophie. Holly berterimakasih dan pamit.


Messer pulang dari apotik, dia mengeluh ada wanita yang melihatnya dengan tatapan aneh karena belanja sambil menggendong Sophie. Holly yang sedang minum anggur (sesuai saran Dr. Sam) sambil membaca majalah hanya tersenyum. Messer meletakkan Sophie di dalam box dan dia heran melihat Holly minum. Holly balik mengeluh bila dirinya tak pernah bisa mandi dengan bersih setelah tinggal di rumah ini dan dia menyindir Messer yang tak pernah menyisir rambutnya. Holly menawarinya minum tapi Messer menolak. Holly tak memaksa dan dia kembali minum.


Holly agak mabuk dan dia mulai mengatakan hal yang selama ini dipendamnya yaitu mengkritik Messer. Messer tak terpengaruh, dia meminta Holly untuk segera tidur. Messer sedikit memaksa Holly untuk naik tangga tapi baru setengah jalan, mereka mendengar bel berbunyi. Mereka agak terganggu mengingat sudah malam, Holly menduga itu adalah tetangga. 


Messer membuka pintu, ternyata yang datang adalah Jenine, Petugas Layanan Sosial. Holly yang penasaran mencoba mengintip tapi Messer menghalanginya. Jenine mengingatkan bila Messer sudah diberitahu bahwa akan ada kunjungan mendadak. Messer mengiyakan tapi dia merasa bila ini terlalu mendadak. Messer buru-buru menutup pintu dan menyuruh Holly agar segera mandi karena Petugas Layanan Sosial datang.


Messer mengulur waktu dengan mengajak Jenine ke garasi. Holly muncul dengan alasan butuh waktu untuk menidurkan Sophie. Baik Messer dan Jenine heran karena Sophie masih ada di box di belakang mereka. Holly salah tingkah dan beralasan bila Sophie pandai menyelinap dengan kaki mungilnya. Jenine tak terpengaruh dengan gurauan itu dan menyarankan untuk segera memulai diskusinya.


Kini Holly dan Messer duduk dihadapan Jenine. Jenine bertanya tentang rencana mereka 5 tahun mendatang. Holly gugup dan mulai bercerita tentang rencananya membuat restoran. Messer bercerita tentang pekerjaannya. Jenine ingin menegaskan bila keduanya masih lajang dan mereka mengiyakan. Jenine bertanya apakah mereka tidur bersama? Holly dan Messer kompak menyangkal. Jenine mendengarkan penjelasan mereka dan mengaku bila dirinya tak yakin Messer dan Holly bisa mengasuh Sophie. Pernyataan itu membuat keduanya terdiam.


Malam itu Sophie kembali rewel, Holly mengeluh pusing kekurangan tidur sambil menggendong Sophie. Messer menyarankan agar meletakkan Sophie di box saja tapi Holly tak setuju. Holly bingung karena Sophie tak demam tapi mengapa rewel? Messer ikut bingung, dia menyarankan untuk menelepon bantuan. Akhirnya mereka menelepon Amy, pengasuh Sophie yang selalu dipuji Alison sebagai pembisik bayi karena mampu menenangkan Sophie. Sophie masih menangis tapi langsung mengulurkan tangan pada Amy.


Amy membawa Sophie ke dapur dan menyalakan kipas yang ada diatas kompor. Sophie langsung diam, hal itu membuat keduanya lega dan Amy pamit pulang karena besok pagi ada ulangan matematika. Holly meminta agar Messer memberi Amy uang tips tapi Amy menolak dan Messer tak memaksa. Holly menegurnya dan Messer kembali menyodorkan uang dan kali ini Amy tak menolak. 


Setelah Amy pulang Sophie kembali menangis dan usaha mereka menenangkan Sophie seperti yang dilakukan Amy sebelumnya gagal total. Messer mengalah dan mengajak keduanya keliling kompleks dengan naik mobil. Mereka baru pulang saat pagi, Messer kesal saat melihat Sophie duduk manis sambil minum susu dan Holly tidur sedangkan dirinya lelah mata dan badan. 


Paginya, Messer sangat senang setelah mendapat telepon dan berniat meminta Holly mengasuh Sophie tapi Holly menolak. Holly bersikeras tak mau mengasuh Sophie karena jauh-jauh hari dirinya sudah menulis bahwa hari ini ada acara penting sambil menunjuk ke arah papan jadwal. Messer kesal dan mengomel saat melihat Holly pergi tanpa memperdulikan dirinya atau Sophie. Messer mencoba menelepon semua orang yang dikenalnya tapi tak ada yang bisa membantu dan Messer terpaksa membawa Sophie ke kantor.


Messer dan Sophie naik taksi yang dikemudikan oleh Walter ke kantor. Messer sengaja membujuk dan memaksa Walter agar mau menjaga Sophie dengan bayaran tinggi. Messer tak bisa fokus kerja karena Walter menelepon, dia panik karena Sophie menangis dan tak mau diam. Akhirnya Messer terpaksa membawa keduanya di ruang kerja tapi hal itu malah membuat semuanya kacau. Rekan kerja Messer tak bisa konsen kerja karena terganggu suara Sophie. Hari itu adalah hari terburuk bagi karir Messer.


Holly pulang dan melihat Messer menidurkan Sophie dengan menyanyikan lagunya Radiohead (Creep). Holly mengkritiknya tapi Messer tak perduli, toh Sophie akhirnya tertidur juga. Holly kesal karena Messer melampiaskan emosinya dengan sembarangan. Mereka saling mengkritik dan Messer memilih pergi. Holly melarangnya pergi naik motor dengan kondisi marah tapi Messer balas membentaknya sambil mengatakan bila Sophie bukan anaknya. Holly hanya bisa diam melihat Messer pergi.


Messer pergi dan berhenti untuk berpikir, tanpa terasa mata Messer menjadi berkaca-kaca. Messer memutuskan untuk pulang dan dia melihat Holly nonton video sambil menangis. Holly minta maaf dan Messer tak mempermasalahkannya. Messer duduk di samping Holly. Dia cerita bila dulu pernah mengalami kecelakaan dan Peter menemaninya setiap hari. Messer mengaku tak bisa meninggalkannya walaupun kini Peter telah meninggal. Holly menunjukkan video yang memperlihatkan Peter dan Alison bertengkar soal kamar Sophie. Mereka berdua tertawa karena mengira hanya mereka saja yang suka bertengkar gara-gara Sophie.


Holly menyarankan agar mereka berhenti mencoba menyesuaikan diri dengan kehidupan mereka. Messer menimpali bahwa dia sangat membenci rumah ini karena seperti makam, ada foto mereka dimana-mana. Messer mencontohkan bahwa dia sangat membenci lukisan koboi sambil menunjuk ke arah dinding, Messer ingin membuangnya. Holly menambahkan bila mereka ingin tinggal di sini maka tak seharusnya mereka mengendap-endap seolah Peter dan Alison akan kembali karena mereka tak akan kembali. Messer membuka lengannya dan Holly bersandar padanya.


Mereka bekerjasama merapikan rumah, menyimpan semua foto Peter dan Alison juga barang-barang yang tak disukai. Holly dan Messer sepakat mengganti posisi lukisan koboi dengan foto mereka bersama Sophie. Kini mereka merasa benar-benar menjadi penghuni rumah itu, bahkan Messer tak segan membawa teman wanitanya untuk menginap. Holly menggendong Sophie dan melihat Messer berciuman dengan Jill sebelum berpisah, Holly hanya bisa tersenyum mengejek dan pergi.


Holly sedang bermain dengan Sophie ketika Messer muncul, Holly mengeluh karena Sophie belum bisa berjalan padahal menurut buku yang dibacanya seharusnya Sophie sudah bisa berjalan. Messer membela Sophie dan balas mengejek kehidupan cinta Holly. Holly tak terima dan balas mengejeknya. Mereka berdebat dengan santai seolah sudah terbiasa dan sesekali saling berbagi menggendong Sophie.


Messer keluar rumah untuk berolahraga, dia melakukan pemanasan di halaman. Tetangga wanita yang gendut muncul sambil pura-pura mengambil surat yang ada di kotaknya. Dia sangat terpesona dengan Messer dan tak ragu menyapanya. Messer membalas sapaan itu dengan ramah sambil pamit jogging. Si wanita gendut langsung terbuai dengan senyumnya. Messer berlari keliling kompleks dan dia kaget saat Holly muncul, akhirnya mereka lari bersama.


Holly sedang diskusi dengan seorang mandor bangunan tentang tambahan biaya ketika seorang pekerja muncul sambil menggendong Sophie. Holly membawa Sophie pergi dan menegur pegawainya yang bernama Lonnie. Lonnie tak mau membawa Sophie dengan alasan banyak pekerjaan, dia malah memuji Holly yang kelihatan lebih cantik ketika menggendong Sophie. Holly hanya bisa menghela nafas.


Messer menemani Sophie nonton kartun, dia bosan tapi mencoba mengalah. Sophie yang nonton sambil bermain tiba-tiba berdiri seolah ingin berjalan. Messer kaget dan berteriak memanggil Holly agar segera turun. Holly yang sedang mandi langsung panik, dia turun hanya dengan berbalut handuk saja. Sophie tersenyum sambil mengulurkan tangan melihat Messer yang berteriak-teriak memanggil Holly. 


Holly tak ingin kehilangan kesempatan langka, dia berlari sambil meminta Messer untuk mencegah Sophie agar tak berjalan dulu. Holly berlari dan sedikit mengeluh ketika kakinya menginjak mainan Sophie. Messer sengaja mendorong Sophie hingga jatuh, hal itu membuat Sophie menangis keras. Holly yang muncul sambil mengusap kakinya yang sakit langsung menegur Messer tapi Messer tak mau disalahkan karena dia hanya menuruti apa keinginan Holly. Holly mengomel sambil membawa Sophie pergi.


Hari terus berlalu dan kini Sophie benar-benar belajar berjalan, walaupun langkahnya masih tertatih tapi Sophie cukup lincah dan terus bergerak. Holly dan Messer mulai kewalahan mengawasinya. Messer bahkan memasang pintu pengaman agar Sophie tak bisa naik tangga. Holly terduduk lemas sedangkan Sophie masih bergerak lincah.


Messer melihat Holly akan menyuapi Sophie. Holly mengaku bila semua sudah mencoba dan menyukai masakannya kini tinggal Sophie yang belum mencobanya. Holly berharap cemas, dia mencoba menyuapinya. Sophie membuka mulutnya dan mengunyah makanan itu. Holly gembira, dia bahkan memeluk Messer sebagai ungkapan bahagianya karena Sophie mau memakan masakannya juga. Sophie ikut tersenyum melihat tingkah Holly.


Mereka sedang berbelanja dan Holly tak tahan untuk mengejek ketika melihat beberapa pandangan wanita muda tertuju pada Messer. Holly menantang Messer untuk merayunya juga tapi Messer enggan melakukannya. Tiba-tiba ada seseorang yang memanggil Holly dan ternyata Dr. Sam. Holly memperkenalkan keduanya. Messer seolah tak suka dengan Sam, nada bicaranya terdengar kasar dan menyindir. Holly menegur dan memintanya pergi. Messer terpaksa menurut. 


Holly dan Sam ngobrol sebentar, Holly tak keberatan saat Sam mengajaknya keluar hari Jumat. Messer kesal melihat Holly yang tertawa senang setelah janji kencan dengan Sam. Dia terus menganggu saat Holly sedang bersiap menunggu jemputan Sam. Ketika Sam sudah datang, Messer terus menganggu hingga Holly kesal dan memilih segera pergi.


Holly agak penasaran karena Sam membawanya ke lorong yang penuh dengan tumpukan sampah tapi Sam balas menyindir bila Holly orang yang tak suka diberi kejutan. Holly mencoba membela diri dengan mengatakan bahwa dirinya adalah orang yang bisa mengontrol ekspresinya. Mereka tiba di sebuah pintu masuk, Holly menduga Sam akan mengajaknya nonton konser lewat pintu belakang. 

Tapi mereka malah berjalan menuju sebuah dapur besar sebuah restoran bernama Le Mare. Holly kaget karena ternyata Sam mengenal Phillipe Le Mare. Sam merendah dengan mengatakan bahwa ketiga anak perempuan Phillipe adalah pasiennya. Phillipe muncul dan menyapa mereka, hal itu tentu saja membuat Holly senang. Phillipe menyiapakan meja khusus untuk mereka.


Di rumah, Messer masih tak percaya melihat Holly pergi kencan dengan seseorang. Dia menyuapi Sophie sambil ngomong sendiri. Messer menganggap Sophie adalah Holly dan dia mengajak ngobrol Sophie seolah sedang ngobrol dengan Holly. Messer memeriksa Sophie dan dia merasa bila tubuh Sophie kian hangat. Holly sedang makan sambil ngobrol dengan Sam ketika handphonenya berbunyi. Dia agak kesal karena Messer masih menganggunya tapi Messer beralasan ingin ngobrol dengan Sam. Holly agak panik mendengar pembicaraan Messer dan Sam. Dia buru-buru pergi setelah tahu bila Sophie sakit.


Di rumah sakit, Sam berbicara dengan rekan kerjanya tentang kondisi Sophie sementara Holly dan Messer menunggu di ruang perawatan. Holly langsung berdiri diikuti oleh Messer saat melihat Sam berjalan menuju ruang perawatan. Sam mengabarkan bila Sophie terkena infeksi saluran kencing dan harus diberi antibiotik tetes. Sam pamit setelah menjelaskan kondisi Sophie. Holly mengikuti Sam dan dia menciumnya, hal itu membuat Sam kaget sekaligus senang. Messer yang tak sengaja melihatnya menjadi agak cemberut.


Hari terus berlalu dan Messer senang karena kini kondisi Sophie sudah membaik sedangkan Holly mengeluh kian banyak tagihan yang datang dan terakhir adalah tagihan rumah sakit. Messer heran melihat vas yang penuh dengan bunga dan Holly mengaku bunga itu kiriman Sam tapi dia belum sempat mengucapkan terima kasih. Holly kembali mengeluh dan Messer merasa tak enak, dia menawarkan bantuan keuangan tapi Holly menolak dengan halus.


Messer mencoba membujuknya dengan mengatakan bahwa menerima bantuan orang lain bukan berarti gagal, itu artinya tak menghadapi masalah sendirian. Holly berpikir dan akhirnya setuju tapi dia tetap menyebutnya sebagai investasi. Mereka bernegosiasi dan akhirnya sepakat. Holly senang dan memeluk Messer, dia berjanji akan mentraktir Messer makan malam. Mereka berdua senang karena bisa memecahkan masalah bersama.


Amy sedang bersama Sophie ketika Holly muncul. Amy memuji penampilannya. Messer muncul dan Amy tanpa sadar mengeluh sendiri. Holly memberikan kertas berisi beberapa nomor penting yang bisa dihubungi bila terjadi masalah pada Sophie. Amy tanpa sungkan mengusir mereka agar segera pergi sehingga dirinya bisa mengasuh Sophie.


Holly mengajak Messer ke restoran miliknya dan memasak untuknya. Messer memuji sekaligus mengeluh karena tak pernah mampir sebelumnya padahal tempatnya bagus. Messer bertanya apakah Holly tak mengikuti resep dalam memasak? Holly mengaku hanya di dapur saja dirinya tak perlu menggunakan rencana. Mereka makan bersama sambil ngobrol dengan santai.


Saat hendak pulang, Holly ingin sekali mencoba mengendarai motor Messer tapi Messer agak keberatan mengajarinya. Holly terus membujuk dan Messer luluh, dia bersedia mengajari. Sayangnya, Holly malah membuat motor Messer hancur dalam sekejap karena digilas oleh bus yang melaju. Messer hanya bisa menahan nafas dan duduk di trotoar, dia shock tapi tak bisa marah pada Holly. Holly yang merasa bersalah terus minta maaf hingga sampai di rumah.


Messer tak ingin Holly terus minta maaf dan memintanya untuk masuk ke dalam rumah. Amy langsung menyambut mereka. Amy mengaku tak ingin membangunkan Sophie dengan memindahkannya. Holly tak keberatan. Messer memberinya uang saku dan Amy menerimanya. Amy berniat pulang tapi dia mengatakan bahwa Holly dan Messer adalah pasangan yang manis. Selesai mengatakan pendapatnya, Amy langsung pulang. Holly hanya tertawa mendengar pendapat Amy itu sementara Messer hanya diam saja.


Holly menoleh dan Messer mendekatinya, mereka akhirnya berciuman. Mereka membuat camilan dan nonton film anak sambil tertawa. Mereka tanpa sengaja menghabiskan malam di kamar Peter dan Alison. Paginya mereka langsung panik saat Janine kembali datang untuk kunjungan mendadak. Mereka buru-buru membereskan rumah sekenanya sebelum membukakan pintu untuk Janine.


Janine memandangi keduanya dengan sorot curiga. Baik Holly dan Messer mengaku bila semuanya baik-baik saja tapi mereka langsung salah tingkah ketika Janine menebak bila keduanya telah tidur bersama. Janine bertanya apakah mereka berencana untuk menikah dan Messer mengatakan belum memikirkannya. Janine tak suka mendengar jawaban itu tapi Holly memberi kode agar Messer tak membantah Janine.


Janine langsung berdiri, dia agak kecewa karena mengira masalah yang akan dihadapinya lebih mudah. Janine mengingatkan bila masih ada satu pertemuan lagi dan dia ingin keduanya untuk menjelaskan rencana masa depan mereka, apakah mereka akan bertunangan dan menikah atau hanya main-main saja karena ini menyangkut masa depan Sophie juga. Janine kian kesal saat ingin mengambil kue buatan Holly tapi mereka melarangnya. Holly langsung berdiri dan menepis tangan Janine hingga kue yang dipegangnya jatuh. Janine pergi dengan wajah kesal tapi memaksakan tersenyum.


Messer sedang ngobrol dengan rekan kerjanya ketika bosnya yang bernama Alan memanggil. Alan agak kecewa dengan hasil kerja Messer yang terakhir dan dia sedikit menyindir dengan bertanya apakah harus mengajari atau memberi kesempatan lain. Messer ingin diberi kesempatan kedua dan Alan kembali menyindir bila Messer memiliki kemampuan tapi tak bisa fokus. Messer mencoba meyakinkan Alan tapi dia langsung terdiam saat Alan mengatakan ada lowongan di Phoenix.


Para tetangga sibuk memperhatikan Holly dan Messer yang kini kian akur mengasuh Sophie saat pesta kompleks perumahan. Mereka ada yang bertaruh bila keduanya telah tidur bersama, ada juga yang menduga bila tak lama lagi keduanya akan melakukannya. Seorang rekan kerja Messer yang bernama Ted datang menyapa. Ted membahas tentang rencana Messer ke Phoenix tapi Messer belum memastikannya. Ted heran karena menurut Alan, Messer sudah menyetujuinya. Messer merasa tak enak dan mengusir Ted dengan halus.


Holly penasaran dan bertanya pada Messer setelah Ted pergi. Messer mencoba mengalihkan perhatian Holly dengan mengambil makanan tapi Holly tetap penasaran. Messer terpaksa menjelaskan tentang tawaran Alan. Holly agak kecewa karena Messer tak pernah membicarakan hal itu dengannya. Messer mengaku bila dirinya belum memutuskan untuk pergi tapi Holly tak percaya karena sejak awal Messer tak ingin terikat dengan dirinya atau Sophie.


Messer mencoba bersabar tapi dia menjadi kesal saat Holly mulai mengungkit ketidaksukaan Messer ketika mendengar dirinya harus bekerjasama dengan Holly dalam merawat Sophie. Mereka akhirnya bertengkar dan Holly memilih pergi sambil mengatakan bila seharusnya Messer mengambil kesempatan yang ada untuk pergi ke Phoenix. Holly kembali ke rumah dan seolah mengerti kegalauannya, Sophie ikut menangis dan Holly berusaha menenangkannya tapi dirinya tak kuasa menahan sedih karena membayangkan Messer akan pergi.


Hari terus berganti dan Messer memutuskan untuk pergi ke Phoenix. Kini Holly dibantu Sam dalam mengasuh Sophie. Holly bahagia saat bersama Sam tapi kadang dia masih merindukan Messer. Messer kini sibuk tapi saat sendiri di rumah, dia sering menonton acara anak demi mengobati rasa kangennya pada Holly dan Sophie.


Messer menunggu di dalam mobil sambil mengamati Holly yang sedang melayani pelanggan. Messer memutuskan masuk ke restoran dan Sophie langsung menghambur ke dalam pelukannya. Sekarang giliran Messer yang mengasuh Sophie makanya Holly menyiapkan dua tas keperluan Sophie agar dibawa oleh Messer. Kini mereka tetap mengasuh Sophie secara bergiliran karena mereka tak lagi tinggal serumah. Messer memilih keluar dari rumah dan Holly tetap tinggal.


Holly mengeluh pada Messer karena Sophie masih belum bisa mengeja namanya. Messer hanya tersenyum sambil menerima tas keperluan Sophie. Holly berpesan agar Messer siap pada hari Senin karena kemungkinan Janine akan datang. Mereka ngobrol sejenak dan Messer langsung pamit tapi Holly memanggilnya, dia ingin mengundang Messer di acara Thanksgiving di rumah. Holly berdalih bila para tetangga kangen ingin bertemu dengan Messer. Messer tak keberatan dan bersedia datang, apalagi setelah tahu bila Holly yang akan memasak makanannya. Holly senang mendengarnya.


Saat perayaan Thanksgiving, Holly sedang memasak di dapur ditemani Sam. Messer datang dengan membawa sebotol anggur. Baik Holly dan Messer sama-sama canggung saat Holly membukakan pintu untuknya. Messer berbasa-basi dengan bertanya tentang Sophie, Holly mengatakan kalau Sophie ada di belakang. Messer melambaikan tangan pada para tetangganya yang sudah datang duluan sedangkan Holly kembali ke dapur.


Messer akhirnya memilih ngobrol dengan para pria tetangganya. Sam muncul dan menyapanya. Sam mengaku senang Messer bisa datang tapi Messer sedikit menyindirnya bahwa ini adalah rumahnya sehingga dialah yang seharusnya mengatakan hal itu. Sam agak salah tingkah dan Messer sedikit bingung ketika semua mengatakan bahwa ini bisa disebut sebagai perayaan selamat tinggal.


Messer mencari Holly di dapur dan dia tak suka dengan rencana Holly untuk menjual rumah ini tanpa sepengetahuannya. Holly ingin mengatakannya setelah pertemuan dengan Janine, dia mengaku bila rumah ini terlalu besar dan butuh banyak biaya. Messer menyela bila dirinya sudah membayar bagiannya tapi Holly mengaku bila itu tak cukup membantu. Messer menegurnya karena tak bertanya padanya dulu. Holly merasa Messer menyalahkannya padahal menurutnya justru Messer yang kabur dan membiarkan dirinya sendirian menghadapi masalah yang ada.


Pertengkaran mereka sangat hebat sehingga para tamu termasuk Sam hanya bisa diam sambil melihat perdebatan mereka. Messer mengaku takut menghadapi situasi yang ada, tiba-tiba sahabatnya meninggal dan memberinya warisan anak dan rumah besar padahal dirinya belum siap. Messer balik menuduh bila Holly sebenarnya tak membutuhkan dirinya karena kini sudah bersama Sam. Holly bahkan tak mau tahu saat mendengar pengakuan cinta Messer, dia mengira Messer hanya berpura-pura. Holly memintanya pergi karena tak ingin bertengkar lagi.


Messer menyerah dan memutuskan kembali ke Phoenix. Dia tak perduli dengan jadwal kunjungan Janine karena dia yakin Holly bisa mengatasinya sendiri. Messer mengucapkan selamat Thanksgiving pada semua tamu dan pamit pada Sophie lalu pergi. Holly bersikap seolah tak ada apa-apa. Dia menyajikan kalkun sebagai hidangan utama dan meminta semua tamu untuk makan. Awalnya mereka hanya diam tapi langsung bergerak mengambil piring setelah Holly sedikit membentak mereka untuk segera makan.


Holly sedikit lega ketika akhirnya semua tamu telah pulang. Sam mengaku bila hubungan mereka terlalu cepat mengingat Holly masih belum menyelesaikan masalah perasaannya dengan Messer. Holly meyakinkan bahwa semuanya baik-baik saja tapi Sam meragukannya. Holly mencoba menahan tangis dan mengaku bila sebelum Peter dan Alison meninggal, Sam adalah pria yang sangat diinginkannya. Menghabiskan waktu untuk memikirkan seorang pria yang bahkan tak dia ketahui siapa namanya. Sam mencium kening Holly dan pergi.


Malam itu Holly membacakan cerita dongeng pada Sophie. Tiba-tiba Sophie memanggilnya 'mama'. Holly kaget dan mencoba meralatnya, dia ingin Sophie memanggil namanya tapi Sophie kembali mengatakan 'mama'. Holly hanya bisa terdiam, dia terharu dan memeluk Sophie sambil mengatakan bahwa dirinya adalah ibu bagi Sophie.


Hari Senin, Messer tiba di bandara untuk perjalanan ke Phoenix. Sedangkan Holly menerima kunjungan terakhir Janine. Holly mencoba meyakinkan bila inilah yang terbaik bagi semuanya karena tak ada jadwal atau pertengkaran. Janine ikut tersenyum ketika Holly mengatakan bila situasi ini tak ideal tapi toh tak ada orangtua yang sempurna. Holly membelai rambut Sophie dan saat melirik ke arah foto yang ada di dinding, hati Holly kembali bimbang.


Holly minta maaf pada Janine karena menyudahi pembicaraan mereka. Janine bingung tapi dia malah ikut Holly ke bandara untuk menyusul Messer. Di perjalanan, Holly mencoba menelepon tapi tak diangkat oleh Messer karena Messer sibuk dengan proses pemeriksaan di bandara. Janine menyindir Holly tak terlalu pelan menyetir mobilnya tapi Holly beralasan bila dirinya tak ingin mendapat kesan buruk dari Janine selaku petugas sosial. Janine tak keberatan dan Holly langsung memacu mobilnya agar bisa lekas tiba di bandara.


Messer menunggu jadwal pesawat sambil membuka laptopnya. Messer tersenyum saat melihat video Holly bersama Sophie, dia teringat ketika Sophie belajar berjalan. Seorang wanita tua ikut mengintip dan memuji Messer karena memiliki keluarga yang menyenangkan. Messer mengucapkan terima kasih melihat wanita itu tersenyum padanya. Terdengar suara pengumuman yang memberitahukan tentang penerbangan ke Phoenix telah siap. Messer bimbang dengan keputusannya ketika semua penumpang berjalan menuju pesawat.


Holly tiba di bandara dan dia segera menuju petugas loket untuk membeli tiket agar bisa masuk ke terminal keberangkatan. Holly ingin membeli 2 tiket tapi Janine menolak menunggu di mobil sehingga minta dibelikan tiket juga. Holly kesal dan panik karena ketatnya pengamanan di bandara. Janine membantu menggendong Sophie agar Holly bisa lebih cepat mengejar Messer. Holly tiba di terminal keberangkatan dan ternyata sudah sepi, Holly kecewa karena Messer benar-benar pergi meninggalkannya. Janine yang muncul bersama Sophie hanya bisa terdiam melihat ekspresi kecewa di wajah Holly. 


Dalam perjalanan pulang, justru Janine yang terus menangis sedangkan Holly berusaha tabah dan menghibur Janine yang emosional. Janine mencoba berhenti menangis dan dia memuji Holly sebagai ibu yang baik. Janine berjanji akan meluluskan Holly agar bisa tenang mengasuh Sophie. Janine pamit dan Holly menggendong Sophie masuk ke dalam rumah.


Holly meletakkan Sophie di box dan dia kaget setengah mati ketika melihat Messer duduk di sofa dekat jendela. Messer minta maaf karena dia membuka pintu dengan kuncinya sendiri, dia mengira Holly dan Sophie ada di rumah bersama Janine. Holly ingin mengatakan sesuatu tapi Messer memotongnya, dia ingin Holly mendengar apa yang akan dikatakannya.


Messer mengaku bila kini dia mengerti mengapa Peter dan Alison memilih mereka, bukan karena mereka kenal dekat dengan almarhum tapi karena mereka dan Sophie seperti sebuah keluarga. Saat berjauhan, Messer tak hanya merindukan Holly atau Sophie saja tapi Messer merindukan kebersamaan mereka bertiga seperti keluarga. Seharusnya mereka bertemu dan saling jatuh cinta lalu memiliki bayi tapi mereka tak melalui fase itu dan Messer tak perduli karena dia jatuh cinta pada Holly dan keluarga mereka.


Mata Holly berkaca-kaca mendengar pengakuan itu. Holly mendekatinya dan berkata bila tadi dirinya pergi ke bandara. Messer mendekatinya dengan sorot curiga dan bertanya apakah Holly akan melakukan perjalanan yang tak diketahuinya? Holly tersenyum dan menggeleng. Seolah mengerti maksudnya yaitu Holly ke bandara untuk mencarinya, Messer bertanya apakah Holly mendengar bila dia telah mengakui perasaannya? Kalau tidak maka dia akan mengulanginya dan Holly tak keberatan. Mereka akhirnya berciuman.


Hari berlalu dengan cepat dan kini Messer dan Holly sedang merayakan ulangtahun Sophie yang kedua. Keduanya tampak bahagia dan para tetangga juga bercanda tanpa beban. Messer menggendong Sophie dan dia memuji kue ulangtahun untuk Sophie yang sederhana dan manis. 


Holly menunjukkan kue lain dengan angka satu, Messer heran dan Holly menjelaskan bila kue itu untuk mereka yang sukses melewati waktu setahun mengasuh Sophie bersama. Messer bahagia dan mencium Holly. Holly bersiap membawa kue Sophie dan menyanyikan lagu ulangtahun sambil berjalan pelan ke arah para tamu yang sudah menunggu. Messer bertugas merekam kebersamaan mereka bersama para tetangga.


Adegan yang terlucu :


Ketika Holly dan Messer pertama kali melihat Sophie pup. Raut wajah mereka sangat shock, kaget sekaligus jijik. Holly langsung menutup hidung sambil memalingkan wajahnya. Messer bahkan mengeluh dirinya tak menduga bila Sophie yang masih bayi bisa pup sebanyak itu. Aku suka dengan ekspresi mereka, Holly terang-terangan menutup hidungnya dan Messer mengerenyitkan dahi. Keduanya melihat Sophie seperti melihat sesuatu yang menakutkan, hehehe....

Mungkin ekspresi itu memang wajar bagi setiap orangtua baru yang memiliki bayi tapi Messer dan Holly berbeda, mereka tak pernah "menciptakan" Sophie tapi tiba-tiba harus mengasuh dan melihat sesuatu yang baru (pup) jadi reaksi mereka sungguh lucu. Toh akhirnya Messer menyerah dan memilih kabur meninggalkan Holly dan Holly, walaupun merasa jijik tapi naluri keibuannya lebih dominan dan akhirnya bersedia membersihkan Sophie.

Adegan yang bikin baper :


Cinta memang harus diungkapkan tapi mencintai tak harus saling memiliki. Ungkapan itu kurasa sangat cocok untuk Sam. Pria yang semula berada pada posisi teratas dihati Holly tapi posisi itu akhirnya digantikan oleh Messer demi kepentingan Sophie. Pasti sakit rasanya bila berada di posisi Sam, mendengar pertengkaran Holly dan Messer di depan semua tamu undangan terutama saat Messer mengungkapkan cintanya pada Holly. Seolah Sam sebagai pihak yang jahat dan merebut kebahagiaan mereka, sungguh menyakitkan menjadi pihak kedua padahal sejatinya Sam adalah cinta pertamanya Holly.


Ketika Sam ingin Holly memikirkan kembali hubungan mereka, Holly malah menangis dan mengakui bila Sam adalah orang yang disukainya tapi hal itu tak cukup karena dia harus memikirkan kepentingan Sophie sehingga Sam mengalah dan memilih meninggalkan Holly. Sedih banget saat melihat Sam mencium kening Holly dan pergi. 

Jelas terlihat ekspresi sedih dan kalah di wajah Sam. Mungkin Holly lebih pas bersama Sam karena Sam adalah dokter anak yang handal tapi yah, cinta itu bisa berubah. Mungkin Holly tak benar-benar mencintai Sam, mungkin hanya penasaran saja karena Sam selalu memesan roti yang sama setiap kali mampir ke toko milik Holly. Buktinya Holly langsung pergi setelah mendengar Sophie sakit (ketika sedang makan malam bersama Sam).

Adegan favoritku :


Ketika Holly tak sengaja menghancurkan motor Messer, Messer terlihat sangat shock melihat motor kesayangannya hancur dalam sekejap. Dia langsung lemas dan tak bertenaga seolah separuh nyawanya hilang. Holly merasa sangat bersalah tapi Messer tak bisa berbuat banyak, dia tak mungkin memarahi Holly walaupun aku yakin Messer sebenarnya ingin memaki-maki Holly karena terlalu ceroboh. Messer hanya bisa terdiam sambil duduk di trotoar sambil menatap motornya dengan tatapan nanar.

Adegan klise tapi tetap bikin penasaran : 


Rasa menyesal selalu datang belakangan, itulah yang dirasakan Holly saat menerima kunjungan Janine. Holly mengatakan bila ini pilihan terbaik (mengasuh Sophie secara bergantian) tapi saat memandang fotonya bersama Messer maka pertahanan Holly goyah juga. Dia menyusul Messer ke bandara, beberapa kendala muncul tapi Holly berhasil melaluinya tapi sayangnya Messer telah pergi. Holly sedih dan kecewa karena terlambat tapi nyatanya dia hanya selisih jalan saja. Saat Holly memutuskan ke bandara ternyata Messer memilih pulang karena dia menginginkan Holly dan Sophie bersamanya.

Adegan selisih jalan ini adalah adegan yang umum terjadi dalam film atau drama romantis tapi tetap saja adegan itu bikin baper dan penasaran. Ada yang akhirnya pasangan itu bisa bertemu tapi ada juga yang malah tak bertemu sama sekali.

Hikmah yang bisa diambil dari film ini :

Ada ungkapan yang menyebutkan bahwa "lebih mudah membuat anak daripada merawat anak". Ungkapan ini memang terdengar kasar tapi memang benar adanya. Tanpa adanya cinta tetap bisa 'membuat' anak, contohnya perkosaan yang menyebabkan kehamilan. Tapi tanpa adanya cinta dan komitmen maka 'tak mungkin' bisa merawat anak. Mungkin itulah pesan yang ingin disampaikan oleh film ini kepada penonton.

Tak ada kursus atau sekolah tentang bagaimana cara merawat anak karena hal itu bukan seperti pelajaran matematika yang bisa diselesaikan dengan rumus tertentu. Setiap anak (bayi) memiliki karakter yang berbeda sehingga setiap orangtua tidak bisa 100% meniru cara mengasuh anak dari orangtua lainnya, yang bisa mereka lakukan hanyalah saling berbagi pengalaman cara merawat anak. 

Komentarku :


Tema film ini sederhana dan cukup unik tapi sangat mengena. Temanya adalah betapa susahnya mengasuh anak (bayi) tanpa komitmen dan cinta. Uniknya adalah tokoh utama dalam film ini (Holly dan Messer) bukan pasangan yang saling mencinta apalagi pasangan yang sudah menikah. Holly dan Messer sebenarnya dua orang asing yang terpaksa bertemu gara-gara kencan buta yang dimotori oleh sahabat masing-masing (Peter dan Alison), sayangnya mereka malah bertengkar di kencan buta itu dan akhirnya jadi saling membenci. Baik Holly dan Messer terpaksa bersikap manis di depan sahabat mereka karena Peter dan Alison selalu melibatkan mereka dalam setiap acara, termasuk saat merayakan ulangtahun Sophie (anak Peter dan Alison) yang pertama.

Kebebasan Holly dan Messer langsung hilang ketika sahabat mereka meninggal dan mewariskan Sophie kepada keduanya. Awalnya mereka merasa terpaksa melakukan hal yang tak disukai demi Sophie tapi dengan berjalannya waktu, mereka mulai menyadari bila rasa benci bisa berubah menjadi cinta. Suatu hal yang semula dirasa memberatkan dan dilakukan dengan terpaksa, akhirnya berubah menjadi sesuatu yang dirindukan saat jauh.

Aku suka dengan karakter Holly dan Messer, keduanya memiliki sifat yang bertolak belakang dan suka berdebat tapi toh akhirnya mereka sadar bila sebenarnya mereka saling membutuhkan. Buktinya, Holly masih sering melamun walaupun memiliki Sam sebagai pengganti Messer. Messer yang biasanya mudah mendapatkan pasangan mendadak menjadi baper dan sering nonton acara anak saat merindukan kebersamaannya bersama Holly dan Sophie. Untungnya Holly dan Messer memiliki tetangga yang perhatian tapi tak terlalu ingin tahu masalah orang. Ketiga pasangan tetangga itu tak segan membantu dan memberi tips atau saran kepada keduanya tentang cara mengasuh balita. 

Bagiku, film ini sangat menghibur karena banyak hal yang bisa diambil hikmah setelah menontonnya. Banyak adegan lucu yang membuatku tertawa, salah satunya ya... saat Holly dan Messer pertama kali melihat pup Sophie. Wkwkwk... 

Review Film Menarik Lainnya

0 comments:

Post a Comment